Ngomong Kotor dan Puji Allah saat Ancam Iran, Trump Dinilai Makin Frustrasi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai semakin stres karena mengalami
kerugian besar, sekaligus tak bisa keluar dari perang yang dikobarkannya
bersama Israel terhadap Iran.
Penilaian itu mencuat setelah pada hari Sabtu (4/4) akhir pekan lalu,
mengunggah ancaman terbaru terhadap Iran yang tak mau gencatan senjata
maupun membuka Selat Hormuz.
Dalam unggahan di media sosial Truth, Trump mengancam bakal menyerang Iran
habis-habisan bila tidak mau membuka Selat Hormuz pada Senin (6/4/2026) hari
ini.
Tapi, unggahan itu malah menjadi bahan ejekan warganet secara global karena
berisi caci-maki terhadap Iran.
Tak hanya itu, dalam unggahan yang sama, Trump tak lagi memakai kalimat
kesukaannya, melainkan mengakhirinya dengan menyebut nama Allah SWT.
"Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan, semuanya
dalam satu persitiwa, di Iran. Tidak akan ada yang seperti ini!!! Buka Selat
itu, dasar bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka - LIHAT SAJA!
Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J. TRUMP," demikian unggahan Trump.
Unggahan itu kontan mendapat cibiran dari banyak warganet.
"Beberapa kata dalam cuitan terakhirnya tidak sesuai dengan gaya cuitannya
yang biasa. Dan sekarang dia menulis ALLAH alih-alih Tuhan seperti biasanya.
Selain itu, dia melewatkan bagian utama yaitu 'Terima kasih atas perhatian
Anda terhadap masalah ini'. Jadi pertanyaannya adalah, apa yang terjadi pada
Donald Trump dan di mana dia?" sindir akun X @IRTruePromise yang
dikendalikan dari Iran.
Some words in his last tweet did'nt add up to his usual way of tweeting. And now he's writing ALLAH instead of God like always. Also, he missed the main part i.e "Thankyou for your attention to this matter"
— True Promise - الوعد الصادق ✪🇮🇷 (@IRTruePromise) April 5, 2026
So the question is ,
What happened to Donald Trump & where is he ? pic.twitter.com/4kfegbZ86v
"Iran telah membuat Trump mempercayai Allah," sindir akun @AdaMedia.
"Unggahan baru Trump yang gila ini penuh dengan rasa frustrasi,
keputusasaan, dan penghinaan. Namun, orang gila ini memiliki banyak senjata
yang dapat digunakannya. Saya berdoa semoga para korban agresi keji ini
diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk bertahan dan mengalahkan perang jahat
ini," tulis akun @Bob_cart124 yang berada di Inggris.
Frustration is clearly setting in.
— Long Short HQ (@LongShortHQ) April 5, 2026
Trump now realizes he is isolated in this war and losing day by day. The upcoming midterms will hit him harder than anyone expects. pic.twitter.com/YPvLCJTqVu
Ultimatum 10 Hari dan Krisis Energi Global
Saat perang Iran, ancaman Trump ini bukan muncul tiba-tiba. Pada 26 Maret
lalu, Trump telah menetapkan tenggat waktu 10 hari bagi Iran untuk membuka
kembali Selat Hormuz.
Jalur ini telah lumpuh total sejak Amerika Serikat dan Israel pertama kali
melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Mengingat Selat Hormuz adalah urat nadi distribusi minyak dunia, penutupan
ini telah memicu kekhawatiran akan terjadinya guncangan hebat pada ekonomi
global.
Meskipun melontarkan retorika perang yang agresif, Trump sempat menyatakan
dalam wawancaranya dengan Fox News pada hari Minggu, bahwa Iran saat ini
sedang bernegosiasi dengan AS.
Ia menyatakan keyakinannya, kedua belah pihak masih bisa mencapai
kesepakatan sebelum tenggat waktu tersebut berakhir.
Namun, nada optimisme tersebut kontras dengan ancaman penghancuran total
yang ia sebar di media sosial.
Respons Keras Iran: Tindakan Kejahatan Perang
Pemerintah Iran tidak tinggal diam menanggapi gertakan Washington. Pejabat
resmi Iran mengecam keras ancaman Trump dan berjanji akan melakukan
pembalasan setimpal atas setiap serangan yang menargetkan infrastruktur
mereka.
Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera mengeluarkan
pernyataan resmi yang meminta komunitas internasional untuk turun tangan.
“Sekali lagi, presiden AS secara terbuka mengancam untuk menghancurkan
infrastruktur yang penting bagi kelangsungan hidup sipil di Iran. Komunitas
internasional dan semua negara memiliki kewajiban hukum untuk mencegah
tindakan kejahatan perang yang mengerikan tersebut. Mereka harus bertindak
sekarang. Besok sudah terlambat,” ungkap perwakilan misi Iran untuk PBB
dalam pernyataan resminya.
Senada dengan itu, Seyyed Mehdi Tabatabaei, deputi komunikasi di kantor
kepresidenan Iran, menegaskan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka jika ada
pembayaran kompensasi atas kerusakan yang disebabkan oleh perang.
Ia menjelaskan, pembayaran tersebut akan dilakukan dalam bentuk biaya
transit melalui "rezim hukum baru" di sekitar selat tersebut.
Hal ini mengisyaratkan bahwa Iran bermaksud mengubah kendalinya atas selat
tersebut menjadi sistem di mana setiap kapal yang melintas harus membayar
biaya tetap, bahkan setelah perang berakhir.
Tabatabaei juga menepis ancaman Trump sebagai tanda kelemahan Amerika
Serikat. Ia menyatakan bahwa ancaman tersebut menunjukkan bahwa AS telah
“menggunakan kata-kata kotor dan omong kosong karena rasa putus asa dan
kemarahan yang luar biasa”.
Ancaman "Zaman Batu"
Eskalasi verbal ini didukung oleh pejabat tinggi AS lainnya. Pekan lalu,
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, bahkan mengancam akan mengirim Iran
kembali ke “Zaman Batu”.
Serangan-serangan AS dan Israel sebelumnya memang dilaporkan telah
menghantam infrastruktur sipil, termasuk sekolah, fasilitas kesehatan, dan
universitas.
Para ahli hukum internasional memperingatkan bahwa penargetan sistematis
terhadap fasilitas sipil dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Namun, Trump tampak tidak peduli dengan kekhawatiran mengenai dampak
serangan tersebut terhadap warga sipil Iran.
Saat diwawancarai oleh Wall Street Journal mengenai potensi penderitaan
rakyat sipil akibat hancurnya pembangkit listrik dan jembatan, Trump
memberikan jawaban yang mengejutkan.
“Tidak, mereka ingin kita melakukannya,” ujar Trump, sambil menambahkan
bahwa rakyat Iran saat ini sudah “hidup di neraka”.
Hingga saat ini, ketidakpastian masih menyelimuti kapan konflik ini akan
berakhir. Trump menolak memberikan garis waktu yang pasti mengenai akhir
dari peperangan ini.
Ia hanya menutup pembicaraan dengan menyatakan, “Saya akan memberi tahu Anda
segera.”
Sumber:
suara
Foto: Ancaman yang diunggah Presiden AS Donald Trump menjadi bahan ejekan
warga sedunia. [Suara.com]
Ngomong Kotor dan Puji Allah saat Ancam Iran, Trump Dinilai Makin Frustrasi
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:

Tidak ada komentar