PKS Sebut Presiden 'Tipu DPR' Soal Biaya Pembangunan Ibu Kota Negara Baru
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merasa bahwa DPR RI telah tertipu dengan
pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait pembiayaan perpindahan Ibu
Kota Negara (IKN) dari DKI Jakarta ke Pulau Kalimantan.
Pasalnya, sebelum RUU IKN disahkan Jokowi menyebut pembangunan Ibu
Kota Negara baru itu tidak akan menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja
Negara (APBN).
Namun pada kenyataannya, setelah ketok palu pengesahan UUIKN,
pendanaan pemindahan IKN tersebut tetap membutuhkan sokongan dari
APBN.
Berdasarkan keterangan Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani
Ali Sera mengatakan, ketika itu Pemerintah mengaku tidak akan mengutak atik
APBN untuk mengongkosi mega proyek dari Jokowi itu.
Semua legislator tampak bahagia, lantaran anggaran negara itu aman dan dapat
dipakai untuk kegiatan lain yang tak kalah penting, salah satunya adalah
upaya pemulihan ekonomi Indonesia yang berantakan dihajar badai Covid-19
selama dua tahun belakangan ini.
Namun kekinian, janji pemerintah untuk tidak mengusik APBN itu nyatanya
diingkari sendiri oleh pemerintahan Jokowi, mereka tetap membutuhkan
sokongan dana dari APBN untuk memuluskan proyek ini.
“Nah loh. Waktu itu DPR senang sekali tidak memberatkan APBN. Sudah ketok
palu, ternyata diralat, akan memberatkan APBN atau bangun IKN pakai APBN,”
kata Mardani di akun Twitternya, Sabtu, 22 Januari 2022.
Kendati merasa pemerintah telah menipu DPR, namun faktanya pemindahan Ibu
Kota ini disetujui oleh mayoritas partai politik penghuni parlemen
Senayan.
PKS menjadi satu-satunya partai yang ngotot menolak pemindahan Ibu Kota
Negara dengan berbagai alasannya.
Nah loh.
— Mardani Ali Sera (@MardaniAliSera) January 22, 2022
Waktu itu DPR senang sekali tidak memberatkan APBN.
Sudah ketok palu, ternyata di ralat, akan memberatkan APBN atau bangun IKN pakai APBN https://t.co/jAMOWYJWTY
Terpisah, Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Luqman Hakim mengaku
ongkos proyek pemindahan Ibu Kota Negara bakal membengkak
drastis.
Dia memperkirakan, anggaran yang semula ditaksir sekitar Rp446 Triliun itu
bisa membengkak hingga 50 persen atau bahkan lebih.
Dugaannya pembengkakan biaya itu minimal mencapai angka Rp700
Triliun.
“Dugaanku, prakteknya nanti bisa lebih dari 700 Triliun,” timpalnya dalam
cuitan Twitter itu.
Pernyataan legislator PKB itu bukan tanpa dasar, pembengkakan ongkos
dalam sebuah proyek di Indonesia memang kerap terjadi.
Salah satunya adalah proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang biayanya
membengkak jauh antara rencana dan realisasi.
“Ingat project kereta cepat Bandung-Jakarta? Antara rencana dan realisasi
berapa pembengkakannya?” ucapnya.
Jika dugaan terkait pembengkakan ongkos pemindahan IKN ini
benar terjadi di kemudian hari, Luqman menduga ini bisa saja menjadi
siasat baru dalam korupsi.
"Apakah ini modus baru bancakan duit negara? Wallahu a’lam,”
pungkasnya.
Dugaanku, prakteknya nanti bisa lebih dari 700 Trilyun. Ingat project kereta cepat Bandung-Jakarta? Antara rencana dan realisasi berapa pembengkakannya? Apakah ini modus baru bancakan duit negara?
— Luqman Hakim (@LuqmanBeeNKRI) January 21, 2022
Wallahu a'lam. https://t.co/XpG7iiNjNT
Diketahui sebelumnya, Presiden Joko Widodo sebelumnya berjanji tidak akan
menggunakan APBN dalam proyek IKN.
Pada medio Mei 2019 silam, Presiden meminta IKN tidak membebani APBN dengan
memerintahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani mencari skema lain.
Namun kini, pemerintah telah mengumumkan skema pembiayaan pembangunan IKN
sebesar 53,3 persen dari APBN dan sisanya didapat dari kerja sama swasta dan
BUMN. [terkini]
Foto: Presiden Joko Widodo/Net
PKS Sebut Presiden 'Tipu DPR' Soal Biaya Pembangunan Ibu Kota Negara Baru
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:
Tidak ada komentar