KDM Fomo? Bantuan Warga Sendiri Anak Satpam Jatiluhur Tak Sebanding dengan Maling Ayam Viral
Perbedaan nominal bantuan pendidikan yang diberikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) kepada dua keluarga korban menjadi sorotan publik.
Besaran bantuan deposito biaya pendidikan yang berbeda antara anak korban satpam Waduk Jatilihur dengan anak korban pengeroyokan massa di Bali yang viral menangis di jasad sang ayah dinilai warganet tidak adil.
Ayah tewas saat bertugas sekaligus merupakan warga KDM sendiri namun anak mendapatkan nominal bantuan lebih kecil, dibandingkan anak korban pengeroyokan terduga maling ayam di Bali.
Sorotan bermula ketika Dedi memberikan bantuan kepada anak korban pengeroyokan di Bali. Ia mengaku tersentuh setelah mendengar tangisan anak korban.
"Karena saya dengar suara anak kecil itu sampai menangis. Saya tidak kuat karena jadi ingat anak sendiri," katanya.
Dedi kemudian memutuskan menyerahkan bantuan pendidikan dalam bentuk deposito senilai Rp 50 juta.
"Nanti dititip deposito Rp 50 juta untuk anak ibu yang umur empat tahun. Bentuknya deposito supaya menjadi bekal pendidikan. Kalau sekarang uang tunai takut habis," tuturnya.
Di waktu berbeda, Dedi juga memberikan bantuan kepada keluarga petugas keamanan Waduk Jatiluhur di Kabupaten Purwakarta yang meninggal dunia saat bertugas.
Korban diketahui meninggalkan seorang istri dan dua anak, salah satunya masih duduk di bangku kelas XII SMA.
Melalui Baznas Jawa Barat, Dedi menyerahkan deposito Rp 25 juta sebagai dana pendidikan bagi anak korban.
"Nanti ini dititipkan deposito Rp 25 juta untuk cadangan sekolah anak," katanya.
Perbedaan nominal bantuan tersebut kemudian menjadi bahan perbincangan di media sosial.
Sejumlah komentar di unggahan Instagram Merindink mempertanyakan alasan bantuan kepada korban di Bali lebih besar dibandingkan keluarga petugas keamanan di Purwakarta.
Menurut sebagian warganet, keluarga satpam seharusnya mendapat perhatian lebih karena korban meninggal saat menjalankan tugas. Selain itu, korban merupakan warga Purwakarta yang berada di wilayah Jawa Barat, provinsi yang dipimpin Dedi Mulyadi.
“Hlaaa jatiluhur kan masuk jabar? Dia gubernur jabar atau bali sih?? Kok malah banyakan yg bali. Padahal bisa jadi Gubernur bali ngasih juga ke keluarga itu, Gubernur yg lompat2 nih,” tulis a*****.
“Makasih ya pak, tapi apa ga kebalik pak?” tulis m*****.
“Karena yang lebih viral donasinya lebih gede, biar dapet simpati kepada masyarakat kalo dia itu power rangers, buat bahan konten,” tulis d****.
Namun, polemik ini juga menuai pembelaan dari beberapa warganet. Sejumlah netizen menyebut perbandingan itu tidak melihat keseluruhan bentuk bantuan Dedi Mulyadi yang diberikan pada anak satpam Waduk Jatiluhur.
“Loh kok jadi point ini yg di crop ya? Coba liat runut ceritanya. Anak yg di Bali itu memang dikasih 50jt, tapi udah, sampe situ aja. Klo anak satpam itu memang dikasih 25jt, tapi semua anaknya dibiayai KDM sampe selesai Perguruan tinggi, malah biayanya lebih gede. Coba deh, jangan langsung menyimpulkan dan ngejudge dari berita yg sedikit2 kyk gini,” tulis S*****.
Hingga kini belum ada penjelasan resmi dari Dedi Mulyadi terkait polemik tersebut. Namun, perdebatan di media sosial terus bergulir, dengan publik mempertanyakan dasar perbedaan nominal bantuan.
Untuk diketahui, dihimpun dari berbagai sumber media, berikut fakta-fakta dari kasus terduga maling ayam tewas dikeroyok massa dan satpam Waduk Jatiluhur tewas saat bertugas.
Fakta-Fakta Terduga Maling Ayam Tewas Dikeroyok Massa:
- KD diduga hendak mencuri dua ekor ayam aduan, bukan satu ekor.
- Polisi menemukan pisau, ketapel, dan batu-batu kecil yang dibawa KD saat beraksi.
- KD merupakan residivis kasus pencurian cengkih pada 2018 di Tabanan.
- Sepeda motor yang dibawa KD lalu dibakar massa, ternyata hasil curanmor di Bangli pada 2019.
Fakta Satpam Tewas di Waduk Jatiluhur:
- Sumarna sedang menjalankan tugas piket malam sebagai satpam Waduk Jatiluhur saat ditemukan tewas.
- Jasad korban ditemukan mengapung dengan kedua tangan terborgol ke belakang dan masih mengenakan seragam satpam.
- Selain satpam, Sumarna juga menjabat sebagai Komandan Peleton (Danton) Linmas.
- Polisi menemukan luka di wajah, belakang kepala, serta bekas jeratan di leher, sehingga diduga korban dibunuh sebelum dibuang ke air.
- Sehari sebelum tewas, Sumarna diduga sempat menegur pelaku vandalisme di sekitar lokasi tugasnya. (*)
KDM Fomo? Bantuan Warga Sendiri Anak Satpam Jatiluhur Tak Sebanding dengan Maling Ayam Viral
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
