Breaking News

Ancaman 'Kiamat' Energi: Trump Beri Ultimatum, Guncang Pasokan Migas Dunia


Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman untuk "melenyapkan" infrastruktur energi Iran.

Ultimatum ini muncul hanya berselang sehari setelah ia sempat menyinggung rencana untuk meredakan perang yang kini memasuki minggu keempat.

Melalui unggahan di media sosial pada Sabtu (21/3/2026), Trump memberikan batas waktu 48 jam bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya tanpa ancaman.

"Jika tidak, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar!" tegas Trump.

Ancaman Meluas ke Infrastruktur Sipil

Langkah Trump ini menandai eskalasi signifikan karena target serangan kini diperluas ke infrastruktur yang berdampak langsung pada kehidupan warga sipil Iran.

Pembangkit listrik raksasa seperti Damavand (2.868 MW), Kerman (1.910 MW), hingga PLTN Bushehr (1.000 MW) kini berada dalam bidikan militer AS.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memicu guncangan energi global. Jalur sempit ini merupakan urat nadi bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Pekan lalu, harga gas di Eropa bahkan melonjak hingga 35% akibat tersendatnya jalur distribusi ini.

Balasan Mematikan dari Teheran

Merespons ancaman tersebut, Dilansir via Reuters, markas komando militer Khatam al-Anbiya Iran pada Minggu menyatakan tidak akan tinggal diam.

Jika AS menyerang infrastruktur energi mereka, Iran bersumpah akan menargetkan seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, hingga instalasi desalinasi air milik AS di seluruh kawasan Timur Tengah.

Konflik ini juga memasuki teritori baru yang berbahaya setelah Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik jarak jauh untuk pertama kalinya sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.

Kepala militer Israel, Eyal Zamir, mengungkapkan bahwa dua rudal Iran dengan daya jangkau 4.000 km meluncur ke arah pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia, Samudera Hindia.

"Rudal-rudal ini bukan hanya ancaman bagi Israel. Jangkauannya mampu mencapai ibu kota Eropa seperti Berlin, Paris, dan Roma," ujar Zamir dalam pernyataan resminya.

Sinyal Membingungkan dan Tekanan Domestik

Di dalam negeri, Trump menghadapi kritik atas pesan yang simpang siur terkait tujuan akhir perang ini. Meskipun retorikanya beralih ke ancaman penghancuran total, pemilih AS mulai khawatir akan dampak inflasi akibat lonjakan harga energi yang memukul daya beli masyarakat menjelang pemilihan Kongres bulan November mendatang.

Trump juga menuduh sekutu-sekutu NATO "penakut" karena enggan membantu pembukaan Selat Hormuz secara militer. Sebagian besar sekutu menyatakan keberatan terlibat dalam perang yang dimulai Trump tanpa konsultasi sebelumnya.

Serangan Balasan ke Wilayah Israel

Situasi di lapangan terus memburuk setelah rudal Iran menghantam kota Dimona dan Arad di Israel Selatan pada Sabtu malam, melukai puluhan orang termasuk anak-anak.

Reaktor nuklir rahasia Israel terletak hanya sekitar 13 km dari Dimona, meningkatkan kekhawatiran akan bencana nuklir jika area tersebut terkena dampak langsung.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan malam itu sebagai "malam yang sangat sulit dalam pertempuran demi masa depan." Militer Israel kini dilaporkan tengah melakukan serangan balasan langsung ke jantung kota Teheran.

Sejak perang dimulai, tercatat lebih dari 2.000 orang telah tewas, termasuk 15 warga Israel akibat serangan langsung dari Iran.

Sumber: suara
Foto: Kasus dugaan penipuan yang menjerat perusahaan Presiden AS, Donald Trump serta anak-anaknya memasuki babak baru. [Tangkap layar X]

Ancaman 'Kiamat' Energi: Trump Beri Ultimatum, Guncang Pasokan Migas Dunia Ancaman 'Kiamat' Energi: Trump Beri Ultimatum, Guncang Pasokan Migas Dunia Reviewed by Oposisi Cerdas on Rating: 5

Tidak ada komentar