Breaking News

Bukan karena Pergantian Komisaris BSI ke Felicitas, Penarikan Dana Muhammadiyah Sudah Jadi Wacana Besar Sejak 2020 Silam, Kenapa?


Penarikan dana sebesar 13 triliun rupiah yang dilakukan oleh Muhammadiyah dari Bank Syariah Indonesia (BSI) jadi sorotan.

Bahkan pengalihan dana Muhammadiyah ke bank syariah lain telah menjadi topik hangat di berbagai platform media sosial, memunculkan berbagai asumsi publik.

Menanggapi hal ini, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UM Sumbar), Fitri Kurnia, S.E, M.Sc, memberikan pandangan terkait isu yang diperbincangkan tersebut.

Dampak Penarikan Dana

Fitri Kurnia menilai bahwa dampak pengalihan dana sebesar 13 triliun rupiah terhadap BSI mungkin tidak signifikan.

BSI memiliki aset besar dengan total dana pihak ketiga mencapai 291,86 triliun rupiah hingga Mei 2024 dan FDR sebesar 85,72 persen.

Penarikan dana 13 triliun hanya berkisar 4,4 persen dari total DPK yang dimiliki BSI, sehingga jumlah tersebut tidak akan terlalu mempengaruhi operasional BSI.

Namun, yang perlu diantisipasi adalah penarikan dana oleh anggota Muhammadiyah dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Pasca keputusan penarikan dana dari BSI, PP Muhammadiyah menginstruksikan AUM untuk memindahkan dana dari BSI.

Kemungkinan terburuk dari realisasi instruksi ini adalah ‘rush money’, yaitu penarikan uang secara serentak dalam jumlah besar, yang bisa mengganggu stabilitas keuangan BSI.

Wacana Penarikan Dana

Fitri Kurnia mengungkapkan bahwa wacana penarikan dana Muhammadiyah sudah dimulai sejak tahun 2020.

Hal ini karena setelah merger, BSI menjadi bank yang besar dan kuat serta berfokus pada pembiayaan skala besar.

Pendekatan ini belum sepenuhnya mendukung komitmen Muhammadiyah dalam mengembangkan segmen UMKM, yang menjadi salah satu prioritas mereka.

Mengelola Risiko Likuiditas

Penarikan dana besar-besaran oleh Muhammadiyah bisa mempengaruhi likuiditas BSI, mengganggu operasionalnya.

BSI perlu memperkuat tata kelola dan manajemen risiko dalam menghadapi krisis likuiditas ini.

Selain itu, BSI harus mengelola profitabilitas dengan efektif melalui peningkatan nisbah bagi hasil agar menarik bagi nasabah, serta mengelola dana dengan bijak untuk mempertahankan kemampuan memberikan pembiayaan dan meraih pendapatan.

BSI juga perlu membangun komunikasi yang baik dengan nasabah untuk mengurangi kekhawatiran terkait stabilitas keuangan BSI.(*)

Sumber: kilat
Foto: Kolase Felicitas Tallulembang dan Muhammadiyah (Instagram/@_dr.felicitas dan Twitter/@muhammadiyah)
Bukan karena Pergantian Komisaris BSI ke Felicitas, Penarikan Dana Muhammadiyah Sudah Jadi Wacana Besar Sejak 2020 Silam, Kenapa? Bukan karena Pergantian Komisaris BSI ke Felicitas, Penarikan Dana Muhammadiyah Sudah Jadi Wacana Besar Sejak 2020 Silam, Kenapa? Reviewed by Oposisi Cerdas on Rating: 5

Tidak ada komentar