Adsterra

Breaking News

Viral Tangis Ibu di Lampung: Anak Korban Bully, Sekolah Malah Memberhentikannya


Di sebuah sudut Kota Bandar Lampung, mimpi seorang remaja bernama Gina Dwi Sartika untuk mengenyam pendidikan harus terkubur paksa.

Bukan ia malas atau tak mampu, melainkan karena perundungan atau bullying kejam yang diterimanya dan keputusan ironis dari pihak sekolah yang memilih untuk mengeluarkannya dari sekolah.

Kisah pilu ini terungkap dalam sebuah video wawancara yang menyayat hati, memperlihatkan Gina yang tertunduk lesu di samping ibunya, Misna Megawati.


Sang ibu yang tak kuasa menahan tangis menceritakan kisah pilunya.

Bagi Gina, sekolah yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu, berubah menjadi arena penghakiman atas kemiskinan keluarganya.

"Saya sering di-bully sama teman saya," ucap Gina dengan suara lirih.

Perundungan itu bukan sekadar ejekan biasa, melainkan serangan verbal yang menusuk langsung ke jantung perjuangan orangtuanya.

"Mereka menghina orangtua saya pemulung, tukang rongsokan. Katanya orangtua saya jelek, miskin, tapi saya masih belagu," lanjutnya, mengulang kata-kata pedih yang ia terima setiap hari di bangku kelas VIII SMP Negeri 13 Bandar Lampung.

Puncak dari penderitaan Gina bukanlah saat ia menerima hinaan, melainkan saat pihak sekolah mengambil jalan pintas yang menyakitkan.

Alih-alih melindungi dan menindak pelaku perundungan, sekolah justru memulangkan alias mengeluarkan Gina kepada orangtuanya.

"Tiba-tiba anak saya dipulangin sama gurunya," kenang Misna sambil menyeka air mata.

Keputusan itu, menurut penuturan Misna, datang langsung dari kepala sekolah dengan alasan yang sulit diterima akal sehat.

"Kata kepala sekolah, daripada memilih satu murid tapi yang lainnya bubar, ya sudah Gina saja yang dikeluarkan," ungkapnya, menirukan logika pihak sekolah yang mengorbankan anaknya.

Anaknya jadi korban bully sekolah malah memberhentikannya (Instagram)

Dengan berat hati, Misna menerima keputusan itu. Tak ada daya untuk melawan.

Kini, hari-hari Gina diisi dengan membantu ibunya memilah barang rongsokan di rumah mereka yang sederhana, dikelilingi tumpukan botol plastik dan kardus.

Seragam sekolahnya telah lama tergantung rapi, menjadi saksi bisu atas cita-citanya yang terenggut.

Video tersebut juga menyingkap betapa beratnya perjuangan hidup keluarga ini. Dengan isak tangis yang tak terbendung, Misna mengaku seringkali kesulitan untuk sekadar makan.

"Makan saja susah, kadang dua tiga hari nggak makan," lirihnya.

Penghasilan sebagai pemulung yang tak seberapa, sekitar Rp600 ribu sebulan, harus dibagi untuk sewa rumah Rp300 ribu dan kebutuhan hidup enam orang anak.

Kesulitan ekonomi diperparah dengan kendala administrasi. Ia tak bisa menyekolahkan anak bungsunya karena terhambat pembuatan akta kelahiran yang mensyaratkan buku nikah.

"Ini bukan tangis bohongan, Pak. Ini tangis beneran. Saya masyarakat, makan saja susah," jeritnya dalam keputusasaan.

Di tengah himpitan kemiskinan dan ketidakadilan, Gina masih menyimpan harapan.

Ia mengaku masih ingin kembali ke sekolah jika ada kesempatan. Namun untuk saat ini, ia hanya bisa pasrah, menelan pahitnya kenyataan bahwa menjadi miskin seolah sebuah kesalahan yang membuatnya tak layak mendapatkan pendidikan dan perlindungan.

Sumber: suara
Foto: Anaknya jadi korban bullying sekolah malah memberhentikannya (Instagram)

Viral Tangis Ibu di Lampung: Anak Korban Bully, Sekolah Malah Memberhentikannya Viral Tangis Ibu di Lampung: Anak Korban Bully, Sekolah Malah Memberhentikannya Reviewed by Admin Oposisi on Rating: 5