Breaking News

Bagaimana Hizbullah Kembali Bangkit Setelah Dideklarasikan Hancur Lebur oleh Israel


Selama lebih dari setahun, Israel, Amerika Serikat (AS), bahkan pemerintah Lebanon berbicara seolah-olah Hizbullah telah lumpuh selamanya. Fakta di medan tempur saat ini berkata lain. Gerakan perlawanan Islam Lebanon tersebut kembali terlibat perang terbuka dengan Israel, meluncurkan serangan balasan sebagai respons atas perang AS-Israel terhadap Iran.

Performa Hizbullah belakangan ini menunjukkan bahwa gencatan senjata selama 15 bulan (sejak November 2024) sebagai akhir dari perang. Hizbullah justru tampak menganggapnya sebagai sebuah "jendela operasional" yang sempit dan mendesak untuk membangun kembali, mengorganisasi ulang, dan bersiap menghadapi apa yang mereka yakini pasti akan terjadi.

Middle East Eye menulis, pada 27 November 2024, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeklaim telah memundurkan kemampuan Hizbullah "beberapa dekade", menghancurkan sebagian besar roket, dan melenyapkan kepemimpinannya. Di Washington, Komandan Pusat Komando AS (CENTCOM) Michael Kurilla menyebut Hizbullah telah "musnah".

Meski demikian, narasi tersebut tampaknya keliru dalam membedakan antara "kerugian besar" dengan "keruntuhan strategis". Menurut sumber yang dekat dengan proses pemulihan Hizbullah, rekonstruksi dimulai tepat satu hari setelah gencatan senjata berlaku.

Tugas yang dihadapi Hizbullah sangat besar

Pada 17 September 2024, Israel meledakkan ratusan pager yang digunakan oleh anggota partai, melukai puluhan orang, sebagian besar warga sipil, dan mengungkap penetrasi intelijen yang mengejutkan.

Pada bulan itu, serangan udara dahsyat di Beirut dan daerah lain di negara itu menewaskan para pemimpin militer tertinggi partai tersebut, serta sekretaris jenderal mereka yang telah lama menjabat, Hassan Nasrallah.

Israel telah menyerang Hizbullah dengan kampanye kejutan berlapis-lapis yang bertujuan untuk merusak komando, mengungkap jaringan, dan melumpuhkan kemampuan mereka untuk berfungsi.

Sebuah sumber menggambarkan kepemimpinan Hizbullah sebagai "buta, terpecah, dan hancur", ketika pasukan Israel memulai invasi darat pada Oktober 2024 setelah kampanye pengeboman yang intens.

"Keteguhan para pejuang di perbatasan yang berjuang sampai mati memberi para pemimpin militer tertinggi partai yang tersisa ruang untuk bernapas dan mengumpulkan diri untuk berkumpul kembali," kata sebuah sumber kepada Middle East Eye.

Kembali ke semangat Mughniyeh

Hizbullah menyadari bahwa arsitektur komunikasi mereka telah ditembus sangat dalam oleh intelijen Israel (tercermin dari tragedi ledakan pager dan pembunuhan Hassan Nasrallah). Untuk melakukan adaptasi, mereka melakukan perombakan struktural radikal:
  1. Komunikasi Primitif: Meninggalkan jaringan digital dan kembali ke metode "kuno" seperti kurir manusia dan pesan tulisan tangan untuk menghindari pelacakan real-time.
  2. Unit Semi-Otonom: Kembali ke doktrin "Semangat Mughniyeh" (merujuk pada mendiang komandan Imad Mughniyeh). Alih-alih struktur tentara konvensional yang terpusat, mereka beralih ke unit-unit kecil yang tersebar dan mampu beroperasi mandiri tanpa instruksi konstan dari pusat.
  3. Desentralisasi Komando: Hubungan ke komando pusat dibuat lebih longgar namun lebih tahan banting terhadap upaya pemenggalan kepemimpinan (decapitation strikes).
Infiltrasi senyap di selatan Litani

Secara publik, kesepakatan gencatan senjata menuntut tidak ada kehadiran militer Hizbullah di selatan Sungai Litani. Namun, sumber lapangan menyebutkan Hizbullah tidak membutuhkan formasi besar yang terlihat.

Mereka mengandalkan sel-sel kecil untuk memperbaiki fasilitas yang rusak secara diam-diam, mengaktifkan kembali situs yang tidak terdeteksi, dan memperkuat posisi secara senyap di bawah hidung tentara Lebanon dan PBB.

"Kami menyambungkan siang dan malam, mengandalkan koordinasi orang ke orang untuk memulihkan keadaan," ujar salah satu sumber.

Banyak pihak yakin jalur pasokan Hizbullah terputus setelah jatuhnya rezim Assad di Suriah. Namun, kekacauan di Suriah justru memberikan peluang singkat bagi Hizbullah untuk mengosongkan gudang-gudang senjata sebelum otoritas baru mengonsolidasikan kendali.

Pada saat yang sama, mereka terus mengisi ulang stok roket dan drone melalui dukungan Iran dan manufaktur lokal.

Keberhasilan Hizbullah meluncurkan puluhan drone dan roket yang mencapai Ashkelon dan wilayah selatan Israel dalam beberapa pekan terakhir membuktikan bahwa mereka jauh dari kata relevan.

"Mantan kepala media kami, Mohammed Afif, sering mengatakan: 'Hizbullah bukanlah sekadar partai, ia adalah sebuah bangsa, dan bangsa tidak pernah mati'," kenang seorang sumber. Serangan beruntun ini menjadi bukti bahwa jeda perang selama setahun terakhir dimanfaatkan secara efektif sebagai masa persiapan untuk konfrontasi yang lebih besar.

Sumber: republika
Foto: Pemimpin Hizbullah Sheikh Naim Qassem berbicara di Beirut, Lebanon, 13 Oktober 2023/Foto: REUTERS/Zohra Bensemra

Bagaimana Hizbullah Kembali Bangkit Setelah Dideklarasikan Hancur Lebur oleh Israel Bagaimana Hizbullah Kembali Bangkit Setelah Dideklarasikan Hancur Lebur oleh Israel Reviewed by Oposisi Cerdas on Rating: 5

Tidak ada komentar