Kawah Gunung Anak Krakatau Terlihat Seperti Telur Ceplok, Apa Penyebabnya?
Oposisi Cerdas | Kawah Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah muncul penampakan tidak biasa pascaaktivitas erupsi yang terjadi pada awal September 2026.
Melalui rekaman yang beredar, area kawah tampak memperlihatkan kombinasi warna yang sekilas menyerupai telur ceplok.
Pada bagian tertentu terlihat genangan berwarna kebiruan, sedangkan area di tengahnya menunjukkan warna kekuningan.
Tampilan tersebut kemudian menjadi sorotan lantaran pola warna yang terbentuk cukup mirip dengan bentuk telur ceplok yang dikenal masyarakat.
Meski terlihat unik, kemunculan pola tersebut bukan disebabkan oleh benda asing ataupun fenomena misterius.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Suwarno, menyebut kondisi itu berkaitan dengan proses alami yang berlangsung di kawasan kawah.
Suwarno menjelaskan, bagian yang tampak seperti telur ceplok berasal dari genangan air yang mengalami kontaminasi akibat keberadaan gas belerang.
Perubahan warna pada genangan juga dapat dipengaruhi oleh material yang berasal dari dinding kawah.
Interaksi berbagai unsur vulkanik tersebut kemudian membuat permukaan genangan menampilkan warna yang berbeda.
Penampakan semacam ini berkaitan dengan kondisi lingkungan vulkanik di kawasan Gunung Anak Krakatau.
Dengan demikian, istilah “telur ceplok” lebih menggambarkan bentuk visual yang terlihat pada kawah dan bukan merupakan istilah ilmiah untuk suatu fenomena khusus.
Di sisi lain, kondisi tersebut tidak menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau telah berhenti.
Aktivitas gunung api tersebut masih terus menjadi perhatian dan dipantau oleh pihak berwenang.
Berdasarkan catatan Badan Geologi, Gunung Anak Krakatau sempat mengalami erupsi menerus yang berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Episode erupsi tersebut berlangsung selama kurang lebih 25 jam.
Setelah periode erupsi menerus itu selesai, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau kemudian berlanjut dalam bentuk erupsi Strombolian.
Badan Geologi masih melakukan pemantauan terhadap perubahan aktivitas Gunung Anak Krakatau untuk mengetahui perkembangan kondisi vulkaniknya.
Hingga saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
Masyarakat dan wisatawan juga diminta tidak mendekati kawasan gunung api dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.
Potensi bahaya akibat aktivitas vulkanik tetap perlu diperhatikan.
Badan Geologi mengingatkan adanya kemungkinan lontaran batu pijar, hujan abu dengan intensitas lebat, awan panas, hingga aliran lava apabila terjadi kembali erupsi menerus.
Karena itu, kemunculan pola menyerupai telur ceplok di kawah tidak dapat diartikan sebagai tanda bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau telah selesai.
Masyarakat di sekitar Selat Sunda diimbau tetap memperhatikan perkembangan informasi dari Badan Geologi, PVMBG, dan pemerintah daerah serta mengikuti setiap rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau.***
Sumber: pojoksatu
Foto: Fenomena telur ceplok di Gunung Anak Krakatau
Kawah Gunung Anak Krakatau Terlihat Seperti Telur Ceplok, Apa Penyebabnya?
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
