Debat Panas soal Dinasti Politik, Rizal Ramli Singgung Gibran-Kaesang
Krisis ekonomi yang mengakibatkan munculnya people power di Sri Lanka jadi
sorotan dunia internasional termasuk di Tanah Air. Salah satu yang jadi
perhatian menyangkut dinasti politik dari pemerintahan Sri Lanka tersebut.
Menurut pakar komunikasi politik Henri Satrio atau Hensat menyinggung pemicu
krisis di Sri Lanka karena adanya dinasti politik. Dia menyebut dinasti
politik di negara itu luar biasa karena antara Presiden, Perdana Menteri,
dan Menteri Keuangan merupakan saudara kandung.
"Dinasti politik yang terjadi di Sri Lanka memang luar biasa. Jadi, kalau
saya tidak salah Presiden, Perdana Menteri, Menteri Keuangan itu saudara
kandung, kakak-beradik," kata Hensat dalam Catatan Demokrasi tvOne yang
dikutip VIVA pada Rabu, 13 Juli 2022.
Dia menyebut dinasti politik itu bertambah karena diduga ada saudara
Presiden Sri Lanka yang jadi menteri transportasi. "Terus ada satu lagi
saudara, anaknya kalau nggak salah anak Perdana Menteri, jadi Menteri
Pertanian. Jadi, memang dinasti politiknya sudah luar biasa," ujar dosen
Universitas Paramadina itu.
Paparan Hensat itu kemudian ditanggapi pengamat politik Boni Hargens.
Menurutnya, regenerasi politik itu ada hampir di setiap negara, bukan hanya
di Indonesia.
"Nah, di Indonesia dan di banyak negara dinasti itu juga terjadi. Di
Indonesia saya mungkin tidak bisa mengatakan semuanya dinasti, karena
regenerasi politik dalam keluarga tidak selalu dinasti," tutur Boni.
Menurut Boni, dinasti itu merujuk dalam peralihan kekuasaan melalui pemilu.
"Kata dinasti mengacu kepada peralihan kekuasaan karena kewenangan apa,
siapa pendahulunya mewarisinya karena garis keturunan. Bukan karena sistem
married," lanjut Boni.
Belum selesai Boni bicara, penagamat kebijakan publik Acmad Nur Hidayat
menimpali. Boni pun sempat meminta Ahmad agar tak menyelanya bicara.
"Sebentar, sebentar bos," tutur Boni,
Ahmad pun menanyakan kepada Boni, apa seorang Presiden yang mengangkat
keluarganya jadi pejabat dapat disebut dinasti atau tidak.
Boni merespons dengan menjawab soal dinasti politik jika Presiden beri
jabatan kepada keluarganya yang tak punya kompeten dan menyalahi prosedur.
"Kalau misalnya Presiden memberikan jabatan atau memberikan akses supaya
anaknya menjabat tapi anaknya tidak kompeten dan prosesnya menyalahi
prosedur demokrasi, that's dinasty," ujar Boni.
Achmad kemudian menyinggung Jokowi yang memajukan anak dan menantunya jadi
pejabat kepala daerah. Dia membandingkan antara Jokowi dengan era Presiden
ke-2 RI Soeharto.
"Tapi, Pak Jokowi belum sampai dua periode sudah ada melibatkan keluarga.
Pak Harto itu baru mengajak itu 30 tahunan (menjabat)," kata Achmad.
Namun, Boni menjawab dengan menyinggung dinasti di kepemimpinan Partai
Demokrat dengan mengaitkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Agus Harimurti
Yudhoyono (AHY).
Sempat terjadi adu argumentasi antara Boni dan Achmad. Mereka berdua saling
bantah soal contoh dinasti politik.
Lalu, Boni menyampaikan versinya soal perbedaan pemerintahan Soeharto dan
Jokowi. Kata dia, saat itu Soeharto mengangkat anaknya tanpa melalui sistem
demokrasi. Sementara, anak dan menantu Jokowi jadi pejabat melalui sistem
demokrasi.
"Kalau zaman Pak Harto itu seenaknya angkat anak perempuan, lakinya jadi
pejabat. Saya setuju itu dinasti," tutur Boni.
"Maka peristiwa 98 itu sudah jadi pembelajaran besar bagi sejarah kita,"
lanjut Boni,
Saat perdebatan berlangsung, ekonom Senior Rizal Ramli kemudian memotong
paparan Boni yang terus masih bicara. Dia mau mengoreksi omongan Boni.
Rizal menyinggung penyebab jatuhnya rezim Soeharto. Salah satunya karena
Soeharto mengangkat putri sulungnya jadi pejabat menteri.
"Pak Harto angkat Tutut bulan Maret tahun 1998, gara-gara itulah dia jatuh.
Tapi, sebelumnya dia nggak angkat siapa-siapa keluarganya jadi pejabat,"
ujarnya
Kemudian, Boni menyinggung mengenai akses bisnis yang diberikan Soeharto
kepada keluarganya di era Orde Baru.
Rizal sepakat itu merupakan KKN. Tapi, ia juga menduga di era ini karena dua
putra Jokowi yaitu Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep dituding juga KKN.
"Kalau itu Iya KKN, Tomi Suharto. Hari ini Gibran juga KKN, Kaesang juga
KKN. Perusahaannya lebih banyak dari pada Soeharto dulu," kata Rizal
Boni kembali menanyakan acuan Rizal mengatakan hal tersebut. "Ada
parameternya nggak bang?,"
"Ada semua data sama faktanya. Udah kita kasih cuma pejabat nggak mau
periksa," kata Rizal.
"Tapi, kita harus diskusikan di sini bang. Kita harus buka di sini," sebut
Boni.
Melihat diskusi yang tak menentu, akhirnya presenter Catatan Demokrasi
Andromeda Mercury menyudahi perdebatan dengan break sejenak.
"Ditahan dulu bapak-bapak,” kata Andromeda menyudahi.
#CatatanDemokrasi #tvOne >>> “SRI LANKA BANGKRUT, SIAPA BERIKUTNYA?” pic.twitter.com/VPtAMQJ1fh
— CATATAN DEMOKRASI (@CttnDmkrs) July 12, 2022
Sumber:
viva
Foto: Debat Rizal Ramli dengan pengamat politik Boni Hargens. (Sumber :
Youtube tvOne)
Debat Panas soal Dinasti Politik, Rizal Ramli Singgung Gibran-Kaesang
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:

Tidak ada komentar