Jangan Juga Abai, DBD Tewaskan 208 Orang
Tatkala pemerintah tengah memfokuskan pada penanganan COVID-19, tanpa disadari jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) meningkat. Bahkan angka kematiannya pun jauh melebihi angkat kematian akibat virus baru Corona.
Menurut laporan terbaru yang didapat dari Kementerian Kesehatan periode Januari-Maret 2020 (23/3/2020), terdapatlebih dari 33.007 kasus DBD. Angka ini jauh di atas kasus COVID yang baru mencapai 514 kasus. Cuma yang berbeda sebarannya. Jika COVID lebih banyak menyebar di provinsi DKI Jakarta dan disusul dengan Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Sedangkan DBD lebih banyak terjadi di Jawa Barat dengan 5.894 kasus. Lalu diikuti Nusa Tenggara Timur dengan 3.543 kasus dan Lampung dengan 3.340 kasus. Di DKI Jakarta, kata Kepala Dinas Kesehatan Widyastuti, tercatat lebih dari dari 970-an kasus.
“Meski sedang hadapi pengendalian tentang Covid-19 (virus korona), kewaspadaan terhadap DBD tetap kita jaga," tutur Widyastuti.
Sementara itu, angka kematian sebanyak 208 orang banyak dijumpai Nusa Tenggara Timur dengan 39 kasus dan Jawa Barat 30 kasus. Angkanya di atas kematian COVID-19 yang baru berjumlah 48 kasus.
DBD memang tidak mendapat perhatian luas di dunia, karena DBD lebih banyak terjadi di Indonesia dan merupakan penyakit tahunan yang banyak muncul pada saat musim hujan. Di Eropa, Amerika Serikat, bahkan Cina serta Jepang, jarang dijumpai kasus tersebut. Ini karena DBD terkait dengan sanitasi yang kurang bersih, seperti air yang tergenang.
Meskipun sama-sama disebabkan oleh virus, DBD membutuhkan perantara nyamuk untuk penyebaran penyakit. Ada pun nyamuk penyebar penyakit itu adalah nyamuk Aedes aegypti, nyamuk yang juga menyebarkan virus West Nile yang sempat merebak di kawasan Amerika Serikat, beberapa bulan silam.
COVID lebih populer karena tak memerlukan perantara binatang, meskipun pada mulanya dikabarkan virus bari Corona (SARS CoV-2) itu hidup dan menginfeksi kalelawat di Wuhan, Cina. Lewat percikan air ludah dan napas, virus itu bisa menempel ke tubuh atau pakaian manusia.
Meskipun kalah populer belakangan ini, bukan berarti pengananan DBD tak bisa diabaikan. Bahkan harus lebih diperhatikan. Ini karena banyak pasien DBD yang juga menderita COVID.
“Tentu perlu diwaspadai walaupun belum ada kajian ilmiah tentang kemungkinan adanya koinfeksi dua virus. Infeksi yang terjadi dua virus bisa dialami oleh satu orang,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi. [ts]
Foto : Nyamuk Aedes aegypti (Istimewa)
Jangan Juga Abai, DBD Tewaskan 208 Orang
Reviewed by Admin
on
Rating:
Reviewed by Admin
on
Rating:

Tidak ada komentar