Ancaman Terbesar Indonesia Bukan Oposisi tapi Penjilat Kekuasaan
Pakar militer dan pertahanan Connie Rahakundini Bakrie melontarkan kritik keras terhadap kondisi demokrasi dan kehidupan politik nasional. Menurutnya, Indonesia saat ini menghadapi krisis kepercayaan yang jauh lebih berbahaya dibandingkan persoalan ekonomi.
Saat menjadi narasumber di Podcast Hendri Satrio, Connie menilai ancaman terhadap Indonesia tidak selalu harus datang melalui kekuatan militer. Menurutnya, kondisi politik dan sosial yang rapuh justru bisa dimanfaatkan pihak luar untuk melemahkan bangsa dari dalam.
“Menyerang Indonesia tidak perlu pakai militer,” ujar Connie, Rabu, 24 Juni 2026.
Ia menyoroti sikap sebagian elite yang dinilai terlalu sensitif terhadap kritik. Bahkan, menurutnya, muncul fenomena pembentukan kelompok-kelompok tandingan untuk merespons suara kritis dari kalangan mahasiswa dan masyarakat sipil.
“Ketika kampus atau BEM seluruh Indonesia bersuara, lalu muncul BEM gadungan. Kita seperti negara dagelan. Kalau saya jadi negara lawan, saya akan membuat hal-hal seperti itu. Kalau seseorang bisa membayar atau membuat BEM gadungan, kenapa sebuah negara tidak bisa melakukan hal yang sama?” katanya.
Connie menilai akar persoalan yang tengah dihadapi Indonesia adalah krisis kepercayaan publik terhadap elite dan institusi negara.
“Yang lebih parah daripada ekonomi adalah hilangnya kepercayaan,” tegasnya.
Di tengah kondisi tersebut, ia menilai para elite politik lebih sibuk membangun citra dibandingkan menyelesaikan persoalan rakyat. Sementara masyarakat, kata dia, justru sedang berjuang mempertahankan kehidupan ekonomi mereka.
Karena itu, Connie mengaku tidak heran jika sejumlah tokoh pemerintah mendapat penolakan dari mahasiswa. Ia mencontohkan insiden yang dialami Budiman Sudjatmiko saat menghadiri forum mahasiswa di Universitas Gadjah Mada.
“Bukan karena mahasiswa tidak mau berkomunikasi. Itu letupan karena mereka sudah lelah,” ujarnya.
Lebih jauh, Connie mengingatkan adanya gejala kembalinya budaya feodal dalam kehidupan politik nasional. Menurutnya, kritik kini kerap dianggap sebagai bentuk serangan terhadap pemerintah, sementara akademisi yang menyampaikan pandangan berbeda sering dicap anti-pemerintah.
Ia juga menyoroti munculnya kecenderungan politik komando, di mana penyelesaian berbagai persoalan lebih mengandalkan instruksi dan perintah daripada dialog serta partisipasi publik.
Menurut Connie, ancaman terbesar bagi bangsa saat ini bukan berasal dari kelompok oposisi atau pihak yang berbeda pendapat, melainkan dari budaya menjilat kekuasaan yang semakin mengakar.
“Dari hulu sampai hilir penuh penjilat negara ini sekarang," ungkapnya.
Selain itu, Connie menilai Indonesia mulai kehilangan tradisi kenegarawanan dan menghadapi tekanan terhadap kebebasan berpikir serta kebebasan intelektual.
Padahal, di tengah perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat, Indonesia seharusnya fokus menyiapkan diri menghadapi berbagai tantangan global, bukan terjebak dalam konflik dan drama politik yang berkepanjangan.
Connie lantas mengajak semua pihak untuk tidak memusuhi orang-orang yang bersikap kritis terhadap pemerintah maupun negara.
Sumber: rmol
Foto: Pakar militer dan pertahanan Connie Rahakundini Bakrie. (Foto: Youtube Hendri Satrio)
Ancaman Terbesar Indonesia Bukan Oposisi tapi Penjilat Kekuasaan
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
