Anies: Indonesia Bukan Kekurangan Orang Pintar, tapi Kurang Kompas Moral
Mantan Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, menyoroti pentingnya kampus menjadi ruang perjumpaan reflektif yang mendorong lahirnya inspirasi dan pembelajaran baru.
Hal itu disampaikan Anies dalam talkshow “Integritas Karakter, Kompetensi, dan Teknologi dalam Pendidikan di Indonesia” di District 1 Meikarta, Cikarang, Bekasi, Sabtu (11/4).
“Silaturahmi dan interaksi membuat kita punya kesempatan mendapatkan hasil. Setiap ada perjumpaan reflektif, kita akan mendapatkan pengalaman, bisa dalam bentuk inspirasi,” kata Anies.
Menurut Anies, tradisi menghadirkan tokoh untuk berdialog dengan mahasiswa merupakan salah satu kekuatan Universitas Paramadina dalam membangun ekosistem berpikir terbuka.
Eks Gubernur DKI Jakarta itu menyebut kampus tersebut punya pengaruh besar meski jumlah mahasiswanya tidak sebanyak perguruan tinggi lain.
“Small but giant. Kecil secara jumlah mahasiswa, tapi potensi pengaruhnya besar,” ujarnya.
Anies menegaskan, perguruan tinggi tak cukup hanya menjadi tempat transfer ilmu. Kampus, kata dia, juga harus membentuk manusia yang kompeten sekaligus bisa dipercaya.
“Tantangan pendidikan tinggi hari ini adalah melahirkan lulusan yang cakap dan pada saat yang sama bisa dipercaya,” tuturnya.
Ia menilai Indonesia bukan kekurangan orang pintar, tetapi kerap menghadapi persoalan karena kecerdasan tidak dibarengi moralitas.
“Masalah kita bukan kekurangan orang pintar, tetapi sering kali membiarkan kecerdasan berjalan tanpa kompas moral,” lanjutnya.
Anies menyinggung banyak penyimpangan dilakukan oleh orang berpendidikan yang mahir secara teknis, namun menggunakan kemampuannya untuk mengakali aturan dan menutup-nutupi kesalahan.
Karena itu, menurutnya pendidikan masa depan harus mengintegrasikan karakter, integritas, kompetensi, dan teknologi.
Mengutip pemikiran Ki Hadjar Dewantara, Anies mengatakan pendidikan harus memberi arah agar kemampuan yang dimiliki seseorang tidak digunakan secara keliru.
Selain itu, Anies menyoroti pentingnya penguatan critical thinking dan analytical thinking di tengah perubahan cepat dunia kerja. Ia menyebut banyak keterampilan saat ini bisa usang dalam beberapa tahun ke depan.
Tak hanya itu, digitalisasi dinilai penting untuk memperkuat integritas sistem karena seluruh proses meninggalkan jejak yang bisa ditelusuri.
“Penyimpangan sering hidup di ruang gelap. Karena itu sistem harus transparan,” pungkasnya.
Sumber: netralnews
Foto: Anies Baswedan/Net
Anies: Indonesia Bukan Kekurangan Orang Pintar, tapi Kurang Kompas Moral
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:

Tidak ada komentar