Air Laut Surut Lalu Masuk Permukiman, Warga Pasimarannu Panik Mengungsi Mandiri
Oposisi Cerdas | Ratusan warga dilaporkan bergerak menuju kawasan yang lebih tinggi di Puncak Majapahit setelah merasakan dampak gempa bumi yang berpotensi tsunami.
Dalam sejumlah video yang beredar di media sosial, warga terlihat berlarian meninggalkan kawasan permukiman menuju tempat yang lebih tinggi. Kepanikan terjadi setelah warga melihat perubahan kondisi air di sekitar pulau.
Warga panik karena air laut naik hingga mendekati atau masuk ke area rumah. Di sisi lain, sejumlah wilayah di Pulau lain seperti Kalaotoa, Jampea, dan Bonerate juga mengalami kondisi air laut yang surut.
Situasi tersebut membuat warga memilih melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih tinggi.
Kepanikan itu terjadi setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Sabtu sekitar pukul 04.58 WIB.
Berdasarkan informasi resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut memiliki kedalaman 15 kilometer dan berstatus berpotensi tsunami.
BMKG kemudian mengeluarkan peringatan dini tsunami dan meminta pemerintah daerah di wilayah yang berpotensi terdampak segera mengarahkan masyarakat untuk menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi.
Sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan masuk dalam daftar daerah yang perlu siaga, termasuk Kepulauan Selayar.
Selain Selayar, wilayah Bantaeng dan Jeneponto juga menjadi perhatian dalam peringatan tersebut. Ancaman serupa turut mencakup sejumlah wilayah di Sulawesi Tenggara, termasuk Kolaka dan Baubau.
Warga Berlari ke Tempat Tinggi
Di Pasimarannu, informasi mengenai potensi tsunami membuat warga tidak menunggu terlalu lama.
Mereka bergerak menuju Puncak Majapahit yang menjadi salah satu kawasan lebih tinggi untuk menyelamatkan diri.
Video yang beredar memperlihatkan warga berlarian dalam suasana panik. Sebagian membawa barang seadanya, sementara warga lainnya terlihat berusaha mengajak keluarga mereka segera meninggalkan kawasan pesisir.
Kondisi perubahan muka air laut turut menambah kekhawatiran warga. Namun, perubahan air laut setelah gempa tidak serta-merta dapat dipastikan sebagai gelombang tsunami sebelum ada konfirmasi dari otoritas terkait.
Karena itu, masyarakat di wilayah pesisir tetap diminta mengikuti informasi resmi BMKG dan arahan pemerintah setempat.
BMKG sendiri meminta pemerintah daerah yang berada di wilayah berpotensi terdampak untuk segera mengarahkan masyarakat melakukan evakuasi.
Peringatan tersebut menjadi penting karena tsunami dapat tiba dalam waktu relatif singkat setelah gempa kuat terjadi. Masyarakat di kawasan pesisir diminta tidak kembali ke rumah atau mendekati pantai hanya karena kondisi laut sementara terlihat kembali normal.
Gelombang Terdeteksi di Sejumlah Wilayah
Sementara itu, pemutakhiran informasi BMKG menunjukkan adanya gelombang tsunami yang terdeteksi di sejumlah wilayah setelah gempa M7,7 tersebut.
BMKG mencatat antara lain gelombang di Maurole, Ende, dengan ketinggian 0,94 meter. Gelombang juga terdeteksi di Labuan Bajo sebesar 0,36 meter, Pelabuhan Kewapante-Sikka 0,38 meter, serta beberapa lokasi lainnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya dirasakan di sekitar episentrum.
Gempa yang terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur tersebut juga memicu kewaspadaan di sejumlah daerah lain yang berada di kawasan perairan selatan Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan.
Hingga Sabtu pagi, warga di wilayah yang masuk dalam kawasan peringatan diminta tetap waspada dan mengikuti perkembangan informasi resmi.
Prioritas utama saat peringatan tsunami adalah menjauh dari pantai dan mencari tempat yang lebih tinggi.
Di Pulau Pasimarannu, ratusan warga yang telah bergerak menuju Puncak Majapahit menjadi gambaran kepanikan masyarakat menghadapi ancaman tersebut.
Sumber: suara
Foto: Kepanikan warga di Pelabuhan Laurentius Say, Maumere, Kabupaten Sikka saat gempa NTT. [Suara.com/istimewa]
Air Laut Surut Lalu Masuk Permukiman, Warga Pasimarannu Panik Mengungsi Mandiri
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
