Adsterra

Breaking News

Pejabat Israel Geram atas Kesepakatan AS-Iran: 'Trump Telah Khianati Kami!'


Para pejabat Israel geram dan merasa dikesampingkan oleh kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran yang akan resmi ditekan di Jenewa, Swiss, Jumat (19/6/2026) mendatang. Mereka menganggap kesepakatan itu sebagai "bencana" yang menggagalkan Israel mencapai tujuan perangnya.

Meski rincian detail kesepakatan itu belum dirilis, Trump mengatakan kesepakatan tersebut akan membuka kembali Selat Hormuz tanpa pungutan tol dan mencabut blokade Angkatan Laut Amerika terhadap pelabuhan Iran di Selat Hormuz.

Pakistan, sebagai mediator utama, mengatakan kesepakatan ini untuk mengakhiri perang di semua front, termasuk Lebanon. Sedangkan media Iran melaporkan kesepakatan yang akan ditekan juga mencakup pelonggaran sanksi terhadap Teheran, dan menunda pembicaraan nuklir hingga waktu yang lebih kemudian.

Teheran bersikeras bahwa kesepakatan itu mengakhiri perang antara Israel dan Hizbullah di Lebanon, di mana pasukan Israel telah menduduki sebagian besar wilayah negara tersebut.

Namun Ynet, yang mengutip beberapa pejabat senior Israel, melaporkan bahwa Tel Aviv percaya kesepakatan tersebut gagal memenuhi setiap garis merah utama Israel: pelucutan senjata nuklir, pembatasan rudal, dan penarikan sekutu regional Iran.

Teheran sendiri telah berulang kali menyatakan bahwa mereka tidak mencari senjata nuklir dan hanya menggunakan kemampuan atomnya untuk tujuan damai.

“Trump telah mengkhianati kami,” kesal seorang pejabat Israel kepada Ynet, yang dilansir Minggu (14/6/2026).

Pejabat kedua menyebut kesepakatan itu “sangat buruk". “Dari perspektif kami, ini adalah bencana, karena tidak memenuhi prinsip-prinsip yang kami bicarakan ketika perang dimulai,” katanya.

Seorang pejabat ketiga memperingatkan bahwa kesepakatan itu akan ditafsirkan secara luas sebagai kemunduran bagi Amerika.

“Asumsi kerja regional adalah bahwa kesepakatan itu ditandatangani di bawah tekanan Iran dan pengunduran diri Amerika, bukan sebaliknya,” katanya, menambahkan bahwa perjanjian itu akan dianggap sebagai kegagalan, setidaknya dalam jangka pendek.

Namun, secara publik, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu “menyatakan apresiasinya” atas komitmen Presiden Trump bahwa kesepakatan itu akan mencakup penghapusan material uranium yang diperkaya dari Iran sambil menekankan bahwa negaranya bukan pihak dalam perjanjian tersebut.

Namun, di balik layar, gambaran yang berbeda muncul, di mana Trump mencaci maki Netanyahu dalam panggilan telepon pada awal Juni dan menyebutnya "gila" atas serangan Israel di Lebanon.

Percakapan telepon itu diungkap Axios, yang kemudian dikonfirmasi oleh Trump. Media tersebut juga mengeklaim bahwa Trump mengancam akan menarik dukungan untuk Israel jika negara itu memulai kembali perang dengan Iran.

Secara publik, Trump juga menekankan bahwa Netanyahu tidak punya pilihan lain selain menerima kesepakatan AS-Iran.

Ketegangan yang dilaporkan antara kedua pemimpin tersebut muncul ketika Trump mendapat kecaman atas apa yang digambarkan oleh para kritikusnya sebagai taktik Israel yang berhasil untuk menarik AS ke dalam perang dengan Iran. Kampanye militer tersebut menuai kemarahan dari beberapa pendukung setia Trump, termasuk jurnalis konservatif Tucker Carlson, yang menyebutnya sebagai "kesalahan terbesar" dalam masa kepresidenan Trump.

Pejabat Israel Geram atas Kesepakatan AS-Iran: 'Trump Telah Khianati Kami!' Pejabat Israel Geram atas Kesepakatan AS-Iran: 'Trump Telah Khianati Kami!' Reviewed by Admin Oposisi on Rating: 5