Breaking News

Pemimpin Militer, Islam dan Jawa 2024 dalam Pandangan Komitmen Sosial


"Indikasi hipokrit adalah pandai dalam berkata-kata namun impoten soal komitmen." (Simao Pedro Carvino de Fateema)

Utama 'komitmen sosial', komitmen untuk membangun ukhuwah/persatuan persaudaraan dalam satu visi misi' yang integral organik.

Mr Soepomo dalam Pohon Cahaya Peradaban Nusantara yang Agung Adiluhung : 

1. Umat seagama (diniyah). 

2. Maitera - cinta kasih welas asih' (rahmaniyah). 

3. Bangsa dan tanah air (wathoniyah) serta 

4. Kemanusiaan menjunjung tinggi nilai-nilai manusia (insaniyah). 

Logika nilai-nilai universal, bangsa  menjadi terbalik-balik, disuguhkan isu-isu 'media yang bias dan telah terbeli para cukong-oligark/ kapitalis/ nekolim.

Mungkin 90% rakyat antroposentris - pasrah tak berdaya dengan 'budaya negatif' yang ada dibawah 'pengkhianatan elit yang cenderung munafik - pragmatis oportunitik' dengan orkestra dari Bandar, yang menista sisi kemanusiaan rakyat dan menindas.

Seolah menjadi sia-sia 'Bung Karno dan Founding Fathers' membangun negara Republik dalam 'Rumah NKRI' dari 'Rumah Cokro', dengan Landasan Idealitasnya yang holistik dalam formula irisan bangunan Keindonesiaan:

1."Nasionalis" (Bung Karno, Gus Dur dkk),
2."Agama" (Kartosuwiryo, H Agus Salim, Hadratussyeh Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, Romo Soegija Pranoto dkk).
3."Sosial Demokrat" (Bung 'Hatta - Syahrir - Tan Makaka', Muso, Alimin, Mubiyarto dkk). 

Eksistensi Pemimpin 2024 dengan Ketegasan Komitmen Sosial

Sosok Militer, Jawa dan muslim semestinya diturunkan ke dalam satuan-satuan yang dapat menjawab problematika zaman dan peradaban yang kental dengan budaya Islam dan Jawa yang merakyat.

Sosok tokoh yang mempunyai pandangan pemimpin Militer Islam dengan budaya Jawa yang kental dan merakyat, dapat dinilai secara komperhensif hingga kelapisan bawah : 

1. Pandangan Dunia "Jujur dan Adil" yang diturunkan terutama menjadi bangunan ekonomi kerakyatan yang berkeadilan untuk tujuan masyarakat gotong royong/ egaliter Indonesia dari inspirasi Peradaban Atlantis, Kerjaan Ratu Shima yang Adil - Tegas- Gemah Ripah loh Jinawi, Transformasi Total Raden Patah dengan Kerajaan Demak serta Dewan Supervisi Walisongo yang disebut Budayawan Penyair "Burung Merak" WS Rendra sebagai "Modal Demokrasi kita" dst-dst.

2. Teologi/Tauhid yang berkembang pada dimensi kebangsaan "Teologi Pembebasan Bangsa Marhaenisme Plus" seperti nabi Musa membebaskan bangsa tertindas Bani Israel dan disesuaikan dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnogi yang pesat.

3. Berdasar nilai litaarofu/diversity dengan bangunan ajaran Bhinneka Tunggal Ika yang sama - konggruen - sebangun  dengan filisofi Haji Ali Syariati "Semua Satu, Satu Semua".

4. Bangunan ajaran Kalimatunsawa/Prinsip- prinsip universal yang sama antar agama- agama dan tradisi lokal jenius bangsa-bangsa Nusantara. Minimal seperti bangunan ajaran _"Transenden Unity of Religions - Kesatuan Transenden Agama-agama"_ yang digulirkan F Schuon, Hussain Nasr, Ir Ahmad Chojim, Cak Nun, Cak Nur, Media Zainul Bahri dkk.

5. Kesadaran Transformatif bagi perubahan mendasar 'masyarakat - bangsa - negara - ekonomi kerakyatan yang berkeadikan dst ', menjadi kaum Terbaik Bangsa dengan kesadaran  pembebasan - transformatif (mengeliminir sistem perdaban yang buruk dan membangun sistem peradaban yang bajik) seperti yang digulirkan Gus Dur pada era 1970-an dan Prof Dr Koentowidjojo pada era 1980-an. Juga didorong oleh Kesadaran "Diakonia  Transformatif" dari saudara-saudara dari Amerika Latin. 

6. Kesadaran nilai-nilai universal Pancasila berikut UUD45 Asli yang agung adiluhung tapi belum diamalkan - realisasikan - implementasikan - aktualkan dengan sungguh- sungguh sejak Orde Baru sampai sekarang (Prof Dr Anhar Gonggong, Letjen Purn Sajidiman Soerjohadiprodjo, KH Hasyim Muzadi, Rektor Universitas Al Azhar Prof Dr Ahmad Thayeeb, KH Ahmad Sidik, Gus Dur, Prof Dr Salim Said, Emha Ainun Nadib, Sujiwo Tejo dkk).

7. Tujuan Masyarakat warga sejati yang mandiri berkualitas/ civil society dalam masyarakat  gotong royong/ egaliter.

Indonesia dengan ciri-ciri: a.tradisi sistem berfikir rasional, b.modal sosial sebagai lem perekat terbentuknya masyarakat warga sejati, c.pembagian kerja rasional, d.fungsi- fingsi/ kuasi peran-peran yang berkeadaban utama partai yang bekhidmat kepada 'Daulat Rakyat', e.keteraturan sosial sejati tidak 'keteraturan sosial semu yang selama ini berjalan'. Dst-dst.

8.Sistem Negara yang berdaulat penuh dengan hak-hak kewargaan yang setara sama dengan civic cultur/budaya kewargaan yang melekat pada setiap warga negara, seperti _"Demokrasi Semua Untuk Semua"_ (Bung Karno), bukan 'demokrasi prosedural yang prakteknya justru Anti Demokrasi' yang menista daulat rakyat.

Pemerintahan yang Good Governance yang melayani rakyat dan aparat negara yang mengayomi rakyat, menyemai kesadaran kesejahteraan/ kemaslahatan  umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, menabur dimensi damai, bekeadilan sosial dst-dst.

Oleh : Ahmad Badawi

Disclaimer : Rubrik Kolom adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan oposisicerdas.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi oposisicerdas.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.
Pemimpin Militer, Islam dan Jawa 2024 dalam Pandangan Komitmen Sosial Pemimpin Militer, Islam dan Jawa 2024 dalam Pandangan Komitmen Sosial Reviewed by Oposisi Cerdas on Rating: 5

Tidak ada komentar