Adsterra

Breaking News

Ditantang Rocky Gerung Naikkan 'Satu Oktaf' Kritik Pemerintah, Tiyo Ardianto: Kapan Kita Hentikan Prabowo-Gibran?


Sebuah momen menarik terjadi dalam diskusi publik bertajuk 'Terus Terang' ketika mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mendapat teguran langsung dari pengamat politik, Rocky Gerung terkait gaya kritiknya terhadap pemerintah.

Di hadapan sejumlah tokoh nasional, termasuk mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD, Rocky justru tidak mempermasalahkan kerasnya kritik yang dilontarkan Tiyo.

Yang menjadi perhatian Rocky adalah kualitas analisis yang mendasari kritik tersebut.

Pernyataan Rocky itu kemudian memicu respons panjang dari Tiyo yang langsung mencoba menjelaskan pandangannya mengenai kondisi politik dan ekonomi Indonesia saat ini.

Namun menurutnya, kritik akan memiliki bobot lebih kuat apabila dibangun di atas analisis yang mendalam, argumentasi yang jelas, dan kemampuan membaca persoalan secara komprehensif.

Rocky kemudian menyampaikan komentar yang langsung menyita perhatian peserta diskusi.

"Gini Tiyo, naikin satu oktaf analisismu, ngapain Gibran, Jokowi kita udah tahu itu," sentil Rocky dalam video yang diunggah akun YouTube Mahfud MD Official.

Pernyataan itu seolah menjadi tantangan terbuka bagi Tiyo untuk tidak berhenti pada kritik terhadap figur tertentu, melainkan menjelaskan secara lebih luas akar persoalan yang menurutnya sedang dihadapi bangsa saat ini.

Soroti Pertemuan Krisis Politik dan Ekonomi

Menanggapi kritik Rocky Gerung tersebut, Tiyo langsung mengambil kesempatan untuk memperluas argumentasinya.

Ia mengajak peserta diskusi melihat kondisi Indonesia dalam beberapa bulan ke depan, bukan sekadar membahas dinamika politik yang telah terjadi.

"Kita naikkan satu oktaf. Mari kita pandang ke depan. Apa yang mungkin akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Situasi hari ini, tadi sudah disebutkan, ada pertemuan antara krisis politik dengan krisis ekonomi," ungkap Tiyo.

"Krisis politik itu ditandai dengan pemilu tidak demokratis, lembaga negara yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, sekaligus ketidakpercayaan publik pada pengelola negara," tambahnya.

Menurut Tiyo, sejumlah indikator yang ia sebut sebagai krisis politik sudah terlihat saat ini.

Ia menilai persoalan tersebut berpotensi semakin berat apabila dibarengi tekanan ekonomi yang lebih besar.

Krisis Ekonomi Sudah Masuk 'Rakaat Pertama'

Dalam penjelasannya, Tiyo juga menggunakan analogi istilah salat dalam agama Islam untuk menggambarkan kondisi ekonomi yang menurutnya sedang berkembang saat ini.

Ia berpendapat bahwa gejala-gejala krisis mulai terlihat dan hanya tinggal menunggu eskalasi yang lebih besar.

"Kita sudah rasakan bahwa krisis ekonomi sudah masuk pada fase 'takbiratul ihram', sudah masuk pada rakaat pertama. Sudah masuk pada rakaat pertama ditandai dengan dolar yang naik yang tidak dipahami oleh negara, pengelola negara Bahwa itu adalah tanda-tanda betapa gagalnya ia dalam mengelola ekonomi kita," terang Tiyo.

Singgung MBG dan Warisan Rezim Pendahulu

Selain membahas kondisi ekonomi, Tiyo juga menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini menjadi salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, pemerintah boleh mengklaim keberhasilan program tersebut. Namun ia menilai manfaat ekonomi yang diharapkan belum terlihat secara nyata di masyarakat.

Tiyo kemudian juga membandingkan dampak yang menurutnya ditinggalkan oleh pemerintahan terdahulu dengan kondisi saat ini.

"Saya rasa momentum kita untuk menyempurnakan gerakan ada di depan mata dan itu memang dimulai dari pengkonsolidasian ide kita tentang kenapa perubahan itu harus ada kerusakan yang telah diciptakan oleh Soeharto dalam 32 tahun itu dikalahkan oleh Jokowi dalam 10 tahun kerusakan yang diciptakan oleh Jokowi dalam 10 tahun," tuturnya.

Ia melanjutkan kritik tersebut dengan pernyataan yang lebih tajam terhadap pemerintahan saat ini.

"Kerusakan yang diciptakan oleh Jokowi dalam 10 tahun itu dikalahkan oleh Prabowo dalam satu tahun. Kita semua pernah lakukan kesalahan. Memilih pemimpin bodoh adalah kesalahan, tapi membiarkannya terus berkuasa adalah kebodohan. Jadi kapan kita hentikan Prabowo Gibran?," tutup Tiyo.***

Sumber: konteks
Foto: Mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto (Foto: YouTube/Mahfud MD Official)

Ditantang Rocky Gerung Naikkan 'Satu Oktaf' Kritik Pemerintah, Tiyo Ardianto: Kapan Kita Hentikan Prabowo-Gibran? Ditantang Rocky Gerung Naikkan 'Satu Oktaf' Kritik Pemerintah, Tiyo Ardianto: Kapan Kita Hentikan Prabowo-Gibran? Reviewed by Admin Oposisi on Rating: 5