Breaking News

Buntut Wasekjen Demokrat Temui Jokowi di Solo, Pengamat Tak Percaya Spontan, Ini Maksud di Baliknya


Kedatangan Wakil Menteri Tenaga Kerja (Wamenaker) yang juga menjabat Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Afriansyah Noor ke kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Kota Solo, Jawa Tengah pada Minggu (8/2/202) menjadi sorotan. 

Pertemuan berlangsung di kediaman Jokowi di Jalan Kutai Utara, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Minggu (8/2/2026) siang.

Afriansyah mengaku tak melapor ke Ketua Majelis Tinggi Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), soal kunjungannya ke rumah Jokowi, sebab dilakukan secara spontan.

"Kebetulan saya tidak melaporkan ke Pak SBY (kunjungan ke Jokowi), ini kan go show, spontanitas saja," katanya setelah bertemu Jokowi, Minggu, dikutip dari YouTube KompasTV.

Afriansyah menambahkan, ia baru mendapat jadwal bertemu Jokowi saat berkunjung ke Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Kota Solo.

Saat berada di Sondakan, Afriansyah mendapat kabar bisa bertemu Jokowi pukul 11.30 WIB.

"Saya takut Pak Jokowi sibuk, jadi saya ketika sampai Solo, saat kunjungan ke Sondakan, kita lihat (jadwal) dan saya dapat waktu (bertemu Jokowi) pukul 11.30 WIB," jelasnya.

Pernyataan Afriansyah ini tidak membuat percaa Pengamat politik, Adi Prayitno langsung percaya.

Ia meyakini sudah ada komunikasi sebelumnya antara Demokrat dan Jokowi.

"Tidak ada pertemuan yang disebut secaraspontanitas, karena apapun judulnya Pak Afriansyah itu adalah Wasekjen Demokrat dan Pak Jokowi adalah mantan Presiden yang tingkat kesibukannya juga di atas rata-rata," urai Adi saat wawancara bersama KompasTV, Minggu.

"Bagi saya, ini pertemuan (Jokowi dan Afriansyah) tidak lagi dalam ruang hampa, tidak ujug-ujug dan pastinya sudah ada komunikasi," imbuh dia.

Maksud di Baliknya

Adi meyakini dalam pertemuan itu banyak hal yang didiskusikan.

Pertemuan itu juga dimaksudkan untuk menurunkan tensi persaingan politik antara Partai Demokrat dengan Jokowi yang hampir setahun ini selalu dihadap-hadapkan dan seakan-akan menjadi dua rival yang tidak berkesudahan.

"Satu hal yang pasti bahwa pertemuan-pertemuan elit kunci semacam ini memang dikesankan hanya sebatas nostalgia dan spontanitas. Tapi di belakang layar pasti ada pesan-pesan yang tersirat. Yaitu adalah soal sebenarnya Partai Demokrat tidak ada hubungannya dengan polemik-polemik ijazah," ungkapnya. 

Selain itu, pertemuan itu juga untuk menegaska bahwa Partai Demokrat tidak ada hubungannya dengan polemik ijazah.

"Yang kedua itu soal bagaimana ketegangan politik ya antara Demokrat dengan Pak Jokowi tidak seperti yang dipersepsikan publik, tidak seperti yang ditampakkan oleh bagaimana pembicaraan-pembicaraan publik, tapi keduanya biasa-biasa saja," katanya. 

Untuk itu, menurut Adi, Partai Demokrat harus memberikan statemen langsung apakah memang pertemuan itu untuk menolak ataupun membendung polemik yang demokrat yang kerap dikaitkan dengan polemik ijazah Jokowi.

"Jangan sampai menimbulkan spekulasi misalnya Pak Wamen itu bermanover di tengah hubungan yang tidak baik-baik saja antara demokrat dengan Pak Jokowi, tapi ada salah satu pengurusnya yang kemudian berkunjung ke Solo.

"Oleh karena itu menjadi penting sebenarnya dalam beberapa hari ke depan kita ingin mendengarkan bagaimana statement resmi dari Partai Demokrat soal pertemuan kedua tokoh ini.  Karena tanpa itu semua saya kira wajar kalau kemudian publik itu banyak sekali spekulasi-spekulasi yang bermunculan itu," tukasnya. 

Pernyataan Wasekjen Demokrat

Sebelumnya, Afriansyah menyebut pertemuan tersebut bernuansa nostalgia sekaligus menjadi ruang diskusi ringan mengenai kondisi nasional, khususnya keberlanjutan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Jadi ini nostalgia. Sekaligus kami berdiskusi hal-hal kecil. Dan tentunya ke depan pemerintahan Bapak Prabowo dan Mas Gibran sebagai wakil presiden ini bisa berjalan mulus sampai 2029. Kami dari kabinet Pak Prabowo-Gibran fokus bekerja,” ujar Afriansyah usai pertemuan, dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.

Dalam kapasitasnya sebagai Wamenaker, Afriansyah menegaskan bahwa agenda utamanya saat ini adalah menyelesaikan berbagai persoalan strategis di sektor ketenagakerjaan.

Ia menekankan pentingnya kebijakan yang berpihak pada pekerja dan peningkatan kesejahteraan buruh secara berkelanjutan.

“Kalau di bidang ketenagakerjaan, fokus kami soal pekerja, upah buruh, upah minimum, kemudian profesionalisme, serta bagaimana menciptakan kesejahteraan melalui BPJS Ketenagakerjaan,” jelasnya.

Ia berharap langkah-langkah tersebut mampu memperkuat sistem ketenagakerjaan nasional sekaligus memberi rasa aman dan perlindungan yang lebih baik bagi para pekerja di Indonesia.

Demokrat Tegas Tak Terkait Polemik Ijazah Jokowi

Dalam pertemuan itu, Afriansyah juga menegaskan posisi Partai Demokrat yang tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan polemik ijazah Jokowi yang belakangan mencuat ke ruang publik.

Menurutnya, isu tersebut sama sekali tidak dibahas dalam pertemuan dengan Jokowi.

“Kalau soal ijazah, saya tidak bersinggungan sama sekali karena saya tahu persis. Menurut keyakinan saya, Pak Jokowi selama berproses dalam politik hingga menjadi presiden sudah melalui tahapan-tahapan yang sah,” ujar Afriansyah.

Ia menambahkan bahwa Jokowi memahami sepenuhnya sikap Demokrat yang konsisten menjauh dari isu-isu fitnah dan tudingan tanpa dasar.

“Demokrat sangat tidak mungkin membuat fitnah atau menuduh. Itu bukan wataknya Pak SBY (Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono), bukan wataknya Mas AHY (Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono), dan juga bukan wataknya Partai Demokrat,” tegasnya.

Pesan Persatuan Bangsa dan Salam untuk SBY-AHY

Afriansyah turut menyampaikan pesan Jokowi yang menitipkan salam kepada Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Menurutnya, Jokowi menekankan pentingnya persatuan seluruh elemen bangsa dalam membangun Indonesia ke depan.

"Harapan beliau, dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar, sekitar 280 juta jiwa, kita harus bersama-sama membangun bangsa. Seluruh tokoh bangsa perlu bersatu untuk membuat negara ini lebih kuat, sejahtera, dan mantap,” jelas Afriansyah.

Ia menegaskan bahwa Partai Demokrat tetap berkomitmen pada politik santun, nasionalisme religius, serta peran aktif dalam menjaga stabilitas dan persatuan nasional

Sumber: tribunnews
Foto: SPONTAN - Wasekjen Demokrat, Afriansyah Noor berkunjung ke kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Kota Solo, Jawa Tengah pada Minggu (8/2/202)/Surya.co.id

Buntut Wasekjen Demokrat Temui Jokowi di Solo, Pengamat Tak Percaya Spontan, Ini Maksud di Baliknya Buntut Wasekjen Demokrat Temui Jokowi di Solo, Pengamat Tak Percaya Spontan, Ini Maksud di Baliknya Reviewed by Oposisi Cerdas on Rating: 5

Tidak ada komentar