Jika Netanyahu Tewas, Terjadi Suksesi dan Arah Baru Israel
KABAR tentang wafatnya seorang pemimpin di tengah konflik selalu membawa dua hal sekaligus: ketidakpastian dan percepatan sejarah. Meski hingga kini tidak ada konfirmasi bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tewas, membayangkan skenario tersebut memberi kita jendela untuk memahami arah Israel dan Timur Tengah di titik paling rapuh.
Pengisi Kekosongan
Dalam sistem politik Israel, kekosongan jabatan perdana menteri tidak akan dibiarkan lama. Mekanisme konstitusional memungkinkan penggantian cepat melalui kabinet atau parlemen (Knesset). Namun, persoalannya bukan sekadar prosedur, melainkan siapa yang cukup kuat secara politik dan diterima oleh koalisi?
Setidaknya ada tiga figur yang kerap disebut dalam orbit kekuasaan, mereka adalah:
Pertama: Yoav Gallant. Sebagai Menteri Pertahanan, ia memiliki legitimasi dalam situasi perang. Jika ancaman keamanan menjadi prioritas utama, sosok seperti Gallant berpeluang naik karena dianggap “tangan besi” yang dibutuhkan.
Kedua: Yair Lapid. Ia representasi kubu yang lebih moderat. Dalam kondisi krisis, tekanan publik bisa mendorong figur seperti Lapid tampil sebagai alternatif untuk meredakan ketegangan.
Ketiga: Benny Gantz, mantan panglima militer yang memiliki kredibilitas keamanan sekaligus citra lebih seimbang. Ia sering dilihat sebagai figur kompromi di antara kubu keras dan moderat.
Namun realitas politik Israel saat ini menunjukkan satu hal terjadi, yakni fragmentasi. Koalisi rapuh, polarisasi tajam, dan tekanan perang membuat proses suksesi bukan hanya soal figur, tetapi soal pertarungan arah negara.
Eskalasi atau Reorientasi
Kematian Netanyahu, jika benar itu terjadi, akan mendorong Israel ke arah dua persimpangan strategis.
1. Konsolidasi Garis Keras
Dalam jangka pendek, skenario paling realistis adalah menguatnya pendekatan militeristik. Apalagi jika kematian tersebut terkait serangan dari aktor eksternal seperti: Hamas, Hezbollah, atau bahkan keterlibatan Iran.
Respons Israel hampir pasti akan keras. Dalam logika keamanan nasional, kehilangan pemimpin saat perang sering diterjemahkan sebagai serangan terhadap eksistensi negara.
Di titik ini, Israel Defense Forces akan menjadi aktor paling dominan. Politik sipil cenderung mengikuti ritme militer, bukan sebaliknya. Konsekuensinya, operasi militer diperluas, target musuh juga diperluas, sehingga risiko perang regional semakin meningkat.
2. Peluang Moderasi
Namun sejarah juga menyisakan kemungkinan lain. Kepergian figur dominan seperti Benjamin Netanyahu bisa membuka ruang bagi konsolidasi politik baru, tekanan publik untuk mengakhiri konflik berkepanjangan, dan reposisi hubungan dengan dunia Arab.
Figur seperti Gantz atau Lapid dapat memanfaatkan momentum ini untuk mendorong pendekatan yang lebih diplomatis. Tetapi peluang ini sangat bergantung pada satu faktor: apakah situasi keamanan memungkinkan jeda konflik? Sebab tanpa jeda, moderasi sulit tumbuh.
Dampak Regional
Timur Tengah adalah sistem yang saling terhubung. Perubahan di Israel hampir selalu berdampak lintas batas. Jika Netanyahu betul tewas dalam konteks konflik, maka eskalasi dengan Iran bisa meningkat, Front Lebanon melalui Hezbollah bisa memanas, Gaza tetap menjadi titik api.
Namun dalam jangka panjang, ada kemungkinan terjadinya “reset geopolitik”. Negara-negara Arab yang sebelumnya membuka normalisasi bisa meninjau ulang hubungan diplomatiknya dengan Israel.
Aktor global seperti Amerika Serikat akan menekan stabilitas, akibatnya menimbulkan peluang negosiasi baru, meski kecil tapi bisa berpotensi muncul. Masalahnya, Timur Tengah jarang bergerak lurus. Ia bergerak melalui krisis demi krisis.
Negara Tanpa Figur Dominan
Selama lebih dari satu dekade, Netanyahu bukan sekadar pemimpin saja, melainkan arsitek arah politik Israel. Dia sangat keras terhadap Iran, skeptis terhadap solusi dua negara (Israel dan Palestina), dan piawai memainkan politik koalisi.
Tanpa dirinya, Israel menghadapi satu pertanyaan besar: Apakah negara ini akan tetap berada dalam orbit politik keamanan ekstrem, atau mulai mencari keseimbangan baru?
Jawabannya tidak hanya ditentukan oleh siapa penggantinya, tetapi oleh tekanan publik domestik, dinamika ancaman eksternal, serta posisi Amerika Serikat sebagai sekutu utama.
Penutup
Dalam politik internasional, kematian seorang pemimpin di tengah konflik, bukanlah akhir cerita, melainkan awal babak baru yang lebih tidak pasti. Jika Benjamin Netanyahu benar-benar dinyatakan tewas, maka jangka pendeknya Israel cenderung mengeras dan konflik berpotensi melebar. Sedangkan jangka panjangnya, terbuka peluang perubahan arah, tetapi penuh risiko.
Perdamaian, dalam konteks ini, bukanlah hasil otomatis dari pergantian pemimpin. Ia tetap membutuhkan sesuatu yang lebih langka, yakni keberanian politik untuk keluar dari logika perang. Sejauh ini, itulah hal yang paling sulit ditemukan di Timur Tengah. rmol.id
Dr. Selamat Ginting
Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS)
______________________________________
Disclaimer: Rubrik Kolom adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan oposisicerdas.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi oposisicerdas.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.
Jika Netanyahu Tewas, Terjadi Suksesi dan Arah Baru Israel
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:

Tidak ada komentar