Gus Abbas: Hadramaut Itu Tempatnya Orang-orang Yahudi
Ketua Umum Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS), K.H. Abbas Billy Yachsy atau yang akrab disapa Gus Abbas, menyampaikan pandangan yang cukup menarik dan menggugah perdebatan seputar sejarah Islam di kawasan Jazirah Arab. Dalam sebuah forum kajian yang digelar belum lama ini, Gus Abbas menegaskan bahwa Hadramaut pada masa Rasulullah SAW bukanlah bagian dari wilayah Yaman, melainkan baru bergabung secara administratif pada abad ke-19.
“Hadramaut itu tempatnya orang-orang Yahudi. Zaman Rasulullah, Hadramaut belum masuk wilayah Yaman. Hadramaut dan Tarim baru menjadi bagian dari Yaman sekitar abad ke-19,” tegas Gus Abbas di akun YouTube.
Menurut Gus Abbas, pemahaman yang keliru sering kali terjadi ketika umat Islam menafsirkan sabda Rasulullah SAW terkait doa “Allahumma barik lana fi Yamanina” (Ya Allah berkahilah negeri Yaman kami). Banyak yang menganggap bahwa doa tersebut juga mencakup wilayah Hadramaut dan Tarim, padahal, secara geografis dan politik saat itu, Hadramaut berdiri sendiri dan memiliki entitas masyarakat yang berbeda.
“Ketika Rasulullah SAW berdoa untuk Yaman, itu bukan berarti beliau sedang mendoakan Hadramaut dan Tarim. Secara historis, wilayah itu memiliki struktur sosial yang berbeda, bahkan didiami oleh kelompok-kelompok Yahudi yang punya pengaruh kuat pada masa itu,” jelasnya.
Pernyataan ini, menurut Gus Abbas, bukan dimaksudkan untuk menafikan keutamaan ulama Hadramaut yang lahir kemudian hari, tetapi untuk meluruskan konteks sejarah dan genealogis dakwah Islam yang sering kali diromantisasi tanpa rujukan faktual.
Dalam kesempatan itu, Gus Abbas juga menyoroti fenomena yang marak di Indonesia terkait klaim keturunan Arab, khususnya dari Hadramaut dan Tarim, yang sering diasosiasikan dengan “darah suci” atau “nasab Rasulullah”. Ia menilai banyak narasi genealogis yang tidak memiliki dasar sejarah kuat.
“Banyak yang bangga disebut keturunan Hadramaut, padahal mereka sendiri tidak tahu bahwa Hadramaut di masa itu bukan bagian dari dunia Islam yang didoakan Rasulullah. Bahkan, masyarakatnya masih sangat kental dengan pengaruh Yahudi,” ungkap Gus Abbas dengan nada reflektif.
Menurutnya, sejarah Islam perlu dipahami secara objektif dan ilmiah, bukan hanya berdasarkan cerita turun-temurun. Ia menegaskan bahwa dakwah Walisongo di Nusantara jauh lebih memiliki akar keilmuan dan spiritualitas yang mandiri dibanding sekadar mengklaim garis keturunan dari negeri Arab.
Gus Abbas yang juga dikenal sebagai penggerak pemikiran “Islam Walisongo” menegaskan bahwa dakwah Islam di Indonesia tumbuh bukan karena pengaruh Hadramaut, melainkan hasil dari kerja keras para ulama lokal yang beradaptasi dengan budaya Nusantara. “Islam datang ke Nusantara bukan dibawa orang-orang Hadramaut. Islam yang berkembang di sini adalah Islam hasil olah budaya, olah pikir, dan olah batin para wali yang mengerti betul jiwa bangsa ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gus Abbas mengingatkan bahwa mengagungkan asal-usul geografis tertentu bukanlah jalan menuju keberkahan, melainkan bisa menjadi penghalang bagi semangat keislaman yang sejati. “Kalau kita ingin mengikuti Rasulullah, jangan hanya melihat darah dan nasab, tapi lihat akhlak dan perjuangannya. Keberkahan itu datang dari iman dan amal, bukan dari peta wilayah,” tutupnya.
Pernyataan Gus Abbas ini sontak menjadi bahan diskusi di kalangan akademisi dan pemerhati sejarah Islam. Beberapa kalangan menilai pandangan tersebut menggugah kesadaran umat agar tidak menelan mentah-mentah narasi historis populer, tetapi mengkajinya secara ilmiah dan kontekstual.
Bagi Gus Abbas, Islam Nusantara dan perjuangan Walisongo harus dipahami sebagai warisan autentik bangsa Indonesia, yang tidak perlu merasa inferior terhadap klaim keturunan Arab atau Hadramaut.
“Keagungan Islam tidak ditentukan oleh dari mana kita berasal, tetapi dari bagaimana kita menegakkan nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya menegaskan.
Pernyataan Gus Abbas ini menandai satu lagi bab penting dalam wacana dekolonisasi sejarah Islam, mengajak umat untuk berani berpikir kritis, memverifikasi narasi lama, dan meneguhkan identitas keislaman yang berakar di bumi sendiri.
Sumber: suara
Foto: Gus Abbas Buntet (IST)
Gus Abbas: Hadramaut Itu Tempatnya Orang-orang Yahudi
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:

Tidak ada komentar