Istri Ayatollah Ali Khamenei Juga Gugur Sehari Setelah Sang Suami, Dibom Israel-AS
Gelombang duka kembali menyelimuti Republik Islam Iran. Hanya berselang sehari setelah pengumuman wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, sang istri, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, dilaporkan gugur pada Senin (2/3/2026).
Kepergian Bagherzadeh menambah daftar panjang korban dalam insiden yang mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah tersebut.
Media Pemerintah Iran, Press TV, secara resmi melaporkan Bagherzadeh mengembuskan napas terakhirnya akibat luka-luka fatal yang dideritanya.
Luka tersebut merupakan dampak langsung dari serangan gabungan yang dilancarkan oleh kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel di jantung kota Teheran pada akhir Februari lalu.
Dalam laporannya, Press TV menyebutkan bahwa istri Imam Khamenei tersebut telah "mencapai kesyahidan".
Kronologi Syahidnya Pemimpin Tertinggi Iran
Berita kematian Bagherzadeh menyusul pengumuman tragis yang dirilis sehari sebelumnya.
Pada Minggu (1/3/2026), otoritas Iran mengonfirmasi bahwa Ayatollah Ali Khamenei telah lebih dulu wafat dalam serangan yang sama.
Meskipun detail mengenai detik-detik terakhirnya masih terbatas, laporan resmi menyebutkan bahwa Imam Khamenei terbunuh pada Sabtu (28/2/2026) pagi di kantornya.
Hingga saat ini, kantor berita pemerintah seperti Tasnim dan Fars bersikap sangat tertutup mengenai rincian teknis serangan tersebut.
Dalam pernyataan singkatnya, mereka hanya menyatakan bahwa Imam Khamenei meninggal di kantornya saat menjalankan tugas yang diemban kepadanya.
Ketertutupan ini diduga kuat berkaitan dengan faktor keamanan nasional dan protokol darurat yang sedang diberlakukan di seluruh negeri.
Kepergian mendadak dua sosok sentral dalam struktur sosial dan politik Iran ini memicu reaksi emosional yang masif di berbagai kota besar di Indonesia dan dunia.
Media-media internasional terus menyoroti eskalasi konflik yang melibatkan jet tempur canggih dan sistem pertahanan udara di langit Teheran.
Bukti Citra Satelit: Kehancuran Total di Beit-e Rahbari
Seberapa masif serangan yang terjadi mulai terungkap melalui data intelijen visual.
Dikutip dari New York Times, citra satelit dari Airbus Defence and Space memperlihatkan kondisi yang sangat memprihatinkan di lokasi kejadian.
Kompleks Beit-e Rahbari, yang selama ini menjadi simbol kekuatan dan pusat komando tertinggi Iran, kini tampak hancur total seusai serangan Israel dan Amerika Serikat, Sabtu (28/2/2026).
Beit-e Rahbari selama ini dikenal tidak hanya sebagai tempat tinggal sang pemimpin tertinggi, tetapi juga lokasi strategis untuk menjamu pejabat-pejabat senior Iran.
Pentingnya lokasi ini menjadikannya target utama dalam operasi militer tersebut. Berdasarkan foto udara tersebut, struktur bangunan yang menjadi kediaman langsung Imam Khamenei beserta perimeter keamanan di sekitarnya tampak telah rata dengan tanah.
Kehancuran infrastruktur ini menandakan kekuatan ledakan yang sangat besar, yang menjelaskan mengapa korban jiwa tidak dapat dihindari meskipun kompleks tersebut memiliki sistem perlindungan yang sangat ketat.
Bagi para pengamat militer, serangan ini dianggap sebagai salah satu operasi paling berani dan mematikan yang pernah dilakukan di wilayah kedaulatan Iran.
Masa Berkabung Nasional dan Dampak Domestik
Menanggapi tragedi nasional ini, pemerintah Iran segera mengambil langkah luar biasa. Menyusul gugurnya Ali Khamenei, Iran mendeklarasikan 40 hari masa berkabung dan tujuh hari hari libur nasional.
Seluruh aktivitas perkantoran, ekonomi, dan pendidikan dihentikan sementara sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada sang pemimpin dan keluarganya.
Bagi penduduk Iran, masa 40 hari (Arba'een) memiliki makna spiritual yang sangat mendalam.
Jalan-jalan di Teheran dan kota-kota besar lainnya dilaporkan dipenuhi oleh massa yang berkabung, sementara bendera hitam dikibarkan di setiap sudut bangunan pemerintah.
Kepergian Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh yang menyusul suaminya dalam waktu singkat kian memperdalam luka bagi para pendukung revolusi.
Bagherzadeh dikenal sebagai sosok yang setia mendampingi Khamenei sejak masa-masa sulit sebelum Revolusi Islam 1979 hingga beliau menjadi pemimpin tertinggi.
Situasi di Teheran saat ini dilaporkan masih dalam status siaga satu. Garda Revolusi Iran (IRGC) terus melakukan konsolidasi internal untuk menentukan langkah selanjutnya dalam menghadapi eskalasi dengan Amerika Serikat dan Israel.
Sumber: suara
Foto: Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh/Net
Istri Ayatollah Ali Khamenei Juga Gugur Sehari Setelah Sang Suami, Dibom Israel-AS
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:

Tidak ada komentar