Bos Kontraterorisme AS Mundur, Akui Serangan ke Iran Karena Trump Dikibuli Israel
Pejabat tinggi kontraterorisme pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah
mengundurkan diri karena perang di Iran. Ia mengungkapkan, alasan sebenarnya
serangan AS ke negara itu semata karena informasi palsu dari Israel dan lobi
Zionis.
Dalam surat yang diposting ke akun X-nya, Direktur Pusat Kontra Terorisme
Nasional Joe Kent mengatakan bahwa Iran "tidak menimbulkan ancaman" bagi AS.
Ia kemudian mengklaim bahwa pemerintah "memulai perang ini karena tekanan
dari Israel dan lobi di Amerika yang kuat".
Dalam surat yang ditujukan kepada Trump, Kent mengungkapkan bahwa "pejabat
tinggi Israel" dan jurnalis berpengaruh AS telah menyebarkan "informasi yang
salah" yang menyebabkan presiden tersebut melemahkan platform "America
First" miliknya. “Ruang gaung ini digunakan untuk menipu Anda agar percaya
bahwa Iran merupakan ancaman bagi Amerika Serikat,” lanjut surat itu. "
"Ini adalah kebohongan dan merupakan taktik yang sama yang digunakan Israel
untuk menyeret kita ke dalam perang Irak yang menghancurkan dan mengorbankan
nyawa ribuan pria dan wanita terbaik kita. Kita tidak bisa melakukan
kesalahan ini lagi."
Merujuk BBC, Kent (45) adalah pasukan khusus AS dan veteran CIA yang
istrinya, teknisi kriptologi angkatan laut Shannon Kent, tewas dalam
pemboman di Suriah pada tahun 2019.
Gedung Putih telah menyangkal surat tersebut dan mengatakan bahwa Trump
memiliki “bukti kuat” bahwa Iran akan menyerang AS terlebih dahulu. Hal ini
berkebalikan dengan laporan bahwa AS-Israel menyerang saat Iran sedang
berunding dengan AS dan disebut bersedia mengendorkan prasyaratnya.
Berbicara di Ruang Oval pada hari Selasa, Trump mengatakan bahwa menurutnya
Kent adalah "orang baik" tetapi "lemah dalam hal keamanan". Trump mengatakan
bahwa surat pengunduran diri Kent menyadarkannya bahwa "adalah hal yang baik
bahwa dia mengundurkan diri" dan bahwa dia tidak setuju dengan penilaian
Kent mengenai ancaman Iran.
After much reflection, I have decided to resign from my position as Director of the National Counterterrorism Center, effective today.
— Joe Kent (@joekent16jan19) March 17, 2026
I cannot in good conscience support the ongoing war in Iran. Iran posed no imminent threat to our nation, and it is clear that we started this… pic.twitter.com/prtu86DpEr
Berbicara di Ruang Oval pada hari Selasa, Trump mengatakan bahwa menurutnya
Kent adalah "orang baik" tetapi "lemah dalam hal keamanan". Trump mengatakan
bahwa surat pengunduran diri Kent menyadarkannya bahwa "adalah hal yang baik
bahwa dia mengundurkan diri" dan bahwa dia tidak setuju dengan penilaian
Kent mengenai ancaman Iran.
Dengan kepergiannya, Kent menjadi tokoh paling terkenal di pemerintahan
Trump yang secara terbuka mengkritik operasi AS-Israel di Iran.
Kent, seorang pendukung lama Trump yang gagal mencalonkan diri sebagai
anggota Kongres sebanyak dua kali, dicalonkan oleh presiden pada awal masa
pemerintahannya. Ia hanya mendapat sedikit persetujuan untuk jabatannya,
dengan banyak anggota Partai Demokrat mengkritik hubungannya dengan kelompok
ekstremis termasuk anggota Proud Boys.
Dalam sidang konfirmasi, Kent juga menolak untuk menarik kembali klaim bahwa
agen federal telah mengobarkan kerusuhan 6 Januari di US Capitol atau bahwa
Trump telah memenangkan pemilu tahun 2020.
Di Pusat Kontraterorisme Nasional, ia melapor kepada Direktur Intelijen
Nasional Tulsi Gabbard dan mengawasi analisis dan deteksi potensi ancaman
teroris dari seluruh dunia.
Sebelumnya, Kent sudah 11 kali dikerahkan ke luar negeri bersama militer AS,
termasuk dengan pasukan khusus Angkatan Darat AS di Irak. Dia kemudian
menjadi petugas paramiliter di CIA, sebelum meninggalkan dinas pemerintah
setelah kematian istrinya.
Kecurigaan bahwa Amerika Serikat melaksanakan serangan ke Iran untuk
kepentingan Israel sudah muncul sejak awal serangan. Kecurigaan ini menguat
setelah Menteri Luar Negeri AS Mark Rubio mengungkapkan bahwa Amerika
Serikat terpaksa ikut menyerang Iran karena nafsu perang Israel.
Menurutnya, tekad Israel untuk menyerang Iran dan kepastian bahwa pasukan AS
akan menjadi sasaran sebagai balasannya memaksa pemerintahan Trump untuk
melakukan serangan.
Yang disampaikan Rubio ini adalah penjelasan baru soal alasan masuknya
Washington secara mengejutkan ke dalam konflik tersebut. Hal itu ia
sampaikan pada Senin malam saat memberikan pengarahan pertama pemerintahan
Trump kepada Kongres AS sejak memerintahkan kampanye udara dimulai pada
akhir pekan.
Rubio; direktur CIA, John Ratcliffe; dan kepala staf gabungan, ketua Dan
Caine; berbicara kepada para anggota parlemen secara tertutup di Capitol
menjelang pemungutan suara yang diharapkan akhir pekan ini di Kongres
mengenai resolusi kekuatan perang yang memberikan peluang yang tidak mungkin
untuk memaksa Trump mengakhiri permusuhan terhadap Iran.
“Sangat jelas bahwa jika Iran diserang oleh siapapun – Amerika Serikat atau
Israel atau siapa pun – mereka akan membalas, dan membalas dengan melawan
Amerika Serikat,” kata Rubio kepada wartawan di Capitol.
"Kami tahu bahwa akan ada tindakan Israel. Kami tahu bahwa hal itu akan
memicu serangan terhadap pasukan Amerika, dan kami tahu bahwa jika kami
tidak melakukan tindakan pencegahan sebelum mereka melancarkan serangan,
kami akan menderita lebih banyak korban jiwa."
Sumber:
republika
Foto: Direktur Pusat Kontra Terorisme Nasional Amerika Serikat Joseph
Kent/Net
Bos Kontraterorisme AS Mundur, Akui Serangan ke Iran Karena Trump Dikibuli Israel
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:

Tidak ada komentar