Mural Kala Revolusi 1945, Palagan dengan Kuas dan Cat
Kala perang kemerdekaan Indonesia berkecamuk, aksi coret-coret, mural serta membuat poster berisi pesan-pesan perjuangan dan memperkuat semangat melawan Belanda menjadi palagan tersendiri yang dilakoni para seniman.
Aksi mendaulat atau menduduki aset-aset Pemerintah Hindia Belanda kala revolusi 1945 juga disertai coret-coret jadi penanda bahwa tempat itu milik Republik Indonesia.
Kini, zaman berganti dan kemerdekaan telah diraih, aksi coret-coret, mural berisi kritik yang dulu ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan justru seperti barang haram.
Pelakunya mulai diburu oleh Satpol Polisi Pamong Praja hingga polisi di negeri yang kemerdekaannya justru ikut diperjuangkan para seniman terdahulu. Zaman berburu mural telah dimulai.
![]() |
Mural pada masa revolusi kemerdekaan di sejumlah wilayah di Indoensia dalam buku Benedict Anderson berjudul Revolusi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946. |
![]() |
Mural pada masa revolusi kemerdekaan di sejumlah wilayah di Indoensia dalam buku Benedict Anderson berjudul Revolusi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946. |
Ketika itu, Chairil Anwar baru tiba di Studio Pusara Jakarta pimpinan pelukis Sudjojono. Penyair ”Binatang Jalang” tersebut melihat deretan pelukis, seperti Surono, Affandi, Basuki, juga Sudjojono dan lainnya tengah asyik melukis poster-poster besar dengan isi-isi slogan perjuangan.
Affandi dengan tangan meng angkat tangan ke atas tampak tengah berdiri menjadi salah satu model poster. ”Sekutu kabarnya sudah mendarat di Priok.” demikian obrolan para pelukis itu.
Seniman yang lain menimpali, ”Ya, dan ada penyelundup satu ikut katanya.”
Para seniman tersebut tengah berbincang tentang kehadiran NICA Belanda saat pasukan Sekutu mendarat di Jakarta pada September 1945.
Proklamasi kemerdekaan yang baru berkumandang satu bulan kini terancam kehadiran Belanda lagi. Para seniman tak tinggal diam.
”Makanya poster ini musti cepat jadi, terus kita perbanyak dan besok sudah kita tempel di gerbong-gerbong kereta api kita.”
”Ya, biar besok juga poster ini sudah sampai dilihat orang di pedalaman.”
Demikian obrolan para seni man itu dalam buku Aku karya Sjuman Djaya. Buku yang merupakan skenario film perja lanan hidup Chairil Anwar itu dibuat sang sutradara, Sjuman Djaya, dengan wawancara terhadap sejumlah tokoh yang turut terlibat dalam peristiwa itu.
Yang jelas, Sjuman Djaya berhasil memotret gambaran keterlibatan seniman, terutama pelukis dalam mengobarkan semangat mem pertahankan kemerdekaan negeri ini.
Berbagai dokumenter video lawas tentang suasana Jakarta pada Masa Bersiap atau saat sekutu tiba memperlihatkan pojok-pojok kota hingga trem menjadi kanvas seniman pejuang dan warga menentang kehadiran NICA dan menyatakan kesiapan membela tanah air dari kehadiran kembali penjajah.
Tembok trem menjadi kanvas para seniman untuk memviralkan pesan-pesan perjuangan bagi masyarakat di tengah ketiadaan media sosial seperti saat ini.
Moda transportasi macam kereta api juga ikut menjadi sasaran penempelan poster atau coret-coret agar pesan tersebut terbawa dan bisa dibaca masyarakat di daerah.
Palagan tanpa desing senjata, tetapi bermodalkan kuas cat pun merembet di sektor kesenian lainnya.
Para seniman, seperti Usmar Ismail, Cornel Simanjuntak, Suryo Sumanto, D Djayakusuma, S Sudjojono, Basuki Reso bowo, Rosihan Anwar, Sari fin, Rasjidi, Suhaimi, Malidar Malik membentuk rombongan Seniman Merdeka.
Dengan memakai truk, mereka berkeliling Jakarta guna membakar semangat rakyat menentang penjajah.
”Di atas truk terbuka, mereka berdiri. Suhaimi membunyikan akordeon, seorang kawan memetik gitar, Sarifin, Rasjidi, dan Malidar bergiliran bernyanyi, lalu seorang kawan berdiri berpidato singkat menganjurkan kepada rakyat yang mengerumuni truk supaya berjuang terus membela kemerdekaan, disusul oleh nyanyian bersama, kemudian seorang kawan membacakan berita-berita terakhir tentang keadaan di Tanah Air,” ujar Rosihan Anwar dalam buku Kisah-kisah Zaman Revolusi Kemerde kaan: Sejarah Kecil Petite Histoir Indonesia Jilid 7.
Diancam Gambaran tentang peran seniman dalam perjuangan kemerdekaan bisa pula ditemukan dalam buku yang ditulis Nasjah Djamin berjudul Perjalanan Tak Bermodal.
Nasjah yang merupakan seorang pelukis itu menggambarkan petualangan dan perjalanan bersama dua kawannya dari ujung utara Sumatra hingga Yogyakarta pada 1946.
Saat ia masih di Kisaran, Sumatra, sejumlah pelukis bekerja di bawah Kepala Penerangan Tentara Republik Indonesia. Gelombang revolusi 17 Agustus 1945 juga tiba di Sumatra. Tembak menembak pun terjadi selepas tentara sekutu mendarat.
”Tentu aku pun tak tinggal diam! Cuma aku tak ikut bertempur dengan senapan, bambu runcing atau pistol. Be ramai-ramai dengan kawan pelukis lain kami menyerbu tembok-tembok dinding di tengah Kota Medan bersenjatakan kuas dan cat. Tiap dinding, tiap tembok gedung dan rumah yang terluang kami tulisi dengan sem boyan-semboyan,” ujar Nasjah dalam tulisannya.
Dinding tersebut pun bertuliskan, “Merdeka 100%”, “Sekali Merdeka Tetap Merdeka!”, “Van Mook? No!”.
Dinding kereta api turut jadi sasaran para pelukis. ”Tak jarang kami diancam oleh peluru, tapi kami terus menyerbu dinding yang belum ditulisi. Kalau tak dapat siang hari, kami menyerbu malam hari,” ujar Nasjah.
Pada masa Agresi Militer I Belanda 21 Juli 1947, aksi coret-coret dan mural tak ketinggalan. Jepretan kamera fotografer Hugo Wilmar pada 27 Juli 1947 di Purwokerto mengabadikan mural sosok warga lokal memperlihatkan cangkul dan coretan “Sekali merdeka tetap merdeka”.
Mural lain yang dipotret Hugo Wilmar berada di dinding sebuah gedung di Mojokerto pada 18 Juli 1947. Dalam mural itu dilukiskan seorang republiken atau pejuang menusukkan pedang ke tentara Belanda.
Pada hari yang sama atau tiga hari sebelum Agresi Militer I Belanda, di Stasiun Mojokerto terdapat pula coretan bertuliskan, ”Kita menghormati semua orang yang menghormati kemerdekaan kita”.
Pekikan merdeka serta ajakan bersabar juga dijepret Hugo di tembok bangunan di Sukabumi pada 28 atau 29 Juli 1947.
Protes, kritik, dan kobaran semangat dalam lukisan dan aksi coret-coret seniman pada masa perjuangan kemerdekaan tak kalah dari desing peluru para pejuang di medan pertempuran bersenjata.
Para seniman memelihara dan terus menghidupkan semangat perjuangan rakyat melalui karya-karya di tembok kota, dinding kereta api, dan poster-poster gelap.
Kini, setelah 76 tahun merdeka, aksi kritik dalam mural dan coretan justru dihadapi petugas dengan ancaman pidana serta penghapusan karya. Seniman-senimannya malah diburu. Karya bukan dibalas karya, melainkan berbuah ancaman represif. Ironis.***
Source: Silahkan Klik Link Ini
Diterbikan: oposisicerdas.com
Foto: Mural pada masa revolusi kemerdekaan di sejumlah wilayah di Indoensia dalam buku Benedict Anderson berjudul Revolusi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946. /Pikiran Rakyat/Bambang Arifianto
Mural Kala Revolusi 1945, Palagan dengan Kuas dan Cat
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:
Reviewed by Admin Oposisi
on
Rating:


