Angka Mengerikan di Saat Presiden Jokowi Klaim Mampu Atasi Pandemi Covid-19
Angka mengerikan diungkap Direktur Eksekutif Indonesia Resilience (IRES), Hari Akbar Apriawa sebagai tanggapan pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi). Seperti diketahui, Jokowi dalam pidato kenegaraan mengklaim telah mampu mengatasi Pandemi Covid-19.
Dalam pidato kenegaraan pada sidang tahunan MPR RI, sejumlah poin terkait penanganan pandemi Covid-19 diungkap Presiden Jokowi.
Kata dia pandemi Covid-19 bisa terkendali jika masyarakat tetap menjaga kesadaran dan gotong royong soal protokol kesehatan.
Dia pun sangat berharap, Indonesia mendapatkan sebanyak mungkin vaksin Covid-19 untuk mendukung program pemerintah.
Kata dia, pentingnya vaksin bagi masyarakat harus didasari pada kesadaran akan pentingnya vaksin untuk kesehatan.
"Perang melawan Covid-19 tidak akan berhasil jika ketidakadilan akses terhadap vaksin masih terjadi," kata Jokowi.
Jokowi lantas meminta lembaga DPR dan pemeriksa memberikan dukungan kepada pemerintah. Hal ini penting untuk bergerak cepat dalam mengkonsolidasikan kekuatan fiskal.
Atas hal itu, Hari Akbar Apriawa justru melihat Presiden Jokowi terlalu pragmatis. Dia lantas mempertanyakan alasan Presiden tidak menyampaikan permintaan maaf atau belasungkawa pada keluarga korban meninggal akibat Covid-19.
Jelasnya, dengan angka yang begitu besar, yakni 120 ribu jiwa meninggal akibat Covid-19, Jokowi dinilai tak memiliki empati. Dalam keterangan, dia mengatakan sense of crisis Presiden Jokowi perlu dipertanyakan kembali dalam situasi sekarang ini.
“Rasa Empati, simpati, dan hormat tidak ditujukan kepada korban akibat pandemi yang sudah menelan 120 ribu jiwa,” kata Hari Akbar.
Lantas, tak luput dari sorotan Hari Akbar adalah klaim Presiden Jokowi yang mengatakan selama satu setengah tahun Indonesia dilanda pandemi, telah terjadi penguatan yang signifikan dalam perilaku dan infrastruktur kesehatan. Dia pun mengaku hal itu mendorong terjadinya penguatan kelembagaan nasional.
Kata Jokowi, kesadaran, partisipasi, dan kegotongroyongan masyarakat semakin menguat. Kemudian, kelembagaan pemerintahan lintas sektor dan lintas lembaga negara makin padu.
Lantas disinggung Presiden Jokowi, antara pusat dan daerah sampai dengan desa, mengalami konsolidasi. Tegas Jokowi, hal itulah yang membuat kapasitas sektor kesehatan meningkat pesat.
Jokowi antas mengklaim apa yang dilakukan pemerintah saat ini, semakin mampu menghadapi ketidakpastian yang tinggi dalam pandemi Covid-19.
Padahal kata Hari Akbar, fakta yang terjadi di lapangan, banyak rumah sakit yang mengalami collapse. Kemudian keterisian BOR mencapai 90-100 persen. Lalu, ada peningkatan kematian tenaga kesehatan. Terparah adalah situasi saat kelangkaan oksigen serta macetnya distribusi vaksin di beberapa daerah.
Hari Akbar memamerkan data terakhir yang terhimpun pada laman laporcovid19.org yang menyebutkan, ada 1.889 tenaga kesehatan (nakes) meninggal dunia.
Kemudian ada angka kematian di luar rumah sakit akibat kebijakan isoman yang mengalami peningkatan di bulan Juni-Juli 2021. Dari laman yang sama, menyatakan setidaknya ada 3.007 jiwa meninggal dunia akibat Covid-19 di luar rumah sakit.
Dia lantas menjelaskan, jika pemerintah harus membuat kebijakan-kebijakan yang lebih kompeten. Kemudian secara serius menyediakan layanan fasilitas kesehatan yang lebih adil dan merata.
Dia pun meminta hal-hal yang sifatnya adalah pemenuhan dasar hidup. Seharusnya, kata dia, menjadi sorotan utama pemerintah di masa krisis saat ini.***
Source: Silahkan Klik Link Ini
Diterbikan: oposisicerdas.com
Foto: Ilustrasi - Sejumlah tenaga pikul beristirahat setelah memakamkan jenazah dengan protokol Covid-19 di TPU Cikadut, Bandung, Jawa Barat, Selasa, 15 Juni 2021. Dalam pidato kenegaraan pada sidang tahunan MPR RI, sejumlah poin terkait penanganan pandemi Covid-19 diungkap Presiden Jokowi. Kata dia pandemi Covid-19 bisa terkendali jika masyarakat tetap menjaga kesadaran dan gotong royong soal protokol kesehatan. /
Angka Mengerikan di Saat Presiden Jokowi Klaim Mampu Atasi Pandemi Covid-19
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:
Reviewed by Oposisi Cerdas
on
Rating:

Tidak ada komentar