Breaking News

Jutaan Massa 'No Kings' Kepung Jalanan, Demo Los Angeles Berakhir Ricuh


Gelombang amarah rakyat Amerika Serikat mencapai puncaknya. Jutaan orang dilaporkan turun ke jalan dalam aksi demonstrasi bertajuk 'No Kings' di berbagai kota besar di seantero negeri pada Sabtu (28/3/2026) waktu setempat. Aksi yang awalnya diniatkan sebagai protes damai menentang kebijakan otoriter Presiden Donald Trump tersebut berakhir ricuh di sejumlah titik, dengan Los Angeles menjadi palagan paling berdarah.

Eskalasi ketegangan ini dipicu oleh akumulasi kekhawatiran publik terhadap arah kebijakan pemerintahan Trump yang dianggap mengangkangi konstitusi. Meski ribuan aksi berlangsung tanpa kekerasan, bentrokan fisik antara demonstran dan aparat federal tidak terhindarkan, memaksa polisi mengeluarkan perintah pembubaran paksa dan melakukan penangkapan massal.

Los Angeles: Dari Orasi ke Hujan Gas Air Mata

Di Los Angeles, situasi berubah mencekam hanya beberapa jam setelah puluhan ribu orang berkumpul dengan tertib di pusat kota. Ketegangan meledak saat massa melakukan long march menuju pusat penahanan federal. Kepolisian Los Angeles (LAPD) segera menetapkan status siaga taktis dan menutup akses jalan utama.

Aksi yang semula damai berubah menjadi apa yang disebut otoritas sebagai 'pertemuan ilegal'. Sejumlah pengunjuk rasa nekat mencoba merobohkan pagar pembatas di Metropolitan Detention Center. Bentrokan pecah saat massa mulai melemparkan batu, botol, hingga bongkahan beton ke arah barisan petugas.

Aparat keamanan dalam negeri melaporkan dua petugas federal mengalami luka serius akibat lemparan beton saat sekitar 1.000 demonstran mengepung gedung federal. Sebagai balasan, polisi menembakkan gas air mata untuk memecah kerumunan massa yang kian beringas. Hingga berita ini diturunkan, puluhan orang telah diringkus polisi karena menolak membubarkan diri.


Suara dari Akar Rumput: Melawan Fasisme

Di balik kericuhan tersebut, terdapat kegelisahan mendalam dari para peserta aksi. Don Napoli, seorang veteran militer AS yang turut turun ke jalan, menyatakan bahwa keterlibatannya adalah bentuk kesetiaan pada konstitusi, bukan pada penguasa.

"Saya menghabiskan empat tahun di militer untuk melawan apa yang terjadi di negara kita saat ini. Ada seseorang yang memegang kekuasaan penuh dan sedang menimpa konstitusi kita," tegas Napoli dengan nada getir.

Senada dengan Napoli, Patrick Feliciano, peserta aksi lainnya, menilai arah pemerintahan saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. "Saya merasa pemerintahan sekarang membawa kita ke arah fasisme dan sedang menghancurkan demokrasi kita secara sistematis," ujarnya.

Gelombang Nasional hingga Global

Aksi 'No Kings' tercatat sebagai salah satu mobilisasi massa non-kekerasan terbesar dalam sejarah modern Amerika Serikat. Tercatat, demonstrasi berlangsung serentak di lebih dari 3.000 titik, mulai dari New York, Washington D.C., Chicago, hingga San Francisco.

Di New York, kawasan Times Square berubah menjadi lautan manusia. Tokoh publik seperti aktor legendaris Robert De Niro dan aktivis Al Sharpton tampak berdiri di garis depan. Di Minnesota, puluhan ribu orang memadati gedung parlemen negara bagian, diiringi penampilan musisi Bruce Springsteen yang membawakan lagu-lagu bernada kritik tajam terhadap kebijakan imigrasi pemerintah.

Tak hanya di domestik, gaung 'No Kings' merambat hingga ke mancanegara. Aksi solidaritas dilaporkan pecah di Perancis, Jerman, hingga Yunani. Penyelenggara aksi menegaskan bahwa ini adalah momentum bagi rakyat untuk menyadari bahwa mereka tidak sendirian dalam melawan tirani.


Respon Dingin Gedung Putih

Gedung Putih dan petinggi Partai Republik bereaksi keras dengan mengecam aksi tersebut. Dalam pernyataan resminya, juru bicara pemerintah menyebut demonstrasi kolosal ini sebagai bentuk kebencian murni terhadap negara. 

Mereka bahkan menyebut aksi tersebut hanya sekadar 'sesi terapi kebencian terhadap Trump' yang dibesar-besarkan oleh media.

Presiden Donald Trump sendiri, dalam wawancara sebelumnya, telah membantah tudingan bahwa dirinya bertindak seperti diktator. "Mereka menyebut saya sebagai raja. Saya bukan raja," kilahnya. 

Namun, bagi para kritikus, penggunaan aparat federal untuk membungkam demonstran dan perluasan kekuasaan eksekutif adalah bukti nyata bahwa demokrasi Amerika sedang berada di ujung tanduk.

Bayang-bayang Vietnam

Kekhawatiran akan perpecahan domestik yang kian dalam membuat beberapa pihak menyamakan situasi saat ini dengan era kelam Perang Vietnam. Joan Aebi, salah satu demonstran, menyebut konflik politik saat ini sebagai 'perang tanpa kemenangan'.

"Ini seperti Vietnam yang terulang kembali. Kita harus turun, bersuara, dan memilih mereka keluar," tambah Janet Nippel, menekankan pentingnya partisipasi politik untuk merebut kembali demokrasi melalui kotak suara.

Meski sebagian aksi di Los Angeles ternoda oleh kericuhan, penyelenggara tetap bersikukuh bahwa mayoritas rakyat Amerika masih menginginkan perubahan secara damai. 

Pertanyaannya kini, apakah suara jutaan orang di jalanan ini akan didengar oleh mereka yang berada di singgasana kekuasaan, atau justru menjadi bahan bakar bagi konflik yang lebih besar di masa depan?

Sumber: inilah
Foto: Demonstrasi kolosal 'No Kings' mengguncang 3.000 titik di Amerika Serikat menentang kebijakan Presiden Donald Trump. (Foto: Associated Press)

Jutaan Massa 'No Kings' Kepung Jalanan, Demo Los Angeles Berakhir Ricuh Jutaan Massa 'No Kings' Kepung Jalanan, Demo Los Angeles Berakhir Ricuh Reviewed by Oposisi Cerdas on Rating: 5

Tidak ada komentar