Lebih 1.000 Murid dan Guru Jadi Korban Serangan Brutal, Iran Tuding AS-Israel Lakukan Genosida Terencana
Pemerintah Iran melontarkan tuduhan keras terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel terkait dampak perang yang sedang berlangsung.
Dalam forum internasional, Iran menyebut ratusan bangunan sekolah hancur dan ribuan pelajar menjadi korban sejak operasi militer dimulai akhir Februari 2026 lalu.
Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, dalam sidang darurat Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB di Jenewa, Swiss.
Ratusan Sekolah Hancur, Ribuan Korban Tewas
Araghchi mengungkapkan bahwa lebih dari 600 fasilitas pendidikan atau sekolah di berbagai wilayah Iran mengalami kerusakan atau kehancuran akibat serangan militer.
"Amerika Serikat dan Israel berusaha menormalisasi pelanggaran HAM dan hukum manusia dengan keji. Mereka menunjukkan keberanian untuk melakukan kejahatan berat tanpa hukuman," kata Araghchi.
Selain itu, ia menyebut lebih dari 1.000 siswa dan tenaga pengajar menjadi korban, baik tewas maupun terluka, sejak konflik pecah.
Data tersebut menggambarkan dampak serius perang terhadap masyarakat sipil, khususnya sektor pendidikan.
Serangan Sekolah Disebut Terencana
Salah satu insiden yang disorot adalah serangan terhadap sebuah sekolah dasar di Kota Minab, Iran selatan. Dalam pernyataannya, Araghchi menilai serangan tersebut bukanlah kebetulan.
Ia menegaskan bahwa penggunaan teknologi militer canggih oleh pihak penyerang seharusnya mampu menghindari target sipil seperti sekolah.
Menurutnya, hal ini memperkuat dugaan bahwa serangan dilakukan secara sengaja.
Ia juga menyebut serangan tersebut sebagai terencana, dengan korban jiwa mencapai lebih dari 175 siswa dan guru.
"Kekejaman ini tidak dapat dibenarkan, tidak dapat disembunyikan, dan tidak boleh dihadapi dengan diam maupun sikap acuh tak acuh," tegasnya.
Tuduhan Kejahatan Perang dan Kemanusiaan
Dalam forum internasional itu, Araghchi menyebut aksi militer terhadap Iran sebagai bentuk agresi yang tidak memiliki dasar hukum.
"Ini kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan serta bukan sekadar kesalahan teknis di medan tempur," terangnya.
Menurut Araghchi, tindakan tersebut membutuhkan respons tegas dari komunitas internasional, termasuk upaya penegakan akuntabilitas terhadap pihak yang bertanggung jawab.
Infrastruktur Sipil Jadi Sasaran
Selain sekolah, Iran juga menuduh serangan menyasar berbagai fasilitas sipil lainnya, termasuk rumah sakit, ambulans, petugas medis, serta infrastruktur vital seperti kilang minyak dan sumber air.
Araghchi menilai pola serangan ini menunjukkan tidak adanya penghormatan terhadap hukum perang dan prinsip kemanusiaan.
Ia bahkan menyebut pola tersebut mengindikasikan niat jahat yang lebih luas terhadap populasi sipil atau bisa disebut genosida terencana.
Iran Tegaskan Tak Ingin Perang
Meski melontarkan tuduhan keras, Iran menyatakan tak menginginkan konflik bersenjata. Namun, pemerintah menegaskan akan tetap mempertahankan kedaulatan negara.
Araghchi menekankan bahwa rakyat Iran memiliki tekad untuk menghadapi situasi yang disebutnya sebagai agresi eksternal.
Ia juga menyerukan agar komunitas global mengambil langkah nyata untuk menghentikan konflik dan menuntut pertanggungjawaban pihak-pihak terkait.***
Sumber: konteks
Foto: Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi tuding AS-Israel lakukan genosida terencana (Foto: AFP)
Lebih 1.000 Murid dan Guru Jadi Korban Serangan Brutal, Iran Tuding AS-Israel Lakukan Genosida Terencana
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:

Tidak ada komentar