Garda Revolusi Iran Siapkan Senjata Dahsyat yang Belum Pernah Digunakan Sebelumnya
Fars News Agency mengutip seorang pejabat Garda Revolusi Iran yang mengatakanproses pembuatan sistem rudal telah dimulai setahun yang lalu dan masih berlanjut hingga saat ini. Rudal yang digunakan hingga saat ini adalah rudal generasi baru yang jarang digunakan.
Juru bicara Garda Revolusi Iran, Brigjen Ali Naeini, mengumumkan inovasi dan senjata baru telah mulai digunakan untuk menghadapi serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.
Naeini menambahkan, Angkatan Bersenjata Iran siap untuk berperang dalam waktu lama untuk menghukum penyerang.
"Inisiatif militer dan senjata baru yang dimiliki Iran sedang dalam proses," sambil menambahkan bahwa senjata-senjata tersebut belum digunakan secara luas, dikutip Aljazeera, Sabtu (7/3/2026).
Garda Revolusi Iran mengatakan bahwa dalam beberapa hari mendatang diharapkan akan diterapkan metode baru "Khaybar" 4 serangan terhadap musuh.
Mereka telah meluncurkan sejumlah besar rudal "Khoramshahr" dari operasi 22 dan "Fath" ke arah wilayah yang diduduki secara berkala dengan gelombang berbeda.
Sebanyak 22 situs-situs Amerika dan Israel menjadi sasaran balasan lapangan. Garda Revolusi menyatakan gelombang korban tewas terjadi di sekolah Minab yang menewaskan puluhan anak-anak, dengan mengacu pada penggunaan rudal dengan hulu ledak seberat 2,4 ton.
Garda Revolusi menegaskan bahwa pangkalan-pangkalan Amerika di negara-negara Teluk, Bandara Ben Gurion, Haifa, dan Tel Aviv terkena serangan.
Bagian media Garda Revolusi mengumumkan pertahanan udara milik angkatan udara berhasil mendeteksi dan menghancurkan pesawat tak berawak Israel tipe "Haron" kedua, setelah pesawat tersebut mencoba menyerang beberapa titik di kota Isfahan.
Sementara itu, Mohammad Mokhber, asisten senior almarhum Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, menegaskan negaranya tidak berniat melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat.
"Kami dapat melanjutkan perang kapan pun kami mau,” kata dia dilansir televisi Iran pada Rabu (4/3/2026). "Kami sama sekali tidak mempercayai Amerika Serikat," kata dia.
Dia menyebut Amerika tidak bermaksud untuk menduduki Iran, melainkan untuk memecah belah negara itu, dan telah berupaya melakukannya sejak dimulainya revolusi Iran pada 1979.
"Kami dapat memperpanjang perang selama yang kami anggap perlu, karena kami telah bertindak dengan cara yang sama selama perang Irak yang berlangsung selama delapan tahun," dikutip Aljazeera, Rabu (4/3/2026).
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Presiden AS Donald Trump telah mengkhianati diplomasi dan rakyat Amerika yang memilihnya.
Araqchi menulis dalam sebuah postingan di platform X pada Rabu, "Ketika negosiasi nuklir yang rumit diperlakukan seperti transaksi riil estate, dan ketika fakta-fakta disembunyikan dengan kebohongan besar, mustahil untuk mencapai harapan yang tidak realistis."
Menteri Iran itu menyimpulkan dalam postingannya bahwa hasilnya adalah meledakkan meja perundingan karena kebencian, menurutnya.
Sumber: republika
Foto: Personel layanan darurat memeriksa kerusakan di lokasi sebuah bangunan yang terkena rudal Iran di Tel Aviv, Israel, 1 Maret 2026/Foto: EPA/ABIR SULTAN
Garda Revolusi Iran Siapkan Senjata Dahsyat yang Belum Pernah Digunakan Sebelumnya
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:

Tidak ada komentar