Adsterra

Breaking News

Ratusan Siswa Diguga Keracunan MBG, Mitra SPPG Tanah Toraja Malah Salahkan Siswa 'Kalau Tahu Bau Kenapa Dimakan?'


Oposisi Cerdas | Nama Louice Cristiana Mangontan atau yang akrab disapa Lusi mendadak menjadi perhatian publik setelah pernyataannya dalam rapat dengar pendapat (RDP) DPRD Tana Toraja mengenai kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) viral di media sosial.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam RDP DPRD Tana Toraja pada Jumat, 4 September 2026.

Rapat itu digelar setelah puluhan hingga ratusan siswa dan guru dari SMPN 1 Makale dan SMPN 2 Makale mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Dalam forum tersebut, Lusi hadir sebagai pihak yang mewakili Yayasan Magnolia Champaca Virginiana, yang menjadi mitra SPPG Makale Batupapan 1.

SPPG tersebut merupakan salah satu penyedia makanan MBG bagi penerima manfaat di wilayah Makale.

Data yang dikutip sejumlah media mencatat SPPG Makale Batupapan memiliki ID 4RITBSGT dan berlokasi di kawasan Batu Papan, Makale, Tana Toraja.

Pernyataan Lusi Jadi Sorotan

Dalam RDP, pihak yayasan dimintai penjelasan mengenai proses penyediaan dan pendistribusian makanan MBG setelah muncul dugaan keracunan yang dialami siswa dan guru.

Lusi menyampaikan bahwa pihaknya tidak bermaksud melepaskan tanggung jawab.

Ia mengklaim proses penyediaan makanan telah dilakukan berdasarkan prosedur yang berlaku.

“Kami tidak bermaksud untuk membela diri sama sekali tapi saya menyampaikan tanggung jawab ini dengan kapasitas kami sebagai mitra bersama-sama dengan 3 orang BGN ya, termasuk dari yayasan kami melakukan SOP penentuan standar bahkan sudah berdiskusi dengan kepala SPPG,” kata Lusi dalam RDP.

Ia juga menjelaskan bahwa pihaknya melakukan pendataan terhadap siswa yang memiliki alergi makanan tertentu sebagai bagian dari upaya meminimalkan risiko.

“Kami mendata semua sekolah, siswa-siswa yang memiliki alergi terhadap makanan-makanan tertentu,” ujarnya.

Namun, pernyataan Lusi mengenai makanan yang disebut sudah berbau kemudian menjadi bagian yang paling ramai diperbincangkan.

Dalam forum tersebut, ia mempertanyakan mengapa makanan tetap dikonsumsi apabila sebelumnya sudah diketahui memiliki bau yang dianggap tidak normal.

“Kalau sudah tahu bau, kenapa dimakan?” ujar Lusi.

Potongan video pernyataan tersebut kemudian menyebar di media sosial dan memunculkan kritik dari warganet.

Sejumlah pemberitaan bahkan menyoroti pernyataan tersebut dengan angle bahwa pihak mitra SPPG dinilai menyalahkan siswa dan guru yang menjadi penerima manfaat.

173 Siswa dan Guru Diduga Terdampak

Kasus yang menjadi latar belakang RDP tersebut terjadi setelah siswa dan guru SMPN 1 Makale serta SMPN 2 Makale mengalami keluhan kesehatan pada Kamis, 3 September 2026.

Berdasarkan data Satgas MBG Tana Toraja hingga Jumat, 4 September 2026 pukul 20.30 WITA, jumlah siswa dan guru yang diduga mengalami gangguan kesehatan mencapai 173 orang.

Mereka dilaporkan mengalami sejumlah keluhan, antara lain mual, muntah, pusing hingga diare.

Para korban mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan.

Data tersebut kemudian menjadi salah satu persoalan utama yang dibahas dalam RDP DPRD Tana Toraja.

DPRD juga meminta adanya pemeriksaan terhadap sampel makanan serta sampel lain yang berkaitan dengan kejadian tersebut untuk mengetahui penyebab gangguan kesehatan.

SPPG Diminta Bertanggung Jawab

RDP DPRD Tana Toraja juga menghasilkan sejumlah rekomendasi terkait penanganan para siswa dan guru yang terdampak.

DPRD meminta biaya pengobatan atau kebutuhan korban yang tidak ditanggung BPJS agar tidak dibebankan kepada korban.

Wakil Ketua II DPRD Tana Toraja Evivana Rombe Datu menyebut KPPG, BGN, dan SPPG terkait perlu bertanggung jawab terhadap kebutuhan tersebut.

DPRD juga mendorong pemeriksaan sampel makanan, muntahan, kotoran, serta air di laboratorium guna mempercepat pengungkapan penyebab kejadian.

Dengan demikian, hingga tahap ini, belum tepat menyimpulkan bahwa makanan MBG dari SPPG tersebut terbukti menjadi penyebab tunggal gangguan kesehatan. Pemeriksaan laboratorium menjadi bagian penting untuk memastikan hal tersebut.

Jejak SPPG Sebelum Kasus Viral

Nama Yayasan Magnolia Champaca Virginiana juga menarik perhatian karena SPPG Makale Batupapan sebelumnya pernah masuk dalam daftar SPPG yang mendapat penghentian sementara.

Pada April 2026, terdapat 136 SPPG di Sulawesi Selatan yang dihentikan sementara.

Penghentian tersebut berkaitan dengan pemenuhan sejumlah persyaratan operasional. Status tersebut dapat dicabut setelah persyaratan yang diminta dipenuhi.

Sejumlah sumber kemudian mencantumkan SPPG Makale Batupapan dalam daftar tersebut dan mengaitkannya dengan Yayasan Magnolia Champaca Virginiana.

Namun, fakta tersebut perlu ditempatkan secara proporsional.

Penghentian sementara pada April tidak otomatis membuktikan bahwa yayasan atau SPPG tersebut melakukan pelanggaran yang menyebabkan kasus dugaan keracunan pada September.

Keduanya merupakan peristiwa berbeda dan harus dibuktikan berdasarkan pemeriksaan masing-masing.

SPPG Makale Batupapan Kembali Disuspend

Perkembangan terbaru juga menunjukkan bahwa SPPG Makale Batupapan 1 kembali mendapat sanksi penghentian sementara (suspend) setelah insiden dugaan keracunan yang melibatkan siswa dan guru SMPN 1 Makale serta SMPN 2 Makale.

Informasi mengenai penghentian sementara tersebut disampaikan Kepala KPPG Kendari Mulyadi pada Jumat, 4 September 2026.

Penghentian ini dilakukan dalam konteks penanganan kasus dan evaluasi, sehingga tidak dapat disamakan dengan kesimpulan bahwa pihak yayasan telah terbukti bersalah.

Di sisi lain, sejumlah pihak mulai mendesak BGN melakukan evaluasi terhadap kemitraan dengan yayasan yang menaungi SPPG tersebut.

Salah satunya datang dari Pengurus Pusat GMKI yang meminta BGN mengevaluasi bahkan mencabut kemitraan tersebut. Permintaan itu merupakan desakan organisasi, bukan keputusan hukum atau keputusan final BGN.

Siapa Sebenarnya Louice Cristiana Mangontan?

Dari informasi yang telah terverifikasi sejauh ini, Lusi diketahui merupakan pihak yang mewakili Yayasan Magnolia Champaca Virginiana, mitra SPPG Makale Batupapan 1.

Namanya kemudian menjadi viral bukan karena adanya putusan hukum atau penetapan sebagai tersangka, melainkan karena pernyataannya dalam forum resmi DPRD Tana Toraja ketika membahas kasus dugaan gangguan kesehatan akibat MBG.

Dengan kata lain, sorotan terhadap Lusi saat ini berkaitan dengan posisinya sebagai pihak mitra SPPG dan pernyataannya dalam RDP, sementara penyebab pasti kejadian dugaan keracunan masih harus menunggu hasil pemeriksaan.

Sumber: pojoksatu
Foto: Louice Cristiana Mangontan dalam RDP DPRD Tana Toraja terkait dugaan keracunan MBG

Ratusan Siswa Diguga Keracunan MBG, Mitra SPPG Tanah Toraja Malah Salahkan Siswa 'Kalau Tahu Bau Kenapa Dimakan?' Ratusan Siswa Diguga Keracunan MBG, Mitra SPPG Tanah Toraja Malah Salahkan Siswa 'Kalau Tahu Bau Kenapa Dimakan?' Reviewed by Admin Oposisi on Rating: 5