Subuh Berdarah di Undip, Arnendo Dianiaya Senior 5 Jam Nonstop dan Belum Ada Keadilan
Seorang mahasiswa jurusan Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Diponegoro bernama Arnendo (20) mengalami penganiayaan berat
oleh puluhan rekan satu jurusannya. Kejadian mengerikan ini berlangsung
sangat lama dan mengakibatkan korban menderita luka fisik permanen hingga
trauma psikis yang sangat mendalam.
Peristiwa pengeroyokan brutal ini terjadi pada tanggal 15 November 2025 di
Semarang. Arnendo diketahui dihajar oleh sekitar 30 orang mahasiswa mulai
dari pukul 23.00 WIB hingga baru berakhir saat adzan Subuh berkumandang pada
pukul 04.15 WIB. Selama waktu tersebut korban terus mendapatkan siksaan
fisik.
Penyebab awal kejadian ini diduga dipicu oleh kecemburuan salah satu pelaku
terhadap interaksi korban dengan seorang mahasiswi. Meskipun narasi
pelecehan sempat dilemparkan, kuasa hukum korban menegaskan bahwa hal
tersebut tidak benar dan murni merupakan serangan yang direncanakan oleh
para pelaku.
@infobimantara ♬ original sound - BiMANTARA
Detail penyiksaan yang dialami Arnendo sangat di luar batas kemanusiaan.
Selain dipukuli dan ditendang secara bergantian oleh puluhan orang, korban
juga harus merasakan sakit akibat disundut rokok di bagian tubuhnya. Para
pelaku juga memaksa melepas seluruh pakaian yang dikenakan oleh korban malam
itu.
"Setelah itu, mahasiswa yang ada di sana yang jumlahnya sekitar 30 orang
mulai mengelilingi korban, mencekam pokoknya. Mereka menendang, memukul
secara bergantian. Baju dilepas, jaket, celana jeans, dan sabuk juga
dilepas," ungkap Zainal, kuasa hukum dari pihak korban Arnendo.
Kekejaman pelaku berlanjut dengan tindakan merendahkan martabat manusia.
Area kemaluan Arnendo diolesi dengan cairan panas atau hot cream oleh para
pelaku. Tidak hanya itu, rambut dan alis korban juga dicukur secara paksa
sebagai bentuk intimidasi dan penghinaan di hadapan puluhan mahasiswa
lainnya.
Kondisi semakin parah ketika para pelaku menggunakan berbagai benda tumpul
untuk melukai korban. Arnendo dipukul menggunakan hanger baju, batang kayu,
hingga sabetan besi kepala sabuk di area kepala. Tindakan ini dilakukan
secara terus menerus dalam durasi yang sangat panjang hingga korban tak
berdaya.
Memasuki pukul 03.00 WIB, tindakan para pelaku dilaporkan semakin sadis dan
tidak terkendali. Leher Arnendo diikat menggunakan ikat pinggang dan ditarik
layaknya seekor anjing. Sambil melakukan tindakan tersebut, para pelaku yang
merupakan sesama mahasiswa justru menertawakan penderitaan korban tersebut.
"Sekitar pukul 03.00, leher korban juga diikat menggunakan ikat pinggang dan
diperlakukan seperti anjing di depan mereka semua sambil tertawa," ungkap
Zainal menceritakan kronologi.
Akibat pengeroyokan massal ini, Arnendo didiagnosa mengalami patah tulang
hidung dan gegar otak. Hasil pemeriksaan medis juga menunjukkan adanya
gangguan pada saraf mata korban. Luka fisik ini meninggalkan cacat yang
mengancam masa depannya, terutama cita-citanya untuk masuk kepolisian.
Selain luka fisik yang terlihat secara nyata, Arnendo juga mengalami trauma
mental yang sangat berat. Hingga saat ini, mahasiswa semester empat tersebut
memutuskan untuk mengambil cuti kuliah. Ia merasa sangat ketakutan karena
para pelaku yang menganiayanya masih berkeliaran bebas di kampus.
Keluarga korban yang bekerja sebagai pedagang nasi goreng kaki lima di
Kabupaten Semarang telah menempuh jalur hukum. Laporan resmi telah
dilayangkan ke Polrestabes Semarang sejak tanggal 16 November 2025, sehari
setelah kejadian. Namun, hingga awal Maret 2026 belum ada penangkapan
pelaku.
Zainal selaku kuasa hukum telah mendatangi Polrestabes Semarang untuk
menanyakan kelanjutan kasus ini kepada Kasatreskrim. Pihak keluarga mendesak
agar kepolisian segera melakukan tindakan nyata karena laporan sudah
berjalan berbulan-bulan tanpa adanya perkembangan yang signifikan bagi
korban.
"Diagnosis dari dokter adalah korban mengalami patah tulang hidung dan gegar
otak, serta gangguan saraf mata. Selain itu, Arnendo semester 4 berstatus
cuti karena trauma, apalagi pelaku satu jurusan belum ditangkap," tegas
Zainal saat menjelaskan kondisi terkini Arnendo.
Hingga saat ini, pihak Universitas Diponegoro diharapkan dapat mengambil
langkah tegas terhadap para mahasiswa yang terlibat. Kasat Reskrim
Polrestabes Semarang, AKBP Andika Dharma Sena, saat dikonfirmasi mengenai
perkembangan kasus ini belum memberikan respons resmi terkait status
penyelidikan terbaru.
Sumber:
indopop
Foto: Kondisi Arnendo Mahasiswa Undip Semarang Korban Bullying [Sumber: X]
Subuh Berdarah di Undip, Arnendo Dianiaya Senior 5 Jam Nonstop dan Belum Ada Keadilan
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
