Adsterra

Breaking News

Impor Gula Dibuka, APTRI : Ini Sama Saja Membunuh Petani Tebu


Kementerian Perdagangan (Kemendag) menerbitkan surat persetujuan impor (SPI) gula kristal mentah (GKM) yang akan diolah menjadi gula konsumsi kepada beberapa pabrik gula.  Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menilai ini sama saja membunuh petani secara perlahan-lahan.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Aptri Soemitro Samadikun mengungkapkan, Menteri Perdagangan (Mendag) dalam mengelola impor gula ini tidak cakap. “Terbukti ketika harga gula masih mahal, SPI GKM turun lagi dan  ini lucu karena seminggu lagi kita mau tebang, seminggu ke depan lelang gula,” kata dia kepada Indonesiainside.id, Selasa (26/5).

Soemitro menambahkan, Mendag keliru panen tebu baru dimulai bulan Juni 2020, padahal pada 30-31 Mei petani sudah melakukan tebang tebu. Kemudian masuk giling di pabrik mulai 1 Juni dan sudah ada yang menjadi gula. “Namun lelang gula dilakukan seminggu berikutnya. Minggu pertama Juni dipastikan sudah ada yang lelang untuk mengejar harga gula yang masih bagus,” ungkap dia.

Menurut dia, selama ini petani tebu tidak pernah diajak bicara soal kebijkan gula dan lebih suka mendengarkan pedagang dan konsumen. “Petani protes karena ini menyangkut keberlangsungan industri gula dalam negeri,” ujar dia.

Apabila gula impor masuk bulan depan, kata dia, ini sama saja mau membunuh petani tebu. Bangsa  Indonesia bunuh diri dengan mebuka keran impor gula karena dapat mematikan industri gula berbasis tebu atau ibaratnya Industri gula lokal dibunuh pelan-pelan,” jelas Soemitro.

Dia menegaskan kembali gula impor masuk pasar ini akan mendorong percepatan atas terbunuhnya industri gula berbasis tebu ini. “Padahal pemerintah menargetkan swasembada gulaTarget swsasembada gula, namun kenyataannya industri gula semakin hancur,” tandas dia.

Soemitro mengatakan, pabrik gula yang masih beroperasi saat ini kondisinya juga memprihatinkan karena tidak lagi efisien. “Banyak pabrik gula tutup karena idelanya giling tebu 180 hari, namun saat ini dibawah itu 80 hari hingga 100 hari dan ini tidak menguntungkan pabrik,” kata dia.

Kemudian rendemen gula nasional rata-rata sekitar 7 persen karena sebagian besar pabrik gula di Indonesia sudah tua. “Indonesia kalah jauh oleh negara Thailand yang rendemen gulanya mencapai 12-14 persen,” ujar Soemitro.

Dia mengungkapkan, produksi gula dalam negeri terus menurun lantaran menyusutnya areal tanaman tebu. Prospek tebu sudah tak lagi menjanjikan, akibatnya petani beralih menanam padi dan tembakau karena lebih menguntungkan.

Soemitro memperkirakan, saat ini luas areal tebu nasional mencapai 430.000 hektar (ha) dan produksi sekitar 2 juta ton. Sedangkan rata-rata produktivitas tebu tidak sampai 5 ton per ha.

Sementara itu, pada saat panen petani tidak boleh mejual gula di atas  harga eceran tertinggi (HET) Rp12.500 per kilogram (kg). “Tahun lalu harga jual gula di tingkat petani sebesar Rp10.250 per kg. Juni mendatang harga gula diperkirakan jatuh karena banjirnyaa gula impor di pasar,” ungkap Soemitro.

Partner Sindikasi Konten: indonesiainside
Diterbitkan: oposisicerdas.com
Editor: Windha Pramitasari
Foto: Petani Tebu/Net
Impor Gula Dibuka, APTRI : Ini Sama Saja Membunuh Petani Tebu Impor Gula Dibuka, APTRI : Ini Sama Saja Membunuh Petani Tebu Reviewed by Admin on Rating: 5