Adsterra

Breaking News

Erupsi Anak Krakatau Diduga Tembus Lapisan Tropopause, Pakar BRIN Ungkap Dampak Iklimnya


Oposisi Cerdas | Skala erupsi Gunung Anak Krakatau yang baru-baru ini terjadi dinilai sangat masif dan memiliki dampak yang melampaui sekadar gangguan lokal.

Analisis terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa kekuatan letusan gunung api di Selat Sunda ini mampu melontarkan material vulkanik hingga ketinggian yang ekstrem, melampaui batas atmosfer bawah bumi.

Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, membeberkan analisis terkait aktivitas erupsi eksplosif Gunung Api Anak Krakatau yang memicu sebaran abu vulkanik masif.

Berdasarkan data satelit, erupsi ini bukan sekadar letusan biasa, melainkan sebuah fenomena atmosferik yang signifikan.

Sebagai informasi, letusan Gunung Api Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat (4/9) malam pukul 23:07 WIB hingga Sabtu (5/9) pagi pukul 04:40 WIB.

Aktivitas ini terjadi setelah peningkatan status gunung tersebut yang kembali aktif sejak Juli 2026.

Durasi erupsi yang panjang ini memberikan energi yang cukup besar untuk mendorong kolom abu ke lapisan langit yang lebih tinggi.

Dalam unggahan di akun X pribadinya, Erma membeberkan pantauan citra satelit yang menunjukkan material letusan Gunung Api Anak Krakatau membentuk kolom awan tebal yang bergerak ke arah barat dengan bentangan mencapai 851 kilometer, mencakup wilayah hingga Pulau Enggano. Jangkauan ini menunjukkan betapa besarnya volume material yang dilepaskan ke udara.

Besarnya volume material yang terpantau jelas secara visual menandakan skala letusan yang sangat signifikan.

Hal yang paling menarik perhatian para peneliti adalah ketinggian kolom letusan yang mencapai angka belasan kilometer dari permukaan laut.

Simulasi atmosfer menunjukkan bahwa erupsi ini melontarkan kolom letusan yang sangat tinggi, dengan estimasi mencapai 13 hingga 14 kilometer.

Ketinggian tersebut bahkan menyentuh lapisan tropopause, batas atas troposfer yang memungkinkan material vulkanik tersebar luas ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.

Ketika material vulkanik berhasil menembus tropopause, abu dan gas sulfur tidak lagi hanya berinteraksi dengan cuaca harian, tetapi masuk ke lapisan stratosfer.

Di lapisan ini, partikel dapat bertahan lebih lama dan menyebar secara global, yang pada gilirannya dapat memengaruhi kondisi iklim dalam skala yang lebih luas.

Menurut Erma, meskipun sebaran utama saat ini didominasi ke arah barat, dinamika cuaca lokal tetap patut diwaspadai.

Pada waktu-waktu tertentu, kombinasi tekanan rendah di Banten serta hembusan angin laut yang kuat berpotensi menarik sebaran awan piroklastik ini mengarah ke wilayah Serang, Banten, dan sekitarnya.

Hal ini menjadi ancaman serius bagi kualitas udara di kota-kota besar di sekitar Selat Sunda.

Imbas erupsi ini, Bandara Soekarno-Hatta juga ditutup hingga pukul 09:30 WIB yang berdampak pada 22.798 penumpang.

Penutupan ini dilakukan demi keselamatan penerbangan, karena debu vulkanik yang sangat halus dapat menyebabkan mesin pesawat mati mendadak jika terhisap ke dalam turbin.

Di balik gangguan operasional penerbangan dan kualitas udara yang ditimbulkannya, erupsi ini turut membawa dampak alami bagi iklim global:

Pemicu Kondensasi Hujan: Awan abu panas yang mengandung sulfur oksida dan membentuk awan pyrocumulus dapat bertindak sebagai aerosol serta inti kondensasi awan.

Jika didukung oleh suplai uap air yang memadai dari Samudra Hindia (kondisi tidak terjadi IOD positif), fenomena ini berpotensi memicu terjadinya hujan.

Penyejuk Suhu Atmosfer: Pelepasan sulfur dalam jumlah masif ke atmosfer secara alami berfungsi mendinginkan temperatur global.

Partisikel aerosol sulfur ini mampu memantulkan kembali radiasi matahari ke ruang angkasa, sehingga berperan dalam meredam laju pemanasan global (global warming).

Fenomena ini sering disebut sebagai efek "tabir surya" alami yang dihasilkan oleh letusan gunung berapi skala besar.

Sumber: suara
Foto: Pantauan Gunung Anak Krakatau alami erupsi di Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Pasauran, Anyer, Kabupaten Serang, pada Sabtu malam. (ANTARA/Desi Purnama Sari)

Erupsi Anak Krakatau Diduga Tembus Lapisan Tropopause, Pakar BRIN Ungkap Dampak Iklimnya Erupsi Anak Krakatau Diduga Tembus Lapisan Tropopause, Pakar BRIN Ungkap Dampak Iklimnya Reviewed by Admin Oposisi on Rating: 5