Breaking News

Terdesak Perang Iran, Trump Ditinggal Pendukung dan Harga Minyak Melonjak, Demokrat Siap Menang Pemilu?


Dua minggu pasca-serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran, posisi politik Presiden Donald Trump kian terpojok.

Ketidakpastian arah konflik serta dampak ekonomi domestik yang masif membuat sang presiden mulai kehilangan dukungan, bahkan dari basis pemilih setianya sendiri.

Kekhawatiran publik AS memuncak seiring melonjaknya harga minyak mentah hingga menyentuh US$ 120 per barel.

Selain itu, pasar keuangan yang anjlok dan ancaman kenaikan harga barang pokok membuat Partai Demokrat semakin optimistis dalam menghadapi pemilu sela mendatang.

"Mereka bekerja sambil menebak-nebak, dan kita yang lain yang menanggung akibatnya," ujar Kelly Dietrich, CEO National Democratic Training Committee, merujuk pada minimnya perencanaan strategis pemerintahan Trump dalam konflik ini.

Dilema Selat Hormuz dan Ketergantungan Internasional

Di tengah kekacauan, Trump kini berupaya mengalihkan beban keamanan Selat Hormuz kepada komunitas internasional.

Padahal, sebelumnya ia sempat berjanji bahwa Angkatan Laut AS akan mengawal ketat tanker-tanker minyak di jalur vital tersebut.

"Semoga Cina, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan lainnya, yang terkena dampak akan mengirim kapal ke wilayah tersebut sehingga Selat Hormuz tidak lagi terancam oleh Iran," tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.

Namun, sejauh ini, negara-negara tersebut merespons dengan hati-hati, sementara Iran tetap menegaskan akan menggunakan penutupan selat sebagai alat tekanan terhadap AS dan Israel.

Kritik Internal dan Dampak Geopolitik

Perang ini juga menciptakan perpecahan di dalam kubu pendukung "Make America Great Again" (MAGA). Tokoh sayap kanan seperti Tucker Carlson secara tajam mengkritik langkah Trump.

Di sisi lain, langkah kontroversial pemerintah untuk menangguhkan sanksi Rusia selama 30 hari guna mengatasi kekurangan minyak justru menuai kecaman dari sekutu internasional.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menilai langkah tersebut kontraproduktif karena dinilai justru memperkuat posisi Vladimir Putin di Ukraina.

Sikap Indonesia di PBB

Di panggung internasional, Indonesia memutuskan untuk tidak menjadi co-sponsor Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2817 yang mengecam serangan Iran. Kementerian Luar Negeri RI menilai resolusi tersebut kurang mencerminkan prinsip keberimbangan.

“Indonesia berpandangan upaya-upaya untuk menyelesaikan konflik perlu tetap dilakukan secara damai dan melalui jalur diplomasi, tapi juga mengedepankan aspek keberimbangan dan inklusivitas,” jelas Juru Bicara Kemlu RI, Nabyl A. Mulachela.

Keputusan Indonesia ini mencerminkan sikap kehati-hatian dalam menanggapi eskalasi yang melibatkan aktor-aktor global seperti AS, Israel, dan Iran, di mana diplomasi damai tetap menjadi prioritas utama.***

Sumber: konteks
Foto: Posisi politik Trump terancam akibat Perang Iran dan lonjakan harga energi. (X @realDonaldTrump)

Terdesak Perang Iran, Trump Ditinggal Pendukung dan Harga Minyak Melonjak, Demokrat Siap Menang Pemilu? Terdesak Perang Iran, Trump Ditinggal Pendukung dan Harga Minyak Melonjak, Demokrat Siap Menang Pemilu? Reviewed by Oposisi Cerdas on Rating: 5

Tidak ada komentar