Viral Video Anggota TNI Bentrok dengan Petani di Sawah, Begini Penjelasan Kodam hingga Kepala Desa
Viral di media sosial video yang memperlihatkan kericuhan antara anggota TNI
dengan petani.
Dalam video itu, sejumlah anggota TNI berseragam terlibat bentrok dengan
sejumlah petani di sebuah sawah.
Aksi saling dorong tak terhindarkan. Bahkan terjadi aksi pemukulan. Jerit
dan tangisan pun terdengar.
Video tersebut beredar di media sosial dan di antaranya diunggah
@MurtadhoRoy, Rabu (5/1/2021)_.
Kejadian tersebut rupanya terjadi di Dusun Saor Matio, Desa Seituan,
Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Selasa
(4/1/2022).
Bentrok terjadi antara Pusat Koperasi Angkatan Darat (Puskopkar) A Kodam
I/Bukit Barisan dengan petani.
Berulangkali terjadi tentara gebukin rakyat +62 pic.twitter.com/j4fHdsvIK2
— Roy Murtadho (@MurtadhoRoy) January 5, 2022
Kronologi pihak TNI
Sekum Puskopkar A Bukit Barisan, Letkol Caj Drs Wendrizal membeberkan
kronologi bentrokan yang terjadi.
Bentrok itu bermula dari pihaknya yang hendak memasang plang pemberitahuan
bahwa lahan tersebut milik Kodam I/BB berdasarkan keputusan Mahkamah Agung.
Diterangkan Wendrizal, awalnya sekira pukul 07.15 WIB ia memimpin personel
Puskopar dan Yonzopur I/DD untuk melaksanakan apel.
"Pasukan tiba di lokasi sekitar pukul 09.30 WIB. Pasukan langsung ke titik
rencana pemasangan di sebelah Timur lahan," kata Wendrizal, Rabu (5/1/2022).
Dikatakannya pemasangan plang tidak terlaksana karena penggarap tidak
mengizinkan.
Saat itu massa masyarakat cukup ramai.
Untuk menghindari gesekan dengan masyarakat, pihaknya tidak jadi memasang
plang di titik Timur.
Pihaknya kemudian berangkat ke titik Barat, yakni lokasi perbatasan dengan
jalan aspal dan tali air.
Di titik tersebut personilnya berhasil pasang plang.
"Sekitar 10.30 WIB massa semakin ramai dan sebagian besar ibu dan orang tua
yang memprovokasi pasukan sehingga terpancing untuk melakukan pemukulan atau
tindakan kekerasan," ucapnya.
Pukul 11.30 WIB pasukannya mulai istirahat.
Momen itu pula dimanfaatkan penggarap untuk membuat penghadangan jalan
menggunakan batu dan kayu di depan truck Yon Zipur I/DD.
Karena pemasangan plang kedua dan ketiga untuk titik selatan dan timur
lokasi tidak dilaksanakan, maka personilnya diperintahkan untuk meninggalkan
lokasi.
Sayangnya, dua unit truk mobil Yonzipur I/DD di titik timur tidak bisa
meninggalkan lokasi.
Hal ini karena jalan telah diblokir penggarap dengan kayu, batu, dan massa
berkerumun.
Masyarakat meminta agar plang yang telah dipasang dicabut.
Di situasi itu, Wendrizal menawarkan beberapa opsi kepada penggarap :
Pertama, penggarap mencabut sendiri plang kepemilikan yang telah didirikan
oleh Puskopar "A" BB. Namun penggarap menolak hal tersebut.
Kedua, Puskop Kartika "A" BB akan mencabut plang kepemilikan HGU dengan
syarat penggarap juga mencabut plang yang telah didirikan penggarap.
Kala itu tidak ada kesepakatan di antara kedua belah pihak.
Menurutnya, penggarap mulai anarkis dengan melempari personil dengan lumpur.
Pihaknya pun mengejar para penggarap yang dianggap menjadi provokator massa.
Massa pun berhamburan dan personelnya meninggalkan lokasi.
"Tidak ada korban baik dari pihak masyarakat penggarap maupun personel dan
pasukan yang bertugas," ujarnya.
Penjelasan Kepala Desa
Konflik yang terjadi ini ternyata sudah lama terjadi dan sampai saat ini
kedua belah pihak masih mengklaim masing-masing kepemilikan.
Kepala Desa Seituan, Parningotan Marbun menyebut pihak Puskopad sudah lama
meminta agar warga mengosongkan lahan pertanian seluas 65 hektare.
Disebut masyarakat tidak mau bergeser lantaran lahan sudah dikuasai dari
zaman kakek neneknya.
"Sesudah jadi bandara ini mereka ngaku-ngaku HGU nya ini. Dulu-dulu nggak
pernah diperdebatkan di zaman kakek saya. Semenjak ada bandara ininya
seperti ini," ucap Parningotan Marbun.
Ia mengaku sangat menyayangkan kericuhan yang terjadi pada Selasa pagi.
Menurut Parningotan, dalam bentrok tersebut tiga anak-anak juga menjadi
korban.
Ia menyebut karena dipijak oknum TNI, korban pun harus dibawa berobat.
"Anak-anak masih SMP dan 13 tahun jadi korban. Karena masyarakat saya
dipijak ya saya juga nggak terima. Ini kita mau ngadu ke Komnas Perlindungan
Anak juga ini supaya tahu Bapak Aris Merdeka Sirait. Ya saya nggak tahu
kenapa bisa sampai gitunya kali, ya mungkin emosi TNI nya," kata
Parningotan.
Ia mengaku tidak melihat langsung peristiwa kericuhan karena saat itu ia
sedang mengikuti rapat di Polresta Deliserdang.
Saat itu dirinya langsung mendapat telpon terus dari masyarakat.
Setelah dirinya datang, pihak Puskopad TNI AD pun sudah tidak ada lagi di
lokasi.
"Kalau sudah diginiin masyarakat saya yang jelas perlu hukum bertindak
karena sudah melampaui pemerintah desa mereka bertindak. Sudah dari dulunya
dikuasi masyarakat tanah itu. Ada 160an orang juga itu masyarakat yang punya
selama ini," kata Parningotan.
Dikatakannya, masyarakat tidak bersedia meninggalkan lokasi karena 98 persen
adalah bekerja sebagai petani.
Hanya dua persen saja masyarakatnya yang bekerja sebagai nelayan.
Ia menyebut sebelum pihak TNI bertindak sudah seharusnya berkoordinasi dulu
dengan Pemerintah Desa.
"Apapun ceritanya harus kordinasi dulu baru bertindak. Saya Kepala desa
pernah memang diundang cuma saat itu mereka maunya harus mereka yang punya
tanah sementara masyarakat ini menyewa sama mereka. Kapan mereka butuh bisa
diambil. Minta Supaya dikosongkan masyarakat mana mau," katanya. [tribunnews]
Foto: Tangkap layar bentrok TNI dengan petani di Deli Serdang, Sumatera
Utara, Selasa (4/1/2022)./kolase tribunnews
Viral Video Anggota TNI Bentrok dengan Petani di Sawah, Begini Penjelasan Kodam hingga Kepala Desa
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating: