Bantah Surat Letnan Untung Soal Jenderal yang Dibunuh, Ini Sosok Maulwi Saelan Pengawal Pribadi Soekarno Kelahiran Makassar
Maulwi Saelan merupakan pengawal pribadi Presiden pertama Indonesia, Soekarno.
Maulwi Saelan lahir di Makassar, 8 Agustus 1926 dari pasangan Amin Saelan dan Sukamtin.
Amin Saelan berasal dari Pamekasan, Madura dan Sukamtin berdarah Jawa dari keluarga dokter.
Nama awalnya Surachman. Gurunya memberi dia nama Maulwi karena sulit menyebut Surachman.
Dia anak kedua dan satu-satunya laki-laki dari delapan bersaudara yakni, Emmy, Saeni, Elly, Evi, Rahayu, Saidah dan Sabina.
Maulwi kecil mengenyam pendidikan dasar Frater School pada tahun 1932. Disana bakatnya dalam sepak bola mulai terlihat yang biasa dilatih oleh Andi Mattalatta.
Pada masa sekolah dasar ini, ia juga kerap bermain dengan Habibie jika ikut ayahnya ke Pare-pare.
Lulus Frater School tahun 1939, Maulwi lalu masuk Hogere Burger School (HBS B) di Makassar pada tahun 1940.
Belum sempat menyelesaikan pendidikan HBS B, situasi perpolitikan berubah. Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang 8 Maret 1942. Kemarin ia terpaksa melanjutkan pendidikan yang digariskan Jepang.
Maulwi sempat masuk menengah umum (futzuu chugakko). Tak lama di tempat itu, dia pilih ikut masuk tes sekolah menengah istimewa (tokubetsu chugakko).
Maulwi diterima pada tahun 1941 dan lulus tiga tahun setelahnya.
Selanjutnya mengikuti tes dan lulus jadi mahasiswa yang dikirim ke Jepang. Dari kecil ia bercita-cita jadi dokter.
“Dari kecil saya ingin jadi dokter, tapi kehendak Allah lain,” ujar Maulwi dalam wawancara 12 Mei 2011 (1991:4), dikutip penuturan Asvi Warman Adam, Bonnie Triyana, Hendri F Isnaeni dan M.F Mukthi dalam buku “Maulwi Saelan, Penjaga Terakhir Soekarno”.
Dia pertama bertemu dengan Soekarno di Pare-pare pada tahun 1958. Saat itu Soekarno mampir setelah dari Manado menemui para anggota Permesta.
“Rupanya Bung Karno telah mengenal saya karena penampilan saya di olimpiade Melbourne sebagai penjaga gawang kesebelasan Indonesia melawan Rusia,” aku Maulwi.
Sebelum jadi pengawal pribadi Soekarno, ia pernah jadi ajudan dr. Moestopo pada tahun 1959.
Setelah itu ia ditugaskan belajar Physics Security and The Provost Marshal's General's School di Fort Gordon di Amerika Serikat pada 1959-1960.
Sepulang Amerika, Maulwi mengikuti pendidikan terjun payung di Batujajar (RPKAD) sehingga Maulwi yang berpangkat Mayor diangkat menjadi komandan Pomad para pertama, kemudian menjadi komandan pomad caduad Mandala/Trikora tahun 1962.
“Saya dan pasukan Troop CPM sudah siap terjun dengan Soeharto di Irian Barat. Tiba-tiba ada panggilan dari Jakarta. Saya tidak jadi terjun di Irian Barat. Kalau jadi, saya mungkin ketemu Untung Syamsuri disana,” ungkapnya.
Pada tahun 1962 dibentuk Tjakrabirawa yang berkekuatan 3000 personel untuk membantu mengawal presiden. Maulwi kemudian diangkat menjadi Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa.
“Saya termasuk yang ikut dipanggil dari Makassar untuk ikut menyiapkan pembentukan resimen tersebut sekaligus ditunjuk sebagai kepala stafnya. Pertimbangan mengapa saya dipanggil saya tidak tahu. Tidak dijelaskan,” kata Maulwi.
Bertepatan dengan hari ulang tahunnya, 6 Juni 1962, Seokarno mengeluarkan surat keputusan, no. 212/Pit 1962 tentang pembentukan resimen khusus yang bertanggung jawab penuh menjaga keselamatan pribadi presiden dan keluarganya.
Tjakrabirawa adalah senjata pamungkas yang sangat ampuh milik Batara Kresna. Diresmikan pada 6 Juli 1963 di Wina, Austria.
Selaku pemegang otoritas tertinggi protokoler pengaman presiden, ia lebih berfungsi kepada ajudan yang selalu berada di dekat Soekarno.
Posisi inilah yang menyebabkan Maulwi senantiasa mendampingi Soekarno pada saat-saat yang menentukan dalam peralihan kekuasaan tahun 1965-1966.
Ia berada di Istana pada tanggal 4 Agustus 1965 ketika Presiden mengalami stroke ringan.
Pada 30 September 1965, Maulwi memimpin pengamanan presiden di Musyawarah Nasional Teknik di Senayan.
Maulwi Saleh memegang penuh tanggung jawab Maulwi Saelan karena komandan Tjakrabirawa Moh Sabur pergi ke Bandung untuk memberikan ceramah di Seskoad.
Dia membantah pernyataan ajudan Presiden Bambang Widjanarko yang menyebut Soekarno menerima surat dari Letnan Kolonel Untung yang dititipkan lewat Sogol atau Nitri soal operasi G30S. Surat itu kemudian diserahkan kepada Bambang untuk diberi kepada Sogol.
“Saya yang terus mendampingi Bung Karno dan tidak pernah meninggalkannya walaupun sebentar. Tidak melihat kedatangan pelayan sogol yang menitipkan sepucuk surat yang katanya dari Untung untuk diserahkan kepada Bung Karno. Pada malam itu Bung Karno juga tidak pernah meninggalkan tempat duduk untuk ke toilet dan tidak benar berhenti sejenak di teras Istoria yang terang lampunya untuk membaca surat,” jelas Maulwi.
Dalam penjelasan yang menyebut Soekarno menerima surat tersebut lebih lanjut dijelaskan, setelah dari toilet, Soekarno mengutip cerita pewayangan.
Soekarno mengisahkan percakapan antara Kresna dan Arjuna menjelang perang Bharata Yudha. Cuplikan percakapan tersebut dianggap sebagai sinyal kepada Untung dan kelompoknya untuk bergerak.
Acara Munastek selesai pukul 23.00, presiden kembali ke istana merdeka.
“Sekitar 24.00, setelah melapor kepada presiden saya meninggalkan istana kembali ke rumah saya di Jalan Birah II Nomor 81, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,” beber Maulwi. Pukul 01.00 Maulwi tidur.
Setelah tiba di Istana, Soekarno pergi ke rumah istri mudanya Ratna Sari Dewi di Jalan Gatot Subroto.
Keesokan harinya, pada 1 Oktober 1965, setelah salat subuh Maulwi menerima telepon dari ajudan presiden Kombes Pol Sumirat yang mengatakan dirinya menerima berita penembakan terhadap rumah Leimena dan Nasution.
Tak lama ia juga menerima berita penembakan rumah Omar Dani dan rumah Jenderal D.I Panjaitan. Berita selanjutnya diralat bahwa rumah Omar Dani tak ditembak. Dan istana merdeka terdapat tentara yang tidak dikenal kesatuannya dan saluran telepon istana terputus.
Pukul 07.00 Soekarno dan Maulwi tiba di rumah Haryati, di Grogol.
Maulwi juga bersama Soekarno menuju Halim Perdanakusuma sekitar pukul 08.30
Berdasarkan keterangan Bambang, disana Seokarno memerintahkan kepada Soeparto untuk mengambil surat di saku bajunya yang ia simpan di kediaman Ratna Sari Dewi, wisma Yaso.
Surat tersebut disebut Bambang berisi daftar para anggota dewan revolusi.
“Bung Karno menerima surat tersebut lalu merobek-robeknya. Surat tersebut adalah surat yang diterima dan dibaca Bung Karno semalam di Istora dari bekas Letnan Untung,” kata Bambang Widjanarko.
Sumber: fajar
Foto: Letkol TNI Maulwi Saelan mendampingi Presiden Soekarno saat meresmikan Stadion Gelora Bung Karno dan pembukaan Ganefo tahun 1962.(Dok Maulwi Saelan)
Bantah Surat Letnan Untung Soal Jenderal yang Dibunuh, Ini Sosok Maulwi Saelan Pengawal Pribadi Soekarno Kelahiran Makassar
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:

Tidak ada komentar