Mural Sarkas Satu per Satu Hilang, Ekspresi Direpresi, Muralis Bandung Beri Tanggapan
Coretan dinding (mural) yang bernada satire atau bahkan kritik keras terhadap pemerintah, seharusnya disikapi sebagai bahan introspeksi oleh pemerintah.
Terlepas dari elemen vandalisme karena dilakukan di ruang publik secara sembunyi-sembunyi, mural atau grafiti yang dicoretkan sebagai sarkasme utamanya berangkat dari sebuah kegelisahan, protes, dan kemarahan masyarakat.
Seniman yang juga merupakan dosen di salah satu perguruan tinggi di Kota Bandung, Mufti Priyanka, mengatakan bahwa dari sisi esensi, mural adalah salah satu bentuk seni jalanan (street art) yang berbentuk gambar atau tulisan di dinding.
Tak semua mural bernada satire atau bahkan sarkas. Ada pula yang bernilai estetis.
"Intinya mural itu adalah ekspresi. Kalau memang yang diekspresikan adalah kemarahan, mungkin memang itu yang sedang dirasakan masyarakat, kenapa pemerintah harus baper dan antikritik dengan bertindak reaktif?" tuturnya, Rabu, 1 September 2021.
Pria yang sering disapa dengan sebutan Amenk ini mengatakan, mural maupun grafiti yang mengarah kepada vandalisme ada dan lahir berdampingan dengan masyarakat biasa.
Kedua jenis street art ini dijadikan medium untuk menyuarakan kritik, pikiran, dan pendapat bahkan sejak masa sebelum kemerdekaan Indonesia.
Curahan hati berupa kemarahan, atau bahkan kritik terhadap kinerja pemerintah saat ini tak hanya dirasakan oleh segelintir orang. Akan tetapi, banyak orang yang kemudian mengekspresikan dalam medium-medium yang lain.
"Jadi kalau ada yang mengekspresikan atau mengartikulasikan keresahan dengan membuat coretan di dinding atau fasilitas publik, kenapa pemerintah harus setakut itu? Mural seperti ini toh sebenarnya sudah ada sejak lama," ujarnya.
Tindakan reaktif yang dilakukan pemerintah terhadap pembuat coretan bernada sarkas disebutkan Amenk justru akan melahirkan kemarahan susulan dari masyarakat lain yang lebih luas.
Dengan kata lain, aksi vandalisme semacam ini akan semakin liar dilakukan, ketika pemerintah tidak menangkap esensi dari apa yang disuarakan.
Tindakan reaktif hingga represif yang dilakukan pemerintah juga akan membuat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah semakin luntur. Terutama, di kalangan anak-anak muda.
"Daripada ekspresi direpresi, lebih baik diakomodir dengan dibuatkan jembatan komunikasi, caranya bisa lewat apa pun," ujarnya.
Tak diwadahi
Wali Kota Mural Bandung Alga Indria menyebutkan, pada dasarnya mural maupun grafiti merupakan bentuk ekspresi seniman seperti halnya musik, film, tulisan.
Karakter dari karya tersebut bermacam-macam, mulai dari yang memperhatikan sisi estetika, hingga karya-karya yang menyuarakan ketidakadilan dan kemarahan.
"Kalau street art yang sekarang ini ramai, lebih kuat soal unsur politiknya. Ada politik perlawanan dari masyarakat. Isinya tentang gugatan terhadap sebuah kekuasaan. Sekarang ramai dibahas karena sikap pemerintah yang begitu reaktif," ucap Alga.
Sikap pemerintah untuk reaktif menghapusnya, atau bahkan menangkap orang yang terlibat dianggap Alga sama sekali tidak tepat. Apalagi, rekam jejak digital tetap ada dan menyebar meski mural di tempat aslinya sudah dihapus atau dihilangkan. Dalam artian, meski sudah dihapus, kritik akan jalan terus.
Aktivis Komunitas Mural Jawa Barat yang juga merupakan vokalis The Panas Dalam dan Direktur Kreatif Kultura Studio ini mempertanyakan, mengapa hanya mural bermuatan keresahan politik saja yang dipermasalahkan?
"Mural dan grafiti yang lain juga banyak di sudut-sudut kota. Banyak juga yang justru memperindah kota. Kenapa tidak diwadahi?" ujarnya.
Dia menyebutkan, karya-karya lain memiliki wadah (market place) masing-masing.
"Sedangkan para pemural, di mana medianya? Mungkin memang harus ada kawasan tertentu yang dipersilakan untuk para muralis menyuarakan ekspresinya." kata Alga.***
Source: Silahkan Klik Link Ini
Diterbikan: oposisicerdas.com
Foto: Foto Mural Viral 504 Error dengan wajah Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin di Tangerang yang Viral pada Agustus 2021 /Twitter.com/@AchmadAnnama
Mural Sarkas Satu per Satu Hilang, Ekspresi Direpresi, Muralis Bandung Beri Tanggapan
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
