Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato
DI galangan tempat saya bekerja sehari-hari di Tiongkok, satu hal terus mengganggu pikiran: Indonesia punya garis pantai 99.093 km--sembilan kali lipat India dan jauh melebihi Filipina maupun Vietnam--tetapi dalam peta industri perkapalan dunia, kita tidak ada.
Data UNCTAD Review of Maritime Transport 2025 menempatkan Tiongkok (>70 persen), Korea Selatan (17 persen), dan Jepang menguasai 95 persen produksi global. Yang menarik justru posisi empat dan lima: keduanya negara Asia Tenggara--Vietnam dan Filipina--bukan Indonesia.
Tetangga yang Melampaui
Filipina--OECD pada laporan resminya September 2025 mencatat Filipina sebagai negara pembangun kapal terbesar ke-4 dunia pada 2022. Saat ini sekitar peringkat 6 dengan pangsa 1,2 persen global. Mereka punya 100+ galangan, 50.000-100.000 pekerja, dan baru saja meresmikan HD Hyundai Shipyard di Subic (2 September 2025) yang akan menggandakan kapasitas dari 1,3 menjadi 2,5 juta DWT. Mereka juga sedang menggodok Shipbuilding and Ship Repair Development Bill of 2025.
Vietnam--Berdasarkan UNCTAD, Vietnam adalah pembangun terbesar ke-4 dunia berdasarkan GT yang dikirim 2024. Output mereka naik 40 persen pada 2024 dibanding 2023 (61 persen dibanding 2022). Orderbook 2,82 juta GT, kapasitas tahunan 3,5 juta ton, 80.000 pekerja sektor perkapalan, 120 galangan.
Indonesia--punya 342 galangan, kapasitas 1 juta DWT/tahun bangunan baru dan 12 juta DWT/tahun reparasi, hanya 46.000 pekerja resmi di sektor ini (data Wakil Menteri Perindustrian, Mei 2025). Pangsa pasar global? Tidak masuk hitungan signifikan. Kontribusi PDB maritim tahun lalu masih jauh dari target 15 persen RPJPN 2025-2045.
Data India yang Menampar
India, melalui Maritime Amrit Kaal Vision 2047, menerbitkan kebutuhan SDM perkapalannya dengan sangat eksplisit: 50.000 marine engineer & naval architect, 200.000 welder bersertifikat, 80.000 marine electrician, dan 120.000 fitter dalam 15 tahun. Mereka mengalokasikan Rs 69.725 crore (±Rp 130 triliun) paket dukungan, ditargetkan menciptakan 3 juta lapangan kerja, dan menambah pangsa kargo berbendera India hingga 20 persen pada 2047.
Pertanyaan kunci: Berapa welder, fitter, marine electrician yang dibutuhkan Indonesia untuk Visi Emas 2045? Tidak ada angka resmi yang dipublikasikan. Bahkan Iperindo sendiri di Rakernas 2024 mengakui--melalui pernyataan Wakil Menteri Perindustrian--bahwa industri perkapalan Indonesia "belum terkonsolidasi dengan baik".
Sementara itu, di Batam saja sudah kekurangan 10.000 welder (ALMI, Agustus 2025). Dari 400 kontrak pembangunan kapal sejak 2024, baru 50 persen rampung.
Tiga Pelajaran dari Tetangga, Satu Cermin untuk Kita
Pertama, Filipina mengandalkan FDI ramah dan kawasan ekonomi khusus. 99 persen produksi CGT Filipina berasal dari galangan asing--Tsuneishi (Jepang), Seatrium (Singapura), Hyundai (Korea), Austal (Australia). Mereka membuka pintu, dan transfer teknologi mengalir. Indonesia masih mempersulit dengan birokrasi berlapis. Ketua Iperindo, Anita Puji Utami pada Februari 2026 sendiri mengeluhkan: satu izin memicu belasan izin lanjutan, termasuk izin pengerukan rutin maintenance galangan.
Kedua, Vietnam membangun cluster terintegrasi dengan mitra strategis. Hyundai Vietnam (HVS)--joint venture Hyundai Mipo Korea dengan SBIC Vietnam--membuat lompatan kapasitas yang nyata. Vietnam memperlakukan industri ini sebagai prioritas strategis nasional, lengkap dengan insentif pajak dan integrasi rantai pasok komponen lokal.
Ketiga, India menerbitkan angka dan menetapkan target publik. Setiap warga India bisa bertanya: "Sudah berapa welder yang dilatih?" Akuntabilitas ada karena angka ada. Indonesia masih bicara dalam slogan: "Poros maritim dunia". Tanpa angka, slogan adalah doa, bukan strategi.
Empat Tahun Emas yang Akan Hilang
Bonus demografi Indonesia puncaknya 2028-2032--hanya empat tahun, bukan sepuluh tahun seperti proyeksi awal (Prof. Fasli Jalal). Pada 2030, 68,1 persen penduduk Indonesia berada di usia produktif. Bila industri padat karya berkeahlian tinggi seperti galangan kapal tidak siap menyerap mereka, bonus demografi akan berubah menjadi ledakan pengangguran terdidik.
Dan ini masalah riil bukan teori: dari pengalaman saya bekerja dengan welder Tiongkok, Korea, dan Vietnam, tenaga las kelas marine bersertifikat klas internasional bisa bergaji setara engineer junior. Ini adalah jalur karier kelas menengah yang nyata. Tetapi Indonesia mencetaknya dalam program 30, 90, atau 180 orang per kohort. Bukan puluhan ribu seperti yang dibutuhkan.
Lima Hal yang Harus Diselesaikan Sebelum 2028
Bila pemerintah serius dengan Visi Indonesia Emas 2045, lima hal ini wajib selesai dalam 24 bulan ke depan:
Terbitkan Manpower Gap Maritim Indonesia 2045--per profesi, per region, per tahun. Kolaborasi Iperindo, Kemenperin, Kemenaker, Kemendikbud. Tanpa angka publik, tidak ada akuntabilitas.
Mega-program vokasi welder bersertifikat marine--30.000 orang per tahun, di bawah otoritas sertifikasi BKI dan disinkronkan dengan kebutuhan order kapal nasional (rencana 80 tanker Pertamina, 40.000 kapal nelayan 150-300 GT yang disampaikan Presiden Prabowo di Brasil November 2024).
Status infrastruktur untuk sektor perkapalan--agar bisa mengakses pembiayaan jangka panjang bunga rendah (India sudah memberikan ini lewat reformasi 2025; Vietnam dan Filipina lewat insentif kawasan.
Buka 100 persen FDI untuk galangan kelas atas dan komponen kapal--replikasi model Filipina-Hyundai-Subic dan Vietnam-Hyundai-Ulsan. Tanpa transfer teknologi langsung, kita akan tertinggal selamanya.
Cluster maritim wilayah timur Indonesia--Bitung, Makassar, Sorong, Kupang. Saat ini 88 persen galangan terkonsentrasi di Indonesia barat. Konektivitas timur tidak bisa dibangun dari Batam.
Penutup: Bahasa yang Harus Diubah
Saya menulis ini dari Tiongkok, tempat saya melihat setiap hari bagaimana sebuah industri yang sepenuhnya dimulai dari nol pada 1980-an, kini menguasai 70 persen pasar dunia. Kuncinya bukan keajaiban--kuncinya disiplin angka, kebijakan terukur, dan eksekusi konsisten lintas dekade.
Indonesia punya semua modal yang Tiongkok 1980-an tidak punya: garis pantai terpanjang, posisi geografis emas di selat global, populasi muda, dan pasar domestik raksasa.
Yang belum kita punya hanyalah kemauan untuk menghitung. Filipina sudah menghitung. Vietnam sudah menghitung. India sudah menghitung. Indonesia masih berpidato.
Bila pidato ini tidak segera berubah menjadi angka publik dan komitmen anggaran yang terukur, kelak pada 2045 kita akan duduk di pelabuhan-pelabuhan ramai milik sendiri--sambil melihat kapal-kapal yang dibangun Tiongkok, Korea, Vietnam, Filipina, dan India melintasinya. Lalu bertanya: ke mana 20 tahun emas itu pergi?
Ahlan Zulfakhri
Shipbuilding Specialist, Diaspora Indonesia di Tiongkok
______________________________________
Disclaimer: Rubrik Kolom adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan oposisicerdas.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi oposisicerdas.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.
Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
