Benteng Langit Israel Retak? Stok Rudal Pencegat Dilaporkan Menipis di Tengah Gempuran Iran
Memasuki pekan kelima konfrontasi bersenjata di Timur Tengah, keperkasaan sistem pertahanan udara Israel yang selama ini dianggap tak tertembus kini mulai dipertanyakan. Di balik klaim kesuksesan intersepsi yang mencapai 92 persen, muncul laporan mengkhawatirkan mengenai penipisan stok amunisi strategis untuk membendung hujan proyektil dari Iran dan Hizbullah.
Para analis militer kini menyoroti apakah Israel masih memiliki napas cukup panjang untuk menghadapi perang atrisi (kelelahan) yang kian intens. Meski militer Israel (IDF) membantah keras adanya kelangkaan rudal, data lapangan menunjukkan adanya pergeseran taktis yang mengindikasikan bahwa gudang senjata mereka sedang tidak baik-baik saja.
Pertahanan Berlapis yang Terkuras
Israel mengandalkan arsitektur pertahanan udara paling kompleks di dunia. Di lapisan tertinggi, terdapat sistem Arrow 2 dan Arrow 3 yang bertugas mencegat rudal balistik antarbenua bahkan hingga ke luar atmosfer. Di bawahnya, David’s Sling mengawal langit dari ancaman jarak menengah seperti rudal jelajah dan drone. Sementara itu, Iron Dome yang legendaris tetap menjadi garda terakhir untuk roket jarak pendek.
Tak hanya itu, Amerika Serikat juga telah memperkuat payung udara ini dengan mengirimkan beberapa baterai sistem THAAD (Terminal High Altitude Area Defense).
"Tidak ada wilayah di Israel yang tidak berada di bawah pertahanan berlapis," ujar Brigadir Jenderal Pini Yungman, presiden perusahaan pertahanan TSG sekaligus sosok kunci pengembang pertahanan udara Israel, dikutip dari AFP. Namun, Yungman mengakui bahwa pertahanan tidak ada yang sempurna 100 persen.
Data Krisis: 81 Persen Stok Arrow Ludes?
Bantahan militer Israel bertolak belakang dengan temuan lembaga kajian pertahanan RUSI (Royal United Services Institute) yang berbasis di London. Analisis RUSI mengungkapkan angka yang mengejutkan: dalam 16 hari pertama konflik saja, pasukan koalisi (AS, Israel, dan sekutu regional) telah menghabiskan sekitar 11.294 amunisi pencegat.
Biaya yang dikeluarkan pun fantastis, mencapai US$26 miliar atau sekitar Rp412 triliun. Penipisan paling kritis terjadi pada rudal pencegat jarak jauh. RUSI memperkirakan bahwa 81,33 persen dari total stok rudal Arrow milik Israel sebelum perang telah habis digunakan. Jika ritme pertempuran tidak melambat, stok ini diprediksi akan ludes sepenuhnya pada akhir Maret 2026.
Masalah utamanya bukan sekadar uang. Letnan Kolonel Angkatan Udara AS, Jahara Matisek, menyebut kondisi ini sebagai kendala 'fisika industri'. Produksi rudal Arrow 2 yang berharga US$1,5 juta per unit dan Arrow 3 seharga US$2 juta per unit tidak bisa disamakan dengan memproduksi gawai secara massal. Lini produksinya sangat spesifik dan sulit untuk ditingkatkan volumenya dalam waktu singkat.
Taktik Penghematan dan Jebolnya Dimona
Kekhawatiran akan menipisnya stok Arrow mulai terlihat dari perubahan pola pertahanan IDF. Laporan dari surat kabar finansial Israel, Calcalist, menyebutkan militer kini lebih sering memilih menggunakan sistem David’s Sling untuk mencegat rudal balistik Iran—sebuah tugas yang seharusnya menjadi porsi Arrow. Langkah ini dinilai sebagai upaya putus asa untuk menghemat sisa stok Arrow yang kian langka.
Namun, penghematan ini harus dibayar mahal. Pekan lalu, kegagalan sistem David’s Sling mengakibatkan rudal balistik Iran berhasil menghantam kota selatan Dimona dan Arad. Insiden di Dimona menjadi sorotan dunia mengingat wilayah tersebut diyakini secara luas sebagai lokasi penyimpanan persenjataan nuklir Israel yang tidak diumumkan.
"Jika perang berlanjut, konsekuensinya adalah pesawat koalisi harus terbang lebih jauh ke wilayah udara Iran untuk melakukan intersepsi manual, yang berarti risiko kehilangan pilot dan pesawat menjadi jauh lebih tinggi," tegas Matisek.
Kini, Israel berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, mereka harus terus memuntahkan rudal pencegat demi melindungi warga sipil dan instalasi strategis. Di sisi lain, lini produksi senjata mereka tidak mampu mengejar kecepatan Iran dalam meluncurkan rudal balistik. Jika benteng langit ini benar-benar kosong, maka sejarah baru yang kelam bagi pertahanan Israel mungkin saja akan tertulis di akhir bulan ini.
Sumber: inilah
Foto: Sistem pertahanan udara Israel, Iron Dome. (Foto: EPA-EFE/Abir Sultan)
Benteng Langit Israel Retak? Stok Rudal Pencegat Dilaporkan Menipis di Tengah Gempuran Iran
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:

Tidak ada komentar