Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan internasional,
setelah ia dianggap merendahkan pemimpin de facto Arab Saudi, Putra Mahkota
Mohammed bin Salman, yang notabebe adalah sekutu strategisnya.
Dikutip dari The Wire, Sabtu (28/3/2026), Trump mengejek Pangeran MBS dalam
pidatonya di konferensi Future Investment Initiative di Florida.
Trump menyatakan, negara-negara Arab saat ini bekerja sama sangat erat
dengan Washington dalam perang yang sedang berlangsung melawan Iran.
Namun, yang menjadi sorotan utama adalah cara Trump menggambarkan dinamika
kekuasaan antara dirinya dan sang putra mahkota Arab Saudi.
🚨 TRUMP about MBS:
— Globe Observer (@_GlobeObserver) March 28, 2026
“He didn’t think he would be kissing my ass, he really didn’t…and now he has to be nice to me….he better be nice to me, he’s gotta be..” pic.twitter.com/WuDPfCiJsN
Trump mengklaim bahwa MBS pada akhirnya benar-benar menyerah pada
pengaruhnya.
“Dia tidak menyangka ini akan terjadi … dia tidak menyangka akan mencium
pantat saya … dia pikir itu hanya akan menjadi presiden Amerika lainnya yang
pecundang … tapi sekarang dia harus bersikap baik kepada saya,” ujar Trump
saat menceritakan kembali apa yang ia sebut sebagai percakapan pribadinya
dengan bangsawan Saudi tersebut mengenai kebangkitan AS di bawah
kepemimpinannya.
Menurut penuturan Trump, MBS sendiri mengakui perubahan drastis posisi tawar
Amerika Serikat di panggung dunia.
Trump menirukan ucapan sang Putra Mahkota: “Dia berkata, Anda tahu, ini luar
biasa … setahun yang lalu, Anda adalah negara yang mati. Sekarang, Anda
benar-benar negara paling panas di mana pun di dunia,” kenang Trump.
Meski menggunakan bahasa yang provokatif, Trump kemudian memberikan pujian
tinggi kepada MBS, menyebutnya sebagai "seorang pria yang luar biasa" dan
"seorang pejuang".
Ia juga menambahkan bahwa kerajaan Saudi "sangat bangga" atas
kepemimpinannya.
Aliansi Teluk di Tengah Gempuran Iran
Pernyataan ini muncul di tengah situasi regional yang sangat tidak stabil.
Sejak 28 Februari, kampanye militer gabungan AS-Israel terhadap Iran telah
dimulai dengan serangan skala besar yang menargetkan infrastruktur militer
dan nuklir Teheran.
Iran merespons dengan memperluas konflik, meluncurkan serangan rudal dan
drone tidak hanya ke Israel, tetapi juga ke beberapa negara Teluk yang
menampung aset militer AS.
Trump menegaskan, dalam konflik ini, Arab Saudi dan mitra Teluk lainnya
telah berdiri teguh di samping Amerika Serikat.
“Arab Saudi bertempur, Qatar bertempur, UEA bertempur, Bahrain bertempur,
dan Kuwait bertempur,” katanya.
Ia menekankan loyalitas mereka dengan menambahkan bahwa mereka “bersama kita
… mereka bersama kita”.
Menariknya, meskipun Trump menggambarkan negara-negara ini sebagai mitra
aktif, secara resmi negara-negara Teluk tetap menunjukkan sikap hati-hati di
depan publik.
Mereka khawatir akan risiko pembalasan langsung dari Iran dan dampak ekonomi
yang lebih luas, terutama gangguan pada infrastruktur energi dan Selat
Hormuz.
Namun, laporan media menunjukkan bahwa di balik layar, UEA dan Arab Saudi
mungkin mendorong Trump untuk terus melumpuhkan kemampuan militer Iran.
Kritik Keras Terhadap NATO
Dalam kesempatan yang sama, Trump secara tajam membandingkan kontribusi
negara-negara Teluk dengan sekutu tradisional AS di Eropa. Ia menyatakan
kekecewaannya terhadap NATO yang dianggapnya pasif dalam konflik terbaru
ini.
“Kami sangat kecewa … dengan NATO. Mereka tidak datang membantu kami,”
cetusnya.
Ia menilai bahwa negara-negara Arab telah berbuat lebih banyak "dalam segala
kejujuran … lebih dari NATO".
Trump juga mengaitkan keselarasan politik ini dengan hubungan ekonomi yang
kuat, menunjuk pada komitmen investasi Saudi dan kesepakatan pertahanan.
Ia juga mendesak Riyadh untuk segera bergabung dalam Abraham Accords guna
memperkuat stabilitas regional.
“Sekarang saatnya … kita sekarang telah mengeluarkan mereka … kita harus
masuk ke dalam Abraham Accords,” tegasnya.
Ambisi Menjadi Tokoh Perdamaian Dunia
Menutup pidatonya, Trump mengungkapkan ambisinya untuk dikenang sebagai
"pembawa damai yang hebat".
Ia mengklaim bahwa dirinya telah "menyelesaikan delapan perang" dan merasa
layak menerima Hadiah Nobel Perdamaian.
Salah satu klaim yang ia ulangi adalah intervensinya dalam meredakan
ketegangan antara dua kekuatan nuklir Asia Selatan.
“Saya bahkan menghentikan India dan Pakistan … mereka sedang bertikai … Saya
berkata, jika Anda terus berperang, saya akan mengenakan tarif 250 persen
pada masing-masing … 'baiklah, kami tidak akan berperang lagi',” pungkas
Trump.
Sumber:
suara
Foto: Presiden Donald Trump saat berpidato dalam Konferensi Future
Investment Initiative di Florida (kiri) dan pemimpin de facto Arab Saudi,
Pangeran Mohammed bin Salman (kanan). [Suara.com]
Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:

Tidak ada komentar