Komisi VI DPR RI Tinjau Phapros, Dorong Penguatan Kemandirian Industri Farmasi Nasional
PT Phapros Tbk, perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia, menerima Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI di Pabrik Simongan, Semarang, Jumat (10/7). Kunjungan kerja tersebut turut dihadiri oleh BP BUMN, PT Danantara Asset Management, PT Bio Farma (Persero), dan PT Kimia Farma (Persero) Tbk sebagai bagian dari pengawasan terhadap tata kelola BUMN sektor farmasi dalam rangka memperkuat kemandirian industri farmasi nasional.
Salah satu fokus kunjungan kerja tersebut adalah mengevaluasi capaian substitusi bahan baku obat impor menjadi produksi dalam negeri di lingkungan Kimia Farma Group, sekaligus meninjau kesiapan operasional dan kinerja Phapros sebagai salah satu fasilitas strategis yang berperan dalam memperkuat kemandirian industri farmasi nasional.
Dr. Anggia Erma Rini, M.K.M., Ketua Komisi VI DPR RI sekaligus Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik ke Pabrik Phapros, menyampaikan bahwa saat ini ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat masih relatif tinggi sehingga menjadi tantangan dalam mewujudkan kemandirian farmasi nasional. Menurutnya, perlu optimalisasi potensi bahan baku lokal, termasuk melalui pengembangan bahan baku berbasis herbal dan pemanfaatan kekayaan biodiversitas Indonesia yang didukung oleh riset yang kuat, sehingga mampu menjadi alternatif pengganti bahan baku impor.
“Sinergi lintas kementerian dan BUMN sektor farmasi perlu diperkuat, khususnya antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, dan Bio Farma Group, agar kebijakan yang diambil benar-benar mendukung penggunaan produk dalam negeri. Kemudian Penggunaan obat produksi nasional dalam program pemerintah perlu ditingkatkan. Pemerintah juga perlu memiliki data yang akurat mengenai berapa besar porsi obat dalam negeri yang telah digunakan dalam program-program kesehatan nasional” ujar Anggia.
Menurutnya, BUMN Farmasi harus terus meningkatkan daya saing. Pasalnya, persaingan industri farmasi semakin ketat sehingga tidak cukup hanya mengandalkan pasar yang sudah ada. Inovasi produk, pengembangan produk baru, serta peningkatan kualitas harus terus dilakukan agar mampu bersaing dengan produk impor.
Dalam kunjungan kerja ini, Komisi VI DPR bertujuan menilai efektivitas sinergi lintas BUMN antara BP BUMN, Danantara Indonesia, dan Bio Farma Group dalam pengelolaan aset serta pembiayaan investasi industri hulu farmasi. Selain itu, kunjungan ini juga bertujuan mengidentifikasi kendala struktural yang dihadapi industri bahan baku obat dalam negeri, termasuk keterbatasan skala ekonomi, teknologi, dan sumber daya manusia.
Melalui peninjauan langsung serta dialog dengan para mitra kerja terkait dan membahas berbagai langkah strategis, Komisi VI juga berupaya memperoleh gambaran faktual mengenai keterpaduan antar pemangku kepentingan, mulai dari kebijakan pembinaan BUMN di tingkat pusat, pengelolaan aset oleh Danantara Indonesia, kapasitas produksi dalam negeri, hilirisasi riset dan teknologi hingga sinergi antar BUMN Farmasi.
Memperkuat Keuangan BUMN Farmasi
Dalam kesempatan yang sama, Managing Director Business PT Danantara Aset Manajemen, Febriani Eddy menyampaikan bahwa “Kemandirian industri farmasi harus dimulai dari penguatan kondisi keuangan perusahaan. Pada tahun 2025 terdapat 21 program strategis Danantara, termasuk program penyehatan BUMN Farmasi yang berlanjut di tahun berikutnya.”
Lebih lanjut, Febriani menekankan pentingnya skala ekonomi dalam pengembangan bahan baku obat dalam negeri. Menurutnya, upaya mewujudkan kemandirian industri farmasi perlu dilakukan secara bertahap melalui ekosistem industri yang berkelanjutan.
PT Phapros Tbk sebagai lokasi utama peninjauan dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR, beroperasi di Kota Semarang sejak tahun 1954 dan kini memproduksi lebih dari dua ratus jenis produk farmasi, dengan produk unggulan Antimo yang memimpin pasar di kategorinya. Selain memenuhi kebutuhan domestik, Phapros menjalankan kerja sama contract manufacturing dan telah merintis ekspor ke Kamboja sejak 2013, sehingga fasilitas produksinya relevan untuk ditelaah sebagai bagian dari rantai pasok yang menopang kemandirian farmasi nasional.
Dalam kunjungan kerja ini juga dilakukan diskusi mengenai Strategi Ketahanan Industri Farmasi Nasional yang disampaikan oleh Direktur Utama PT Bio Farma (Persero), Shadiq Akasya. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Deputi Bidang Peningkatan Nilai BUMN BP BUMN Endra Gunawan, Direktur Utama PT Kimia Farma (Persero) Tbk, Djagad Prakasa Dwialam dan Direktur Utama PT Phapros Tbk, Intan Abdams Katoppo.
Sebagai anak perusahaan PT Kimia Farma (Persero) Tbk, Phapros pada Kuartal I 2026 mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar Rp761,5 juta. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator penguatan kinerja perusahaan dalam mendukung transformasi BUMN farmasi sekaligus memperkuat daya saing industri farmasi.
Komisi VI DPR RI Tinjau Phapros, Dorong Penguatan Kemandirian Industri Farmasi Nasional
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating: