Kehilangan 24 Drone Mewah Selama Perang dengan Iran, AS Derita Kerugian Lebih dari Rp 12 T
Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah kehilangan delapan unit pesawat nirawak (drone) MQ-9 Reaper di Timur Tengah sejak 1 April lalu. Laporan CBS menyebutkan, tambahan ini meningkatkan jumlah total drone yang jatuh dalam perang dengan Iran menjadi 24 unit.
Berdasarkan laporan terbaru tersebut, dampak finansial dari kerugian ini diperkirakan mencapai sekitar 720 juta dolar AS atau Rp12,034 Triliun (Kurs Rp 17.090/Dolar). Angka ini didasarkan pada estimasi harga satu unit drone Reaper yang dibanderol 30 juta dolar AS atau lebih, tergantung pada spesifikasi modelnya.
MQ-9 Reaper sendiri merupakan pesawat tak berawak produksi General Atomics Aeronautical Systems. Alutsista canggih ini dirancang untuk menjalankan misi pengumpulan intelijen, pengawasan, pengintaian, hingga serangan presisi.
Middle East Monitor yang melansir data dari CBS News mengindikasikan bahwa AS dan Israel telah melancarkan serangan terhadap lebih dari 13.000 target di seluruh wilayah Iran sejak operasi gabungan dimulai pada 28 Februari. Di sisi lain, data yang sama menunjukkan bahwa Iran telah menghantam berbagai sasaran di 12 negara di seluruh kawasan selama konflik berlangsung.
Meskipun gencatan senjata selama dua pekan telah diumumkan pada Selasa lalu, situasi di lapangan masih tegang. Israel dilaporkan terus melanjutkan serangan udara ke wilayah Lebanon di tengah upaya deeskalasi tersebut.
160 Drone Musuh
Komandan Pertahanan Udara Iran Brigadir Jenderal Alireza Elhami melaporkan bahwa pasukannya telah menghancurkan lebih dari 160 drone musuh. Jumlah ini terhitung sejak dimulainya perang melawan AS-Israel.
Dalam kunjungan ke posisi pertahanan udara Angkatan Darat dan IRGC, Brigadir Jenderal Alireza Elhami mengatakan bahwa unit-unit Iran berhasil mencegat dan menghancurkan sejumlah jet tempur canggih milik musuh, lebih dari 160 drone. Angka ini termasuk model MQ-9, Hermes, dan LUCAS—serta puluhan rudal jelajah.
Ia menambahkan, tindakan tersebut dilakukan sebelum musuh sempat melaksanakan operasi ofensif apa pun. Brigadir Jenderal Elhami menegaskan, pasukan Iran terus bersiaga menunggu pesawat dan drone musuh.
Ia menjelaskan bahwa penargetan dan penembakan jatuh sejumlah jet tempur musuh generasi keempat dan kelima oleh unit Angkatan Darat dan IRGC merupakan hasil dari keahlian taktis. Hal ini dipadukan dengan penggunaan inovatif peralatan modern, serta kecerdikan sistem pertahanan udara yang disebut-sebut telah membingungkan pasukan musuh.
Ia menambahkan bahwa seluruh jaringan pertahanan udara Angkatan Darat dan IRGC bersatu dan berkomitmen untuk melindungi wilayah udara Iran dengan segala cara.
Seperti diketahui, Amerika Serikat dan rezim Israel meluncurkan kampanye militer besar-besaran tanpa provokasi terhadap Iran setelah pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam saat itu, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil pada 28 Februari.
Serangan tersebut melibatkan serangan udara luas terhadap lokasi militer dan sipil di seluruh Iran, menyebabkan korban jiwa yang signifikan serta kerusakan besar pada infrastruktur.
Sebagai tanggapan, Angkatan Bersenjata Iran melakukan operasi balasan dengan menargetkan posisi Amerika dan Israel di wilayah pendudukan serta pangkalan regional menggunakan gelombang rudal dan drone.
Sumber: republika
Foto: Drone MQ-9 Reaper/Foto: EPA-EFE/Senior Master Sgt.
Kehilangan 24 Drone Mewah Selama Perang dengan Iran, AS Derita Kerugian Lebih dari Rp 12 T
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:

Tidak ada komentar