Garuda Indonesia Berencana Masuk Holding Pariwisata, Kementerian BUMN: Bukannya Mengembangkan Malah Membebani
Usai mengalami kekalahan dalam gugatan yang diajukan perusahaan penyewaan pesawat atau lessor di pengadilan arbitrase London Court of International Arbitration (LCIA), Kementerian BUMN menyebutkan bahwa PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) akan masuk dalam Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung.
Masuknya PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) akan masuk dalam Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung akan dilakukan setelah menyelesaikan restrukturisasi utang agar tidak membebani holding.
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan pihaknya terus menjalin komunikasi intensif dengan Goshawk guna menjajaki kesepakatan terbaik dalam upaya penyelesaian kewajiban usaha perseroan di luar proses hukum yang berlangsung.
"Adapun upaya tersebut salah satunya dengan mempertimbangkan kemungkinan penjajakan skema restrukturisasi maupun strategi alternatif penunjang lainnya," katanya.
Irfan Setiaputra menyatakan bahwa dirinya optimistis penjajakan tersebut dapat menghasilkan kesepakatan terbaik bagi seluruh pihak khususnya dengan memperhatikan aspek keberlangsungan usaha di tengah tekanan kinerja industri penerbangan selama masa pandemi.
Sementara itu, Staf Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan bahwa Garuda Indonesia harus menyelesaikan masalah keuangannya terlebih dulu sebelum bergabung pada holding pariwisata dan menjalankan bisnis bersama dengan perusahaan lainnya.
Arya Sinulingga menegaskan bahwa Garuda Indonesia harus berhasil dalam restrukturisasi jika ingin bergabung holding pariwisata agar tidak munculnya masalah lain.
"Untuk Garuda, kita tunggu saja. Masih proses, belum bisa masuk holding. Nanti holdingnya tidak baik karena ada yang bermasalah. Jangan sampai nanti jadi bubar, makanya selesaikan dulu, deh Garuda. Nanti kalau restrukturisasi berhasil, baru masuk, kalau belum jangan dulu," kata Arya Sinulingga.
Dia menilai jika Garuda Indonesia dipaksakan untuk tetap masuk holding pariwisata dengan kondisinya yang memiliki utang hingga lebih dari Rp70 triliun, dikhawatirkan akan membebani holding kendati mengembangkan bisnis secara bersama-sama.
"Bukannya mengembangkan holding pariwisata, nanti malah membebani. Tunggu saja proses Garuda. Kita lihat bagaimana nanti proses restrukturisasi di Garuda," katanya yang dikutip dari Antara, Rabu, 6 Oktober 2021.
Kementerian BUMN membentuk Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung yang diketuai oleh PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) sebagai induk holding tersebut.
Anggota Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung antara lain PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero), PT Hotel Indonesia Natour (Persero), PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero), dan PT Sarinah (Persero).***
Source: Silahkan Klik Link Ini
Diterbikan: oposisicerdas.com
Foto: Pesawat Garuda Indonesia. /Pixabay/Fariz Priandana
Garuda Indonesia Berencana Masuk Holding Pariwisata, Kementerian BUMN: Bukannya Mengembangkan Malah Membebani
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:

Tidak ada komentar