Anas Sentil Gaya Purbaya Soal Utang Whoosh: Beban Rakyat Bukan Bahan Guyonan
Oposisi Cerdas | Polemik utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh kembali menjadi sorotan. Kali ini, politikus senior Anas Urbaningrum mengkritisi cara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan skema pelunasan utang proyek tersebut.
Anas menilai persoalan utang Whoosh bukan perkara ringan yang pantas disampaikan dengan gaya bercanda. Sebab, utang tersebut pada akhirnya menjadi beban yang harus ditanggung negara dan dipikul masyarakat.
“Soal utang yang harus ditanggung negara, dipikul rakyat, sama sekali tidak bisa dianggap enteng,” kata Anas melalui akun X pribadinya, dikutip Jumat (11/9/2026).
Menurut Anas, pertanyaan publik mengenai bagaimana negara menyelesaikan kewajiban utang Whoosh semestinya dijawab secara serius dan terukur. Ia menilai penggunaan gaya guyonan justru tidak tepat untuk menjelaskan persoalan yang konsekuensinya dapat berlangsung puluhan tahun.
“Kurang patut pertanyaan mengenai pelunasan utang kereta cepat, direspons dengan memakai gaya guyonan. Sebab, perihal ini sama sekali bukanlah bahan candaan,” ujarnya.
Eks Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara itu juga mengingatkan bahwa posisi Menteri Keuangan memiliki tanggung jawab besar dalam menjelaskan kebijakan fiskal kepada publik.
Bagi Anas, disiplin dalam menyampaikan pernyataan merupakan bagian dari tanggung jawab seorang menteri keuangan, terlebih ketika yang dibicarakan menyangkut utang negara dengan tenor yang sangat panjang.
“Disiplin dalam pernyataan adalah pilihan yang sesuai dengan kedudukan dan tugas menteri keuangan,” katanya.
Anas bahkan menyoroti lamanya waktu yang dibutuhkan untuk melunasi kewajiban tersebut. Menurutnya, beban utang Whoosh bukan persoalan yang selesai dalam waktu dekat.
“Beban utang masih sampai 80 tahun lagi,” ucap Anas.
Pernyataan Anas tersebut merespons video Purbaya Yudhi Sadewa yang ramai diperbincangkan di media sosial terkait skema pembayaran utang proyek kereta cepat.
Dalam video tersebut, Purbaya menjelaskan bahwa cicilan utang Whoosh berada di kisaran Rp1 triliun per tahun atau sedikit di bawah angka tersebut. Besaran cicilan disebut dapat mengalami perubahan, bergantung pada kondisi pembayaran.
“Cicilannya Rp1 triliun atau sedikit di bawah Rp1 triliun. Ada yang tinggi dan rendah. Stretch 80 tahun. Kita sudah mati, santai saja,” kata Purbaya.
Pernyataan tersebut kemudian memicu respons karena menyangkut utang proyek strategis yang pembayarannya dibebankan dalam jangka waktu hingga puluhan tahun.
Bagi Anas, persoalan utang negara semestinya ditempatkan sebagai isu serius. Ketika kewajiban tersebut masih akan menjadi beban hingga 80 tahun, cara pemerintah menjelaskannya kepada publik dinilai tak kalah penting dari skema pembayarannya.
Kritik Anas pada akhirnya menyoroti satu hal mendasar: utang negara bukan sekadar angka dalam laporan keuangan, melainkan kewajiban yang konsekuensinya dapat diwariskan lintas generasi
Sumber: monitorIndonesia
Foto: Anas Urbaningrum/Net
Anas Sentil Gaya Purbaya Soal Utang Whoosh: Beban Rakyat Bukan Bahan Guyonan
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
