Militer Israel Tembaki Lebanon Selatan Meski Gencatan Senjata Resmi Berlaku
Kesepakatan penghentian permusuhan selama sepuluh hari antara Lebanon dan
Israel menghadapi ancaman serius sejak jam pertama pemberlakuan.
Militer Israel dilaporkan tetap melancarkan serangan artileri ke wilayah
Lebanon selatan meski kesepakatan damai telah dinyatakan resmi berjalan.
Dilaporkan MME, aksi militer tersebut mencoreng harapan publik akan
terciptanya stabilitas keamanan di wilayah-wilayah konflik yang telah hancur
akibat perang.
Serangan udara besar-besaran Israel mengguncang Lebanon dan menewaskan
sedikitnya 254 orang hanya beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata
antara Amerika Serikat dan Iran, Kamis (9/4). [Tangkap layar X]
Pelanggaran ini memicu kekhawatiran baru mengenai komitmen kedua belah pihak
dalam mematuhi poin-poin kesepakatan internasional tersebut.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda penarikan mundur kekuatan militer
secara penuh dari titik-titik krusial di perbatasan.
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan bahwa artileri Israel masih
aktif menggempur kota Khiam dan Dibbine.
@aljazeeraenglish The Israeli army bombed buildings in southern Lebanon’s Bint Jbeil district, striking a residential block near the Bint Jbeil Governmental Hospital in Aynata and a house in the Al-Maslak neighbourhood, according to military footage. #news ♬ original sound - Al Jazeera English
Laporan tersebut mengonfirmasi bahwa serangan terjadi kurang dari enam puluh
menit setelah waktu gencatan senjata dimulai.
"Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan bahwa artileri Israel terus
menghantam wilayah selatan meskipun gencatan senjata baru berlaku kurang
dari satu jam yang lalu," tulis MME.
Operasi penyisiran dengan senjata mesin turut mengiringi dentuman artileri
yang meresahkan warga di kawasan perbatasan selatan tersebut.
Situasi di lapangan menunjukkan bahwa zona tempur belum sepenuhnya steril
dari aktivitas ofensif pasukan darat Israel.
Aktivitas Udara di Lembah Bekaa
Ketegangan tidak hanya terjadi di darat, namun juga terpantau di ruang udara
wilayah Rashaya dan Jabal al-Sheikh.
Pesawat pengintai Israel dilaporkan melakukan manuver intensif di atas
langit Lembah Bekaa barat setelah tengah malam.
Aktivitas pengintaian ini menambah daftar dugaan pelanggaran teknis terhadap
poin-poin kesepakatan penghentian serangan udara.
Di sisi lain, pinggiran selatan Beirut juga menyaksikan pecahnya suara
tembakan yang mewarnai langit malam di ibu kota.
Rekaman video menunjukkan jejak peluru merah yang membelah kegelapan di
tengah suasana yang seharusnya sudah tenang.
Meskipun situasi belum sepenuhnya aman, gelombang warga yang mengungsi mulai
terlihat bergerak kembali ke kediaman mereka.
Warga terlihat memadati jalur menuju selatan dengan mengibarkan bendera
gerakan serta membawa potret mendiang Hassan Nasrallah.
Antrean kendaraan yang panjang menjadi pemandangan utama di beberapa titik
akses menuju wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi zona perang.
Namun, kepulangan massal ini dinilai sangat berisiko mengingat kondisi
keamanan yang masih sangat fluktuatif di lapangan.
Pemerintah Lebanon mencatat bahwa konflik ini sebelumnya telah memaksa lebih
dari satu juta orang meninggalkan rumah mereka.
Peringatan Keamanan bagi Warga Sipil
Pihak berwenang dan kelompok Hizbullah mengeluarkan imbauan keras agar warga
menunda kepulangan hingga situasi benar-benar terkendali.
Hizbullah meminta penduduk untuk tidak terburu-buru menuju wilayah selatan
dan pinggiran Beirut "sampai situasinya benar-benar jelas".
Komite Kesehatan Islam bahkan menyarankan masyarakat untuk "menunggu sampai
pagi" sebelum memulai perjalanan panjang kembali ke rumah.
Militer Lebanon juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap ancaman
amunisi yang belum meledak di puing-puing bangunan.
Instruksi tentara harus dipatuhi sepenuhnya guna menghindari jatuh korban
jiwa akibat benda-benda mencurigakan sisa pertempuran.
Gencatan senjata ini merupakan hasil negosiasi panjang untuk menghentikan
pertumpahan darah yang melibatkan militer Israel dan kelompok Hizbullah di
Lebanon.
Konflik meningkat tajam sejak pembunuhan Hassan Nasrallah pada tahun 2024
yang memicu eskalasi militer besar-besaran di sepanjang garis perbatasan.
Israel meluncurkan operasi darat ke wilayah Lebanon selatan yang menyebabkan
kerusakan infrastruktur sipil secara masif dan krisis kemanusiaan hebat.
Kesepakatan sepuluh hari ini awalnya dipandang sebagai langkah awal menuju
perdamaian permanen untuk mengakhiri penderitaan jutaan warga sipil.
Namun, pelanggaran yang terjadi di jam-jam pertama menunjukkan betapa
rapuhnya diplomasi di tengah dendam dan ketidakpercayaan kedua pihak.
Sumber:
suara
Foto: Serangan Israel ke Lebanon (Antara)
Militer Israel Tembaki Lebanon Selatan Meski Gencatan Senjata Resmi Berlaku
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:


Tidak ada komentar