Analogi Soeharto: Prabowo Diingatkan 'Pemberontakan Datang dari Dalam Istana'
Oposisi Cerdas | Pengamat Kebijakan Publik, Syukur Mandar, mengingatkan Presiden Prabowo Subianto tentang peristiwa kejatuhan Presiden ke-2 RI, Soeharto, setelah berkuasa selama 32 tahun.
Syukur menjelaskan bahwa selama masa Orde Baru, Soeharto merapikan seluruh instrumen kekuasaan agar tidak ada celah pemberontakan dari luar. Tentara, polisi, hingga partai politik dikendalikan dengan ketat.
"Pak Harto 32 tahun dia mengkonstruksi kekuasaan orde baru begitu rapinya. Dan dia menjaga setiap lubang-lubang pemberontakan itu. Lubang-lubang kritis dijagain betul itu ditaruh tentara di situ, taruh polisi di situ, ditaruh semua. Partai juga diikat betul. Semua instrumen kekuasaan dirapikan. Betul," ujarnya dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Kamis (20/8).
Namun, ironisnya, keruntuhan Soeharto justru datang dari dalam istana. Syukur menilai pemberontakan itu menggelembung perlahan hingga akhirnya meledak.
"Andai 16 apa berapa belas menteri itu tidak mundur mungkin Soeharto masih bertahan. Iya ada tumpah darah," tegasnya.
Syukur kemudian mengingatkan Prabowo agar tidak hanya dikelilingi loyalis, melainkan juga orang-orang yang jenius dan mampu mengoperasikan keinginan presiden dengan baik. Menurutnya, titik lemah Prabowo ada pada lingkaran dalam kabinet.
"Justru dari dalam kabinet menurut saya sumbangsih terbesar yang membuat Presiden Prabowo ini gagal adalah sumbangsih dalam internal kabinet," ungkap Syukur.
Sebagai catatan, pada 20 Mei 1998, sebanyak 14 menteri di kabinet Soeharto menyatakan mundur dan menolak masuk ke Kabinet Reformasi. Langkah itu mengejutkan Soeharto, karena selama tiga dekade pemerintahannya ia tidak pernah menghadapi penolakan terbuka dari para pembantunya.
Analogi Soeharto: Prabowo Diingatkan 'Pemberontakan Datang dari Dalam Istana'
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
